Di tengah ancaman perang di Semenanjung Korea, Korea Utara (Korut) merilis gambar terbaru mengenai prajurit perempuan bersepatu tinggi atau high heels. Mereka digambarkan sebagai salah satu prajurit yang siap membela Pemimpin Korut Kim Jong-un.
Semua mata kini tertuju kepada Korut, tidak terkecuali anggota kelompok negara maju, G-8. Dalam pertemuan yang dipimpin Menteri Luar Negeri Inggris William Hague di London, Inggris, G-8 menyatakan kekhawatirannya atas kondisi terbaru Korut.
Bersama anggota G-8 lainnya- Amerika Serikat, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang dan Rusia, membahas cara untung mengurangi ketegangan yang terjadi di Semenanjung Korea.
Dalam pertemuan G8 Kamis (11/4), Menlu Rusia Sergey Lavrov menjadi salah satu pihak yang mendapatkan desakan terbesar untuk membujuk Korut. Sebab, seperti China, Rusia adalah sekutu dekat Korut.
Sedangkan Menlu Jerman Guido Westerwelle menyebutkan, anggota G8 harus menentukan sikap atas retorika perang Korut.
Namun, kini perhatian tertuju pada gambar prajurit-prajurit wanita Korut yang berjaga di sepanjang Sungai Yalu di kota Sinuju. Kota tersebut adalah lokasi yang berbatasan langsung dengan China, salah satu wilayah menyeberang bagi turis yang ingin berwisata ke Korut.
Namun, kini pemerintah Korut sudah melarang seluruh wisatawan asing masuk ke negeri mereka. Meski demikian, Korut masih memperbolehkan pebisnis asing masuk ke negeri mereka.
Kini, gambar pasukan cantik yang bersumpah akan menjaga Kim muda mengingatkan publik kembali dengan pasukan cantik, berkacamata hitam dan sepatu boot tinggi, yang merupakan pasukan khusus bekas diktator Libya, Moamar Khadafi.
Wanita diperkirakan mengisi 10 persen dari total pasukan militer Korut. Banyak artileri yang diletakkan di perbatasan justru diawasi pasukan wanita. Lagu-lagu propaganda bahkan banyak didengarkan untuk menarik lebih banyak wanita yang ingin ditempatkan di artileri di sepanjang garis pantai dan perbatasan.
Salah satu bekas instruktur di kamp pelatihan mliter wanita Korut, Kim Ok-hee (28). Dia bertugas di kamp pelatihan untuk mempersiapkan wanita yang akan diletakkan di perbatasan sepanjang garis pantai antara Korut dan Korsel.
Mereka yang memiliki wajah menarik dan latar belakang keluarga berpengaruh akan ditempatkan di lokasi yang lebih menguntungkan seperti divisi kesehatan, sementara sisanya akan ditempatkan di divisi artileri.
“Di unit saya, semua pilot pengebom IL-28 adalah wanita dan banyak dari pilot AN-2 wanita. Mereka disebut Kim Jong-un sebagai senjata mematikan miliknya,†jelas Choi Young-il (38) yang bertugas sebagai mekanik di Angkatan Udara Korut.
Di tengah konflik di Semenanjung Korea, mencuat spekulasi mengenai perang
cyber. Menurut pengamat
cyber attack asal Findlandia, Jarni Limnell, kemungkinan perang cyber antara Korut dan Korsel akan meningkat.
“Perang di dunia maya ini sangat mudah mencetuskan kemungkinan perang di dunia nyata,†penilaian Limnell, ahli ilmu militer dan keamanan dunia maya di Stonesoft.
Kepada
Huffington Post, Limnell menuduh Korut telah melakukan serangan di dunia maya kepada sekitar 32 ribu server komputer Korsel. Serangan cyber ini menyerang perbankan dan kantor penyiaran Korsel.
Sebaliknya,
hacker Korsel kini sudah menargetkan Kim Jong-un sebagai sasaran.
“Efek samping dari perang cyber ini masih belum bisa dilihat. Namun, efeknya akan mempercepat rentetan peristiwa di dunia nyata. Yang mungkin akan berujung dengan perang besar,†imbuh Limnell.
Terpisah, Letnan Satu Korut dengan marga Kim, yang kini sudah melarikan diri dari Korut, menyebutkan bahwa terjadi pertikaian di badan militer Korut ketika Kim Jong-un berkuasa.
“Ada dua kubu. Satu pihak mendukung Kim Jong-un sebagai pemimpin baru dan ada juga pihak seperti kami yang tidak suka. Kami bertikai dan saya sudah menembak seorang komandan,†terang Kim.
Kepada
The Daily Telegraph, Kim menyangsikan Kim Jong-un mampu menguasai dan mengontrol pasukan Korut yang berjumlah hingga 1,2 juta personel.
“Dia masih terlalu muda dan tidak memiliki pengalaman. Dua benar-benar berusaha keras untuk memenangkan hati pasukan dengan sering berkunjung ke kamp militer dan tempat latihan,†kata salah satu pembelot Korut, yang juga adalah bekas mata-mata handal Korut Kim Hyun-hee.
Meski warga asing sudah diperingatkan pemerintah Korut untuk segera meninggalkan Korsel, tidak banyak yang mengindahkan peringatan tersebut. Meski demikian, Korsel dan AS masih menduga Bahwa Korut akan melakukan uji coba rudal dengan jarak jelajah hingga 3.000 km.
Menteri Luar Negeri Korsel Yung Byung-se di parlemen mengatakan bahwa kemungkinan Korut menembakkan misilnya sangat besar. “Terutama lagi di saat mereka ditekan seperti ini,†pungkas Yun. [Harian Rakyat Merdeka]