Berita

ilustrasi/ist

IMI Desak Kementerian Kelautan Batalkan Kerjasama Riset dengan Asing

SELASA, 05 FEBRUARI 2013 | 21:09 WIB | LAPORAN:

. Rencana Badan Litbang  Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menjalin kerjasama riset dengan salah satu universitas di Eropa mendapat respon sangat keras dari Indonesia Maritime Institute (IMI). Kapal yang akan digunakan untuk riset itu dikhawatirkan justru akan mencuri data potensi laut Indonesia.

Rencana kerjasama riset tersebut akan menggunakan kapal RV Sonne yang canggih, dan tentunya ini akan diragukan. Pasalnya, mereka bisa mengambil data-data potensi di dasar laut. "Saya yakin, kapal riset milik BPPT dan Sekolah Tinggi Perikanan sangat layak untuk melakukan riset itu," kata Direktur Litbang IMI, Dondy Arafat, beberapa saat lalu (Selasa, 5/2)

Dondy menilai Penelitian geologi yang diajukan oleh pihak Universitas tersebut, kalaupun berkaitan dengan prediksi iklim sangat mungkin akan dilakukan pengambilan sampel sedimen dengan cooring untuk melihat ruas-ruas sedimen dasar laut yang berkaitan dengan pengaruh histori samudera akibat pengaruh fenomena fluida atasnya.


"Hal ini tentu saja sangat rawan dan bisa merugikan pihak Indonesia karena bisa disalahgunakan sempel sedimen ini untuk kepentingan analisis lain yang tidak tertulis atau sesuai di security clearance," tegasnya.

Bahkan, ada laporan dan keluhan  yang disampaikan peneliti PPGL ketika menjadi counterpart RV Sonne saat riset di Timur Sumatera dan Jawa, mereka sangat tidak kompromi ketika peneliti Indonesia meminta sampel sedimen hasil cooring yang dilakukan RV Sonne ini.

"Padahal di Filipina, aturan pengambilan sampel sedimen ini sangat ketet perijinan pengambilan sampel baik biota maupun sedimen. Seorang peneliti Indonesia dari LON LIPI sempat tertahan di bandara Aquino Manila dikarenakan membawa sampel air tanpa ijin sah," ujarnya.

Mencermati hal tersebut, IMI menolak dengan tegas rencana tersebut dan meminta KKP mengehentikan rencana tersebut. IMI pun menyarankan agar KKP bekerjasama dengan BPPT, ESDM dan STP untuk melakukan riset tersebut, sebab pasti mampu.

Diketahui, Kapal RV Sonne tersebut akan melakukan survei Oseanografi dan Geologi di Perairan Utara Papua dan sekitarnya. Riset tersebut tentang interaksi lautan-atmosfir di wilayah yang dikenal dengan Warm-Fresh Water Pool (kolam air hangat dan lebih tawar) juga sudah lama dilakukan, terutama oleh negara yang berkepentingan dengan perdagangan yang melalui pelayaran berkaitan dengan prediksi cuaca seperti Jepang (sejak tahun 1996 kerjasama dengan Indonesia), Perancis, USA & Australia belakangan China.

Sementara Jerman selama ini lebih banyak interest di Samudera Hindia Timur Laut (selatan Jawa, Sumatera). Jurnal-jurnal ilmiah berkaitan dengan ENSO (El Nino dan La Nina) serta PDO (pacific Decadal Oscillation) selalu dikaitkan dengan wilayah perairan hangat dan lebih tawar ini.

Karena banyak ilmuwan berkeyakinan bahwa induk dari semua perubahan iklim dapat dideteksi lebih dini di perairan ini. Sinyal perubahan skala atmosfir dapat dideteksi lebih cepat di laut dibandingkan atmosfir itu sendiri.

Amerika Serikat, melalui program Tropical Atmosphere-Ocean (TAO), telah memasang sejumlah mooring buoy disepanjang ekuator Pasifik timur dan tengah, sedangkan untuk ekuator pasifik barat dipercayakan ke Jepang melalui proyek Tropical Ocean Climate Study (TOCS) dengan memasang TRITON Buoy sebanyak 16 titik.

Sedangkan Perancis, lebih banyak bermain di validasi satelitnya terutama altimetry (AVISO), demikian pula halnya USA dengan validasi satelit MODIS (Terra dan Aqua). Jerman nampaknya mulai membuka babak baru, untuk turut berkecimpung masalah prediksi iklim ini. Peneliti Jerman jarang sekali menulis kajian warm-fresh water pool ini, yang bisa dilihat dari jurnal internasional yang diterbitkan. [ysa]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Menhub Perketat Izin Berlayar di Labuan Bajo demi Keamanan Wisata Nataru

Kamis, 01 Januari 2026 | 08:15

Nasib Kenaikan Gaji PNS 2026 Ditentukan Hasil Evaluasi Ekonomi Kuartal I

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:58

Cahaya Solidaritas di Langit Sydney: Menyongsong 2026 dalam Dekapan Duka dan Harapan

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:40

Refleksi Pasar Ekuitas Eropa 2025: Tahun Kebangkitan Menuju Rekor

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:13

Bursa Taiwan Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah Berkat Lonjakan AI

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:02

3.846 Petugas Bersihkan Sampah Tahun Baru

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:58

Mustahil KPK Berani Sentuh Jokowi dan Keluarganya

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:22

Rakyat Sulit Maafkan Kebohongan Jokowi selama 10 Tahun

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:03

Pilkada Lewat DPRD Abaikan Nyawa Demokrasi

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:45

Korupsi Era Jokowi Berlangsung Terang Benderang

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:21

Selengkapnya