Berita

Iwan Sulaiman Soelasno/IST

X-Files

Penolakan Jokowi terhadap Pinjaman Bank Dunia, Baik untuk Otonomi Daerah

SELASA, 23 APRIL 2013 | 19:48 WIB

PEMERINTAH Provinsi DKI Jakarta akhirnya membatalkan pinjaman Bank Dunia untuk program penanganan banjir melalui Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI) atau program pengerukan saluran, sungai, dan waduk. Klausul perjanjian yang ditetapkan Bank Dunia dinilai memberatkan Pemprov DKI. Program JEDI akan tetap diteruskan oleh Pemprov DKI Jakarta dengan menggunakan dana dari APBD Provinsi DKI Jakarta.

Apapun alasannya, sikap tegas Pemprov DKI Jakarta dibawah kepemimpinan Jokowi-Basuki ini harus diapresiasi oleh semua kalangan. Mengingat selama ini dalam 17 tahun pelaksanaan otonomi daerah persoalan yang kerap muncul adalah seputar penggunaan APBD yang hampir 70 persen digunakan untuk kepentingan biaya rutin pemerintahan dibanyak pemerintahan daerah. Kalau boleh diistilahkan, habis untuk biaya 'tukang'.

Bahkan, pernah sebuah surat kabar nasional melansir berita pada akhir tahun lalu bahwa biaya makan suatu pemerintah daerah bisa mencapai satu milyaran. Biaya rutin berkisar 70 persen dari ABPD dan biaya pembangunan hanya 30 persen. Idealnya persentase biaya rutin seharusnya lebih kecil dan biaya pembangunan  lebih besar. Itulah wajah pelaksanaan otonomi daerah kurun 17 tahun terakhir ini.


Sejatinya ABPD itu harus berorientasi pada peningkatan kesejahteraan rakyat dan digunakan untuk pembiayaan pembangunan pro rakyat. Dalam konteks post good governance, Sikap Jokowi menolak Bank Dunia kemudian memaksimalkan APBD untuk melanjutkan proyek pengerukan 13 sungai dalam kurun waktu 5 tahun kedepan merupakan upaya Pemprov DKI Jakarta menempatkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tidak hanya dilihat dari sisi penerimaanya yang mengedepankan pentingnya kemandirian pendapatan dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), tetapi juga dalam sisi pengeluarannya.

Pemprov DKI Jakarta dalam posisi penyelenggara negara sebagai distributor (amil/pamong praja) harus mengedepankan alokasi  anggaran pelayanan publik  sebagai core utama dan mencegah terjadinya inefisiensi penggunaan dana guna melayani diri sendiri (self-servicing). Disini posisi negara yaitu Pemprov DKI Jakarta berfungsi sebagai protektor terhadap rakyat dalam memenuhi hak-hak dasarnya (pendidikan, kesehatan dsb).  

Pengerukan 13 sungai yang sudah dilakukan oleh gubernur sebelumnya Fauzi Bowo dan diteruskan oleh Jokowi merupakan agenda pembangunan yang teramat penting bagi rakyat DKI Jakarta untuk terhindar dari bahaya banjir yang senantiasa mengancam setiap tahunnya. Hanya saja Jokowi telah menggunakan paradigma harga diri (self esteem) dan kemandirian (independence) yang dijadikan sebagai landasan utama untuk memahami dan mengelola dana APBD sebagai uang rakyat, khususnya dalam mensikapi hak-hak dasar rakyat dalam bentuk pelayanan publik. Sehingga sudah selayaknya kebijakan JEDI ini diteruskan pelaksanaannya dengan memaksimalkan dana APBD yang ada dan memaksimalkan pula pengawasan yang dilakukan oleh DPRD dan rakyat DKI Jakarta.

Penolakan Jokowi terhadap pinjaman Bank Dunia dengan memaksimalkan dana APBD merupakan angin segar bagi pelaksanaan otonomi daerah kedepannya. Penggunaan dan pengelolaan dana APBD secara efektif merupakan suatu keharusan. Pelaksanaan otonomi daerah yang akan berusia 17 tahun pada 25 April nanti, sejauh ini masih dipusingkan dengan problematika anggaran daerah yang tertuang dalam APBD. Semoga saja rencana Jokowi untuk benar-benar memaksimalkan dana APBD Provinsi DKI Jakarta untuk prioritas pembangunan ini diikuti oleh pemerintah daerah lainnya. Sebab, daerah kuat maka negara juga akan kuat. Semoga.

 Iwan Sulaiman Soelasno, M.Kessos

Direktur Kajian Otonomi Daerah, SUN Institute

 


Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Gandeng Boulevard Coffee, Bank Syariah Nasional Perkuat Ekosistem Transaksi Masyarakat

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 17:23

15 Tahun Mengaspal, 70 Mitra Driver Dapat Hadiah Umrah dari Gojek

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 16:11

AADI Laporkan Pengalihan Saham Hasil Buyback Lewat Bursa

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 15:12

Kebakaran di Belakang RS PIK, Asap Tebal Membubung

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 15:11

Peradi Profesional Jakarta Dilantik, Harris Arthur: Integritas Adalah Marwah Advokat

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 15:02

Purbaya Girang, Danantara Setor Dividen Rp120 Triliun ke Kas Negara

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 14:56

Chevron Siap Perluas Proyek Minyak di Venezuela

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 14:39

Kuota Internet Tak Boleh Hangus, Operator Wajib Beri Pilihan

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 14:26

Amandemen UUD 1945 Didahului Pemufakatan Jahat

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 14:12

Aktivis Senior Ingatkan Sudah Saatnya Kembali ke UUD 1945 Asli

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 13:39

Selengkapnya