Berita

ilustrasi, kusta

Kesehatan

Bercak Putih Di Kulit Disertai Kesemutan Tanda Terkena Kusta

Ngeri, Penderita Lepra Indonesia Peringkat Ketiga Di Dunia
JUMAT, 22 FEBRUARI 2013 | 08:19 WIB

.Bercak-bercak putih di kulit dan disertai rasa kesemutan pada anggota badan harus diwaspadai. Sebab, itu tanda-tanda penyakit kusta atau lepra. Minimnya fasilitas kesehatan dan perilaku sehat juga menambah angka penderita kusta semakin tinggi.

Kusta adalah penyakit infeksi menular kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Le­prae. Kusta merupakan pe­nya­kit menahun yang menyerang saraf tepi, kulit dan organ tubuh manu­sia, yang dalam jangka panjang bisa menyebabkan se­ba­gian or­gan tu­buh penderita tidak dapat ber­fungsi sebagai­mana mestinya.

Tanda-tanda penderita kusta juga bisa dilihat dari adanya ber­cak putih di kulit, merah dan ba­gian tubuh tidak berkeringat. Bah­kan, Indonesia masuk negara penyumbang nomor tiga tertinggi penyakit kusta di dunia, setelah India sebanyak 127.295 kasus dan Brasil sekitar 33.955 kasus.


Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi menuturkan, pi­hak­nya tengah fokus dalam upa­ya pengendalian kusta dengan mem­berikan fasilitas kesehatan dan edukasi akan bahaya kusta se­belum terjadinya kecacatan.

“Saat ini, kesadaran untuk me­lakukan pola hidup sehat dan ber­sih masih minim. Ditambah, fak­tor kemiskinan turut andil men­jadi penyebab tingginya jumlah pengidap kusta,” kata Nafsiah dalam acara peringatan Hari Kus­ta Sedunia ke-60 yang ber­tajuk ‘Hapus Stigma dan Diskri­minasi terhadap Kusta’ di Rumah Sakit Kusta dr Sitanala, Tange­rang, Rabu (13/2).

Kondisi sanitasi yang buruk dan belum gencarnya edukasi kesehatan mengenai penyakit kus­ta, lanjut Nafsiah, masih men­jadi kendala dalam mengu­rangi jumlah penderita.

Nafsiah mengatakan, saat ini pihaknya fokus untuk me­ngu­ra­ngi jumlah kasus di kantong-kan­tong endemis. Caranya, de­ngan melakukan promosi Pe­ri­la­ku Hi­dup Bersih dan Sehat (PHBS).

“Tenaga kesehatan di tingkat Puskesmas digerakkan untuk me­­lakukan edukasi dan pe­nye­baran informasi hidup bersih dan sehat langsung kepada mas­ya­ra­kat,” jelas Nafsiah.

Menkes menjelaskan, bakteri kusta banyak bersarang pada kulit dan mukosa hidung manu­sia. Ku­man kusta memiliki masa in­ku­basi 2-5 tahun. Belum di­ke­tahui secara pasti bagaimana cara pe­nularan kuman kusta.

Namun secara teoritis dike­tahui bahwa seseorang ter­infeksi kusta karena pernah melakukan kon­tak langsung dalam jangka yang sangat lama, dengan orang ter­kena kusta yang belum mi­num obat.

“Cara masuk kuman kusta ke­pada orang lain diper­ki­rakan me­­lalui saluran pernafasan ba­gian atas,” ucap Nafsiah.

Menkes akan terus berupaya me­nekan penyakit ini sejak dini melalui informasi masyarakat, ter­utama anggota keluarga, ke te­naga kesehatan sangat dibu­tuh­kan. Dengan demikian, pe­ngo­ba­t­an dapat dilakukan lebih awal.

“Pendidikan berbasis media menjadi salah satu pilihan. Peri­laku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) bisa dilakukan melalui se­lebaran, brosur, poster dan bahkan melalui SMS. Upaya ini mem­butuhkan dukungan dari seluruh stake holders dan lapisan masyarakat, termasuk orang yang per­nah mengalami kusta (OYPMK),” terangnya.

Menurut Kepala Sub Direk­torat Pengendalian Kusta dan Frambusia Direktorat Pengen­dalian Penyakit Menular Lang­sung Kemenkes Christina Widya­ningrum, jika penderita kusta bisa segera diketahui dan diobati, ma­ka tidak akan terjadi penularan.

Diungkapkan Christina, dari sekitar 95 persen yang terpapar kusta, terdapat potensi sekitar 5 per­sen yang positif dan 3 per­sennya bisa sembuh sendiri tan­pa obat. Hanya 2 persen yang mem­­butuhkan obat.

“Jika terjadi gejala segera per­gi ke Puskemas. Seperti bercak pu­tih atau merah, untuk segera men­dapatkan pengobatan. Pen­ting un­tuk mensosialisasikan tanda dini kusta dan men­so­si­alisasikan kusta dengan benar.

 Karena mas­yarakat masih ber­pan­dangan bah­wa kusta itu ku­tukan, keturunan, guna-guna dan sebagainya,” jelas Christina.

Penyakit kusta, kata dia, hing­ga kini tidak ada vaksinasi untuk menyembuhkan penyakit terse­but. “Faktor pengobatan adalah amat penting di mana kusta dapat dihancurkan sehingga penularan dapat dicegah,” tukasnya.

Menkes: Sudah Dikucilkan, Penderita Sering Ditolak Berobat

Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi tidak menepis ada penderita kusta sering ditolak ber­obat di rumah sakit. Bahkan pen­derita kerap dikucilkan di lingku­ngannya. Akibatnya, pen­de­rita kusta enggan mela­kukan pengo­batan sejak dini.  

Menurut Nafsiah, tingginya penderita kusta juga dika­re­na­kan minimnya pengetahuan ser­ta sosialisasi penyakit ini ke­pa­da masyarakat. Kondisi ini se­makin memperburuk keada­an penderita kusta dan meng­ham­bat program pe­nanggu­langan kusta di Indonesia.

“Makanya diperlukan edu­kasi kepada masyarakat secara me­nye­luruh. Sampai saat ini, kami masih terus meng­upa­ya­kan dan menggenjotnya hing­ga ke semua la­pisan masya­ra­kat,” ujar Nafsiah.

Dia menyebutkan, be­be­rapa penolakan yang kerap di­alami para penderita kusta dalam ber­obat ke dokter, di antaranya, takut dikeluarkan dari pekerja­an dan diceraikan pasangan.

 â€Bahkan, tidak jarang dis­kri­minasi ditunjukkan dalam ben­tuk keengganan petugas ke­sehatan melayani penderita kus­ta, yang seharusnya justru mem­berikan pelayanan kepada pen­derita,” keluh Menkes.

Pihaknya menekankan, dalam upaya pengendalian kusta, di­per­­lukan perhatian dalam hal pe­ne­muan penderita kusta. Serta pe­ngobatan dini sebelum terjadi­nya kecacatan, khu­susnya di fa­silitas pelayanan kesehatan.

Direktur Jenderal Pengen­da­lian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes Tjandra Yoga Aditama menambahkan, dalam upaya menghilangkan stigma dan diskriminasi, dibu­tuhkan mo­tivasi dan komitmen yang kuat baik dari penderita mau­pun masyarakat.

“Penderita diharapkan dapat mengubah pola pikirnya, se­hing­ga akhirnya mereka dapat ber­da­ya dalam menolong diri­nya sen­diri bahkan orang lain,” ujar Tjandra.

Dari segi persebaran, lan­jut­nya, provinsi dengan tingkat pe­nemuan kasus lebih dari 10 per 100.000 penduduk antara lain Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua. Jawa Timur meru­pa­kan provinsi dengan jumlah ka­sus terbanyak, 5.284 kasus.

Di kawasan ASEAN, Indo­ne­sia menduduki tempat teratas. Myanmar di urutan kedua dengan 3.082 kasus, Filipina ketiga (2.936). Dua negara tetangga Indonesia, Malaysia hanya 216 kasus dan Singapura 11 kasus.

Manajer Program Malaria dan Penyakit Menular Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Indo­nesia Anand B Joshi meng­a­takan, Indonesia telah berusaha keras mengeliminasi kusta.

“Upaya pencegahan dengan melakukan pendidikan dan pro­mosi hidup sehat diprioritaskan. Dengan usaha gigih seperti yang dilakukan beberapa tahun ter­akhir, lima tahun ke depan In­donesia bisa bebas kusta,” ucap Anand. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Pertamina Mandalika Racing Series 2026 Songsong Pembalap Muda Menuju Pentas Dunia

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:56

Catatan Hari Pelaut Sedunia 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:34

284 Petembak Siap Bertarung dalam Kejurnas Menembak ISSF 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:17

Lembaga Peradilan Khusus Pemilu Perlu Dibentuk Demi Wujudkan Keadilan

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:50

Pembangunan Hotel Prima Katulampa Harus Dihentikan, Ini Sebabnya

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:30

Mahasiswa dan Dalang

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:10

Kejati Sultra Geledah Rumah Bos Tambang hingga Rujab Wabup Kolaka

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:48

PDIP yang Overthinking, Bukan Pemerintah yang Panik

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:32

Kemensos Mulai Operasikan Dua SR Permanen di Pasuruan Bulan Depan

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:16

PDIP Desak Wapres Gibran Klarifikasi Soal "Uang Sogok" ke Mahasiswa UBK

Selasa, 23 Juni 2026 | 22:45

Selengkapnya