RMOL.PARA pimpinan PT Jasa Marga (Persero) Tbk belakangan harus memeras otak lebih keras. Dua tugas khusus amat mendesak untuk dicarikan jalan keluar: mengatasi kemacetan di jalan tol dan mengubah sistem pembayaran di pintu-pintu tol. Begitu khususnya, sampai-sampai hampir seminggu sekali saya tagih kemajuannya.
Untuk mengatasi kemacetan memang tidak gampang. Tapi setidaknya sudah berhasil diinventarisasikan di titik-titik mana saja kemacetan itu terjadi dengan parahnya. Ada dua jenis kemacetan. Yang bisa diselesaikan cepat dengan langkah yang sederhana, dan yang harus melalui jalan yang panjang. Maka fokus diberikan kepada yang bisa cepat-cepat dilakukan.
Misalnya kemacetan di jalan layang Tomang dari arah Kebon Jeruk. Ternyata banyak lubang di ketinggian yang sulit dijangkau itu. Aneh juga di ketinggian seperti itu bisa banyak lubangnya. Akibatnya semua kendaraan melakukan pengereman mendadak. Macet.
Hanya saja saya memang sudah lama ingin melakukan ini: cuci otak. Sejak masih jadi DiÂrektur Utama Perusahaan Listrik Negara dulu. Keinginan itu terÂtunda terus oleh kesibukan yang padat, terutama setelah menjadi Menteri BUMN. Bahkan keÂingiÂnan untuk coba-coba melaÂkukan
stemcell pun tertunda sampai sekarang.
Mencoba merasakan cuci otak ini bisa dianggap penting, bisa juga tidak. Saya ingin menÂcobanya karena ini merupakan metoda baru untuk memÂbeÂrÂsihÂkan saluran-saluran darah di otak. Agar terhindar dari bahaya stroke atau pendarahan di otak. Dua bencana itu biasanya daÂtang tiba-tiba. Kadang tanpa geÂjala apa-apa. Dan bisa menimpa siapa saja.
Saya tahu metode cuci otak Dokter Terawan ini masih konÂtroÂversial. Kalangan dokter maÂsih terbelah pendapat mereka. Masih banyak dokter yang beÂlum bisa menerimanya sebagai bagian dari
medical treatment.Pengobatan model Dokter TeÂraÂwan, ahli radiologi yang berÂumur 48 tahun, yang berpartner dengan dokter Tugas, ahli syaraf yang berumur 49 tahun, ini masih terus dipersoalkan. Dia masih sering “diadili†di rapat-rapat profesi kedokteran.
Saya terus mengikuti perÂkembangan pro-kontra itu. TerÂmasuk ingin tahu sendiri secara langsung seperti apa cuci otak itu. Dengan cara menjalaninya. KeÂsemÂpatan itu pernah datang tapi beberapa kali tertunda. Ini karena ada pasien yang lebih menÂdesak untuk ditangani. SebaÂgai orang sehat saya harus mengalah.
Kamis malam lalu keseÂmÂpatan itu datang lagi. Usai sidang kabinet di Istana, saya langsung masuk RSPAD Gatot Subroto. Berbagai pemeriksaan awal dilaÂkukan malam itu: peÂriksa darah, jantung, paru dan MRI. Dan yang juga penting diÂlakukan dokÂter Tugas adalah ini: pemeÂtaan syaÂraf otak. BeÂbeÂrapa test dilakukan. Untuk meÂngetahui kondisi syaraf mauÂpun fungsi otak.
Keesokan harinya, pagi-pagi, saya sudah bisa menjalani cuci otak di ruang operasi. Saya suÂdah tahu apa yang akan terjadi kaÂrena dua minggu sebelumnya istri saya sudah lebih dulu menÂjaÂlaninya. Saat itu saya meÂnyakÂsikan dari layar komputer.
Cuci otak ini dimulai dengan iriÂsan pisau di pangkal paha. Saat mengambil pisau, seperti biasa, adalah saat dimulainya Dokter Terawan menyanyikan lagu keÂsukaannya:
Di Doa Ibuku. Perhatian saya pun terbelah: mendengarkan lagu itu atau siap-siap merasakan torehan pisau ke pangkal paha yang tidak dibius. Tiba-tiba Dokter Terawan meÂngeÂraskan suaranya yang meÂmang merdu. Saya pun kian memperhatikan lagu itu.
Saat puncak perhatian saya ke lagu itulah rupanya Dokter TeraÂwan menorehkan pisaunya. TiÂpuan ini berhasil membuat rasa sakit hanya melintas sekilas. Dan Dokter Terawan terus menyanyi:
Di waktu masih kecil
Gembira dan senang
Tiada duka kukenang
Di sore hari nan sepi
Ibuku berlutut
Sujud berdoa
Kudengar namaku disebut
Di doa ibuku
Sebuah lagu yang isinya kuÂrang lebih saya alami sendiri saat saya masih kecil, sebelum ibu saya meninggal saat saya berÂumur 10 tahun. Otomatis perÂhaÂtiÂan saya ke lagu itu. Itulah cara DokÂter Terawan membius pasiennya.
Saya jadi teringat saat memaÂsuki ruang operasi menjelang ganÂti hati enam tahun yang lalu di RS Tianjin, Tiongkok. Ruang operasi dibuat hingar bingar oleh lagu rock yang lagi top-topnya saat itu di sana:
Mei Fei Se Wu, yang berarti bulu mata menari-nari. Sebelum lagu berbahasa mandarin itu berakhir saya sudah tidak ingat apa-apa lagi: saya dimatikan selama 13 jam.
Demikian juga Dokter TeraÂwan. Sambil terus menyanyikan
Di Doa Ibuku ia mulai meÂmaÂsukÂkan kateter dari luka di pangÂkal paha itu. Lalu mendorongnya menuju otak. Kateter pun terlihat memasuki otak kanan. “Sebentar lagi akan ada rasa seperti mint,†ujar Terawan.
Benar. Di otak dan mulut saya terasa “pyar†yang lembut diÂsertai rasa mentos yang ringan. Itulah rasa yang ditimbulkan oleh cairan pembasuh yang disemprotkan ke saluran darah di otak. “Rasa itu muncul karena sensasi saja,†katanya.
Hampir setiap dua detik terasa lagi sensasi yang sama. Berarti Dokter Terawan meÂnyemÂprotÂkan lagi cairan pembasuh lewat lubang di dalam kateter itu. Saya mulai menghitung berapa “pyar†yang akan saya rasakan. Kateter itu terus menjelajah bagian-baÂgian otak sebelah kanan. Pyar, pyar, pyar. Lembut. Mint. TerÂnyata sampai 16 kali.
Begitu dokter mengatakan pembersihan otak kanan sudah selesai saya melirik jam. Kira-kira delapan menit. Kateter lanÂtas ditarik. Ganti diarahkan ke otak kiri. Rasa “pyar-mint†yang sama terjadi lagi. Saya tidak menghitung. Perhatian saya berÂalih ke pertanyaan yang akan saya ajukan seusai cuci otak nanti: mengapa dimulainya dari otak kanan?
Usai mengerjakan semua itu, Terawan menjawab. “Karena terjadi penyumbatan di otak kiri Bapak,†katanya.
Hah? Penyumbatan? Di otak kiri? Mengapa selama ini tidak terasa? Mengapa tidak ada gejala apa-apa? Mengapa saya seperti orang sehat 100 persen?
Dokter Terawan, kolonel TNI AD yang lulusan Universitas GaÂjah Mada Yogyakarta dengan spesialisasi radiologi dari Universitas Airlangga Surabaya itu, lantas menunjuk ke layar komputer. “Lihat sebelum dan sesudahnya,†ujar Terawan.
Sebelum diadakan pencucian, terlihat satu cabang saluran daÂrah yang ke otak kiri tidak tamÂpak di layar. “Mestinya bentuk saluran darah itu seperti lambang Mercy. Tapi ini tinggal seperti lambang Lexus,†katanya.
Setiap orang ternyata meÂmiÂliki lambang Mercy di otaknya. “Nah, setelah yang buntu itu dijebol lambang Mercynya suÂdah kembali,†katanya sambil meÂnunjuk layar sebelahnya. JeÂlas sekali bedanya.
Karena saluran yang buntu itu maka beban gorong-gorong di otak kanan terlalu berat. “Lama-lama bisa terjadi pembengkakan dan pecah,†katanya. “Lalu terjadilah perdarahan di otak,†tambahnya.
Alhamdulillah. Puji Tuhan. Saya pun langsung teringat Pak SuÂmaryanto Widayatin, Deputi Menteri BUMN bidang InÂfraÂstruktur dan Logistik yang hebat itu. Yang juga ketua alumni ITB itu. Yang idenya banyak itu. Yang terobosan birokrasinya taÂjam itu. Sudah hampir setahun terÂbaring tanpa bisa bicara dan hanya sedikit bisa menggeÂrakÂkan anggota badan.
Saluran darah ke otaknya peÂcah justru di tengah tidurnya menÂjelang dini hari. Saya sungÂguh menyesal tidak meÂnyaÂranÂkanÂnya ke Terawan sebelum itu. Penyesalan panjang yang tidak berguna. Kini, setelah perawatan yang panjang oleh istrinya yang hebat, Pak Sum memang terlihat kian segar dan pikirannya tetap hidup bergairah, tapi masih perlu banyak waktu untuk bisa bicara.
Setelah cuci otak ini berhasil membersihkan gorong-gorong yang buntu, saya kembali ke kaÂmar. Kaki tidak boleh bergerak selama tiga jam. Tapi sore itu saya sudah bisa terbang ke SuÂrabaya. Untuk merayakan imlek bersama masyarakat Tionghoa dan besoknya mengadakan khaÂtaman Al Quran bersama para
hufadz di rumah saya.
Tiap hari Dokter Terawan siÂbuk dengan antrean yang panÂjang. Ada yang karena sakit ada juga yang karena ingin tetap seÂhat. Bagi yang cito! akan langÂsung diÂtangani. Tapi bagi yang sehat anÂtrenya sudah mencapai tiga bulan. Ini karena hanya seÂkiÂtar 15 orang yang bisa diÂtaÂngaÂni setiap hari. Lebih dari itu bisa-bisa Terawan sendiri yang akan meÂngalami pendarahan di otaknya.
Belum diterimanya metode ini oleh dunia kedokteran di seluruh dunia membuat gerak Terawan terbatas. Misalnya tidak bisa seÂcara terbuka mengajarkan ilmuÂnÂya itu ke dokter-dokter lain agar antrean tidak terlalu panjang. Sampai hari ini baru dialah satu-satunya di dunia yang bisa meÂlakukan cara ini.
Kalau profesi dokter tidak seÂgera bisa menerima metode ini, jangan-jangan Persatuan InÂsiÂnyur Indonesia yang akan segera mengakuinya. Anggap saja TeraÂwan ahli membersihkan gorong-gorong yang buntu. Hanya saja goÂrong-gorong itu letaknya tidak di Bundaran HI.