Berita

AHMAD RIZALI/IST

X-Files

UN: Religiusitas dan Irasionalitas

Oleh: Ir. Ahmad Rizali*
SELASA, 23 APRIL 2013 | 11:32 WIB

Sejak beberapa pekan lalu hingga saat ini kegaduhan Ujian Nasional (UN) menghiasi berita semua media nasional. Terlebih lagi ketika terjadi kekacauan pengiriman soal dan jawaban UN sehingga 11 provinsi menunda UN jenjang SMA dan sederajat hingga beberapa hari kemudian. “Talkshow” tentang kekacauan UN menjadi topic ngetren di seluruh media elektronik pada waktu utama.

Menteri Dikbud meminta maaf sambil menyalahkan penerbit yang terlambat mencetak dokumen negara yang tertulis "Sangat Rahasia" itu, kemudian mengijinkan panitia lokal memfotokopinya agar UN tetap berjalan.

Selain dorongan luar biasa yang memaksa UN terus berjalan apapun yang terjadi, yang tidak kumengerti apakah dorongan itu? Saya baru mengerti kenapa UN itu dianggap maha penting, kita dapat menyimak pernyataan menteri M. Nuh  “jika tanpa UN bagaimana cara mengetahui kemampuan murid…”.  Ternyata M. Nuh menganggap UN adalah cara terbaik untuk mengetahui sejauh mana murid menguasai pelajaran yang diberikan kepada mereka selama 3 Tahun di SMP/SMA/SMK dan sederajat dan 6 Tahun di SD/MI. Mereka yang mengerti hakikat tes dan asesmen murid, tentu tersenyum mendengar dan membaca pendapat Mendikbud ini.


Yang pasti, UN itu mendorong murid dan guru semakin saleh. Sembahyang dhuha dan hajat yang awalnya sangat jarang bahkan nyaris tak pernah diketahui oleh murid dan guru, saat ini sebelum UN berlangsung dilakukan berjamaah. Ada pula yang semakin rajin sembahyang tahajud. Singkat kata, semua manusia yang terkait langsung dengan UN menjadi sangat religius.

Tak cukup dengan upaya ritual agama seperti doa berjamaah (istighosah), mereka juga mencari perantara atau tawasul agar doanya sampai kepada Allah SWT. Ada yang berkunjung ke tokoh agama minta air doa, “suwuk” pensil 2B hingga minta air celupan tangan ponari yang menggenggam batu sakti. Saya yakin ada pula yang ber-tawasul ke makam keramat para wali dan tokoh yang sangat dihormati. UN terbukti memantik dan mendorong serta menumbuhkembangkan sikap religius sekaligus irasional, padahal UN sendiri sangat rasional yaitu upaya untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan yang diserap oleh murid sekolah saat diuji.

UN bersamaan dengan peringatan Hari Kartini yang tentu sedang dilupakan hiruk pikuknya di sekolah demi UN. Kartini penulis Habis Gelap Terbitlah Terang atau "mina dzulumati ila nur" itu jika masih hidup tentu hanya bisa geleng geleng kepala dan menggerutu “Lha kok bangsaku yang aku upayakan mati matian menulis surat gagasan sampai tanganku kesemutan agar pikirannya terang kok malah melakukan hal gelap, suratku bisa berubah jadi Habis Terang Terbitlah Gelap atau mina nur ila dzulumat dong …….".

Saya ikut membayangkan, jika UN diselenggarakan setiap bulan, alangkah gegap gempitanya ulah murid dan guru mempraktekkan religiusitas, tanpa disuruhpun masjid akan penuh dengan murid sedang sembahyang dhuha, istighozah bisa terselenggara setiap dua pekan sekali dan tentu tokoh tawasulers laku keras, penjual bunga di makam keramat tersenyum riang dagangannya laku keras.


*Dewan Pembina Ikatan Guru Indonesia (IGI)
Direktur Program Pendidikan Pertamina Foundation




Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Sandy Rio Kuahaty Nakhodai GAMKI Jakut 2026-2029

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:26

Bawaslu Dorong Transformasi Digital dari Administrasi ke Pengawasan Berbasis Risiko

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:23

Kementerian HAM Perluas Akses Pendidikan Tak Hanya untuk ASN

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:14

Reformasi Kelistrikan Penting untuk Capai Ekonomi 8 Persen

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:01

Menkop Kukuhkan Yudi Azis sebagai Rektor IKOPIN Periode 2026–2031

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:44

Bahas Keamanan hingga Lapangan Kerja

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:42

Meracik Horor Komedi di Film Ghosthing, Ini Pandangan Peter Surya Wijaya

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:41

Tanggapi Survei Celios, Gibran Janji Kerja Lebih Baik

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:35

Mantan Pj Gubernur Sulsel Bantah Cawe-cawe Pengadaan Bibit Nanas

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:31

APBD DKI 2027 Diusulkan Rp82,89 Triliun, Naik 4,18 Persen

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:20

Selengkapnya