Berita

Dubes RI Djauhari: Rusia Telah Berubah, Indonesia Harus Ubah Persepsi

SELASA, 26 MARET 2013 | 05:23 WIB | LAPORAN:

Republik Federasi Rusia dulu dan kini benar- benar berbeda. Dengan pertumbuhan ekonomi melesat 4 persen setiap tahunnya, Rusia yang 10 tahun lalu dikenal sebagai Uni Soviet yang tercabik-cabik, mampu memobilisasi kekuatannya kembali.

Di bawah kepemimpinan Vladimir Putin, negara berpenduduk 146 juta itu pun tercatat sebagai pemain global, anggota  Dewan Keamanan  PBB, negara nuklir, negara minyak dan kekuatan ekonomi ketujuh di dunia.

"Prioritas pemerintahan Vladimir Putin melihat ke Kawasan Timur Jauh dan Asia Timur, ciptakan tatanan regional baru dengan pemain baru dunia RRC, Amerika dan Rusia," kata Dubes RI untuk Rusia, Djauhari Oratmangun dalam kunjungan ke redaksi Rakyat Merdeka, Senin (25/3).


Menurut Djauhari, refleksi yang terjadi dari bangunnya kekuatan baru ekonomi di kawasan Timur Jauh dan Asia Timur, seperti mengulang lagi situasi di tahun 50-60 an, ketika ada poros Jakarta-Peking dan Moskow. "Semua ini mesti diantisipasi dengan mengubah persepsi kita tentang Rusia," terangnya.

Dijelaskannya, salah satu yang menarik dengan Rusia, bagaimana semangat kebebasan beragama diberikan dan berkembangnya masyarakat multikuktural dimana Masjid dan Gereja dihidupkan.

"Rusia itu sudah comingback economynya dan  siap bergaul secara internasional," terangnya.

Menurut Djauhari, Rusia dan Indonesia dapat
bekerjasama untuk pembangunan keamanan dan ekonomi di Asia jauh. Apalagi, ada banyak kajian dari bekas mahasiswa Indonesia yang pernah belajar di sana di era
tahun 1950 dan 1960-an terutama di lima universitas di negara itu. Sekalipun saat ini hanya tercatat ada 500 orang Indonesia di Rusia termasuk para staf di Kedubes RI, tapi Indonesia sangat dikenal di Rusia.

"Hubungan antarbudaya dan daya rekatnya luarbiasa. Hubungan ekonomi dan politik tidak serta merta sirna," terangnya.

Dia pun menceritakan delegasi dagang swasta Rusia yang datang ke Indonesia mengolah tambang.

"Bukan ambil mineral tapi mengolah bauksit jadi alumunium. Nantinya, kelolaan ini akan menjadikan produk dengan value added (nilai tambah) yang tinggi.Begitu juga ada kerjasama energy minyak dan gas serta banyak hal lain. Kita musti mengubah persepsi terhadap Rusia yang makin terbuka dalam tatanan dunia, sehingga Rusia jadi partner Indonesia," katanya. 

Salah satu diplomat yang pernah bertugas di Rusia, M Aji Surya yang sekarang berkarier di Kemenlu menambahkan, kerjasama dengan Rusia harus dirintis sejak sekarang.

"Kalau tidak, kalau Rusia ibarat kue sudah habis. Umat Islam di Rusia ada 25 juta sudah dimasukin dari berbagai sisi, mulai Iran, Turki, Malaysia. Nah, bagaimana kita merangkul umat Islam yang multikultur sama seperti di Indonesia," terangnya. [zul]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya