Berita

Transjakarta

Bus Transjakarta Tak Nyaman, Berdesakan & Telat Melulu

Setelah Delapan Tahun Beroperasi
RABU, 20 FEBRUARI 2013 | 08:46 WIB

Sejak mulai beroperasi delapan tahun lalu, keberadaan Transjakarta dinilai belum optimal melayani transportasi masyarakat Jakarta. Sistem transportasi bus cepat atau Bus Rapid Transit (BRT) ini masih memiliki sejumlah kekurangan yang harus dibenahi demi memenuhi kebutuhan mobilisasi tinggi masyarakat di ibukota.

Mulai beroperasi pada 15 Januari 2004, Transjakarta kini telah memiliki 12 koridor dari yang direncanakan 15 koridor. Terakhir, pada Kamis (14/2), Koridor XII Transjakarta Pluit-Tanjung Priok resmi beroperasi. Hal itu merupakan bagian kelanjutan dari Peraturan Gubernur Nomor 103 Tahun 2007 tentang pola transportasi makro, yang mengatur mengenai 15 koridor Transjakarta.

Saat peresmian Koridor XII Transjakarta, Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono mengatakan, pembangunan koridor Transjakarta merupakan kelanjutan komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam pelayanan masyarakat di bidang transportasi.


Dengan bertambahnya koridor Transjakarta ini, Udar berharap, semakin banyak pengguna kendaraan pribadi beralih ke Transjakarta, sehingga mengurangi kemacetan lalulintas.

“Koridor baru ini tentu akan mempermudah warga dalam melakukan perjalanan. Terlebih, rute Koridor XII terintegrasi dengan empat koridor Transjakarta lainnya,” katanya.

Sayangnya, masyarakat pengguna Transjakarta yang ditemui Rakyat Merdeka, sebagian besar masih mengeluhkan pelayanan yang belum optimal. Mereka berharap, ada keseriusan pengelola dalam meningkatkan kualitas pelayanan.

Meningkatnya jumlah pengguna Transjakarta seharusnya juga diiringi peningkatan kualitas. Hal itu demi menjamin kenyamanan serta keamanan penumpang.

“Masih banyak yang harus diperbaiki. Misalnya waktu kedatangan bus yang belum teratur, serta kondisi bus yang sudah mulai tidak layak,” ujar Agus, penumpang Transjakarta yang mengaku mengandalkan transportasi ini untuk mobilisasi sehari-hari.

Penumpang lainnya, Maya, mengeluhkan kondisi bus yang penuh sesak saat jam-jam sibuk. Sebagai perempuan dia mengaku merasa kurang nyaman harus berdesak-desakan dengan penumpang lain ketika berada di dalam bus. Meski sudah ada keistimewaan khusus untuk penumpang perempuan, namun hal itu kurang bisa dirasakan saat keadaan penuh sesak.

“Busnya harus ditambah lagi supaya penumpang tidak menumpuk di halte sehingga penuh sesak. Rasanya tidak enak juga setiap hari harus berebutan naik busway  (Transjakarta),” keluhnya.

Berdasarkan pengamatan Rakyat Merdeka, kondisi yang dialami para pengguna Transjakarta tersebut hampir setiap hari terjadi, terutama pada hari kerja serta pada jam-jam sibuk. Padatnya lalulin- tas di Jakarta dengan kendaraan pribadi juga turut menghambat pergerakan bus di jalan.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengakui, moda transportasi andalan masyarakat Jakarta ini belum optimal. Ia mengatakan, masih ada beberapa kekurangan dari transportasi yang diluncurkan saat masa kepemimpinan Gubernur Sutiyoso ini.

Jokowi menjelaskan, problem Transjakarta ada empat. Yakni jumlah armada, kurangnya sterilisasi jalur Transjakarta, tidak adanya jalur salip dan kurangnya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG).

Untuk armada, katanya, Pemprov DKI Jakarta sudah menyiapkan sejumlah bus baru. Januari lalu, Jokowi sudah meluncurkan 102 bus gandeng (articulated bus) untuk Koridor I dan XII. “Nanti ditambah lagi 43 bus,” katanya.

Untuk sterilisasi serta jalur salip, diakui Jokowi masih kurang, meski sudah ada sejumlah petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang dipindahtugaskan ke Dinas Perhubungan untuk membantu mensterilkan jalur.
Sedangkan terkait terbatasnya fasilitas SPBG untuk Transjakarta, Jokowi juga berjanji akan menambah SPBG tahun ini.

Pengamat transportasi Darmaningtyas menilai, sebaiknya Pemprov DKI Jakarta fokus memperbaiki layanan bus Transjakarta untuk mengatasi masalah kemacetan di Jakarta.

Ia meminta Jokowi memperbaiki Transjakarta daripada mengurus hal baru, seperti rencana pembangunan tol yang terintegrasi dengan angkutan umum.

“Busway (Transjakarta) bukan tambah maju, tapi memburuk. Jalur Koridor I dulu sangat steril, sekarang tidak lagi. Saya minta, Pak Jokowi, fokuslah selesaikan persoalan Transjakarta. Ide baru didukung, tetapi kalau Transjakarta, yang sudah ada tidak beres, bagaimana?” ujar Direktur Institut Studi Transportasi (Instran) ini.

Dia mengingatkan, sebaiknya Jokowi belajar dari kesalahan gubernur sebelumnya Fauzi Bowo (Foke). “Foke itu lima tahun tak membuat sejarah. Lebih baik Jokowi satu dua tahun ini konsentrasi dengan  busway  dulu,” tegasnya.

Menurutnya, Jokowi dan Ahok harus fokus. “Jika semuanya diborong pasti ada yang terlewati. Busway beres, baru monorel dan MRT. Kalau semuanya mau diborong dalam waktu dekat, agak susah. Nanti pasti ada yang terlewat. Lebih baik fokus dulu saja,” pintanya.

Tiga Koridor Dikebut Dalam Dua Tahun


Demi menuntaskan target Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyediakan transportasi massal berbasis Bus Rapid Transit (BRT) Transjakarta sebanyak 15 Koridor, pengerjaan tiga koridor akan dikebut dalam dua tahun ini. Ketiga koridor itu, yakni Blok M-Ciledug, Kalimalang-Blok M dan Depok-Manggarai.

Sehingga pada 2015, telah ada ada tambahan tiga koridor busway elevated atau layang di Jakarta. Artinya, warga Jakarta sudah dapat menikmati pelayanan Bus Transjakarta sebanyak 15 Koridor.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, ketiga koridor tersebut akan dibangun melayang, mengingat kapasitas jalan di ketiga rute itu tidak memungkinkan lagi untuk jalur khusus bus Transjakarta.

Pembangunan ketiga jalur itu ditargetkan akan selesai selama dua tahun kedepan, sehingga kemacetan di Jakarta dapat berkurang secara maksimal.
 
“Dua tahun ini selesai. Mudah-mudahan dapat mengurangi kemacetan di Jakarta. Sebab, ketiga koridor ini dibangun berdekatan dengan daerah tetangga,” ujarnya.

Jokowi menegaskan, ketiga jalur layang tersebut hanya diperuntukkan bagi bus Transjakarta demi menjaga ketepatan waktu tempuh, sehingga penumpang bisa mendapatkan kepastian. Sedangkan kendaraan lain dilarang menggunakan jalur itu.

“Jalur ketiga koridor ini hanya untuk busway, tidak mix traffic. Kalau dicampur bisa-bisa headway-nya lama,” tegasnya.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta Udar Pristono mengatakan, dari ketiga koridor tersebut yang diprioritaskan akan dibangun terlebih dahulu adalah rute Cileduk-Blok M. Anggaran yang dialokasikan untuk pembangunan jalur ini mencapai Rp 1,4 triliun.

Saat ini, Dishub DKI sedang membuat Detail Engineering Design (DED).

Kemungkinan jalur layang untuk rute Ciledug-Blok M akan dibangun sepanjang 3 kilometer, dari Pakubuwono hingga Ciledug. n LAN

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

AS Gempur ISIS di Suriah

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:14

Aksi Kemanusiaan PDIP di Sumatera Turunkan Tim Kesehatan Hingga Ambulans

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:10

Statistik Kebahagiaan di Jiwa yang Rapuh

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:52

AS Perintahkan Warganya Segera Tinggalkan Venezuela

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:01

Iran Ancam Balas Serangan AS di Tengah Gelombang Protes

Minggu, 11 Januari 2026 | 16:37

Turki Siap Dukung Proyek 3 Juta Rumah dan Pengembangan IKN

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:53

Rakernas PDIP Harus Berhitung Ancaman Baru di Jawa Tengah

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:22

Rossan Roeslani dan Ferry Juliantono Terpilih Jadi Pimpinan MES

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:15

Pertamina Pasok BBM dan LPG Gratis untuk Bantu Korban Banjir Sumatera

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:50

Pesan Megawati untuk Gen Z Tekankan Jaga Alam

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:39

Selengkapnya