Berita

Dahlan Iskan

Dahlan Iskan

MANUFACTURING HOPE 62

Dari Buli Ria Berdikari Ingin Angkat Harga Diri

Oleh: Dahlan Iskan, Menteri BUMN
SENIN, 28 JANUARI 2013 | 09:22 WIB

Tiba di lokasi ini saya diberi pilihan: naik jeep atau sepeda motor trail. Hati ingin memilih trail tapi otak mengatakan jangan. Udara lagi sangat panasnya. Matahari sangat teriknya.

Saya pun menunjuk mobil setengah tua yang rodanya cocok untuk off road itu. “Tapi harus saya yang nyetir,” ujar wanita muda berjilbab putih dan bercelana jeans itu. “Di sini tidak ada tebing yang bisa ditabrak,” tambahnya.

Saya tahu wanita itu lagi menyindir saya yang suka mengemudikan mobil sendiri dan baru saja menabrakkan mobil listrik Tucuxi ke tebing terjal di Magetan. Hari itu, Senin minggu lalu, saya memang ingin mengelilingi ranch besar milik BUMN yang sudah lama terlantar. Yakni lahan peternakan sapi seluas 6.000 ha milik PT Berdikari Union Livestock (Buli), anak perusahaan PT Berdikari (Persero).


Lokasinya di Desa Bila, tidak jauh dari Danau Tempe di Ka­bu­pa­­ten Siddenreng Rappang (la­zim di­singkat Sidrap), Su­lawesi Selatan.

Sudah lama ranch tersebut be­gitu-begitu saja. Nasibnya tidak jauh berbeda dengan ranch yang ada di Sumba, yang luasnya juga sekitar 6.000 ha. PT Berdikari su­dah lama tidak bisa berdiri di atas kakinya sendiri.
Bukan saja tidak bisa membantu program peme­rin­tah di bidang peternakan, bah­kan justru terlalu bergantung pada pe­merintah. Wajah PT Ber­dikari ada­lah wajah yang muram. Kare­na itu awal tahun lalu di­rek­sinya diganti.

Sebagaimana juga di Sumba, se­benarnya ingin sekali saya ber­ma­lam di Bila. Tapi ternyata tidak perlu. PT Buli sudah mulai berge­rak dengan konsep yang jelas. Tanda-tanda kehidupan sudah mu­lai tampak di daerah yang ter­letak sekitar lima jam naik mobil dari Makassar itu.

Wanita berjilbab putih itu de­ngan tangkas segera naik mobil dan mengendalikan kemudi. Dia­lah Ir Ria Kusumaningrum, yang tahun lalu diangkat jadi direktur PT Buli itu. Ria adalah lulusan Fakultas Peternakan IPB tahun 2004.

Ria sangat tangkas menge­mu­di. Saya duduk di sebelahnya. Di kursi belakang duduk Dirut PT Ber­dikari, Librato El Arif, yang ha­­nya bisa tersenyum melihat per­cakapan tadi. Ariflah yang me­ngang­kat wanita muda itu men­jadi direktur PT Buli yang waktu itu sedang dalam keadaan sulit-sulit­nya. Arif cukup jeli me­milih orang. Ia tidak salah me­mi­lih Ria men­jadi direktur untuk peterna­kan be­sar yang lagi sakit parah itu.

Sambil mengemudikan mobil di jalan off road yang berjungkit-jung­kit itu Ria terus menceritakan apa yang sedang dan masih terus dia lakukan. “Di lahan ini akan kami buat bisa untuk 50.000 sapi,” ujar Ria dengan semangat­nya. Ucapan itu kelihatannya mus­tahil terwujud. Terdengar se­perti omong besar. Setahun lalu, ketika saya mulai mengkaji per­soa­lan peternakan ini tidak pernah ada pemikiran seperti itu.

Waktu itu yang sering diteori­kan adalah: untuk lahan 6.000 ha, mak­simum hanya akan bisa dihuni 6.000 ekor sapi. Angka 50.000 yang disebut Ria jauh dari teori itu.

Konsep awal ranch Buli ini me­mang sama dengan yang di Sum­ba. Sapinya dibiarkan hidup liar di padang gembalaan. Murah dan mu­dah. Tinggal memelihara be­be­rapa kuda dan anjing untuk meng­gembalakannya.
Tapi ke­nyataannya sangat berbeda. Baik di Sumba maupun di Sidrap cara seperti itu tidak bisa berkembang. Ada beberapa persoalan teknis. Misalnya soal bagaimana men­jaga kualitas sapi. Sapi yang di­biar­kan liar merosot kualitas ke­unggulannya. Ini karena terjadi per­kawinan inses. Sering terjadi, anak laki-laki yang sudah besar mengawini ibunya atau saudara kandungnya. Sulit mengawasinya.

Yang seperti itu tidak terjadi di luar negeri. Di sana sapi jantan yang tidak unggul langsung di­kebiri. Inilah yang tidak mungkin dilakukan di Indonesia. Masih ada pendapat yang mengatakan pengebirian seperti itu melanggar ajaran agama tertentu.

Ria yang setelah lulus me­ne­kuni penelitian ternak tropik tidak mau meneruskan sistem peter­na­kan liar seperti konsep itu. Ini se­suai dengan arahan direksi PT Ber­dikari dan hasil diskusi de­ngan para ahli dari Fakultas Pe­ternakan Universitas Hasanuddin Makas­sar yang aktif membantu Ria di Buli. Cara baru itu pun ditunjukkan kepada saya. Setelah me­ngun­jungi instalasi pengo­la­han kom­pos dan makanan ternak, saya dibawa ke pinggir sebuah danau kecil yang ada di tengah-te­ngah ranch. Di situlah ada se­buah kandang terbuka. Yakni ham­pa­ran rumput yang dipagari dengan kayu setinggi satu sete­ngah me­ter yang dirangkai de­ngan kawat berduri. Luas ka­n­dang itu hanya se­kitar 3.000 m2. Tidak ada atapnya. Di dalam kan­dang itu (di Jawa lebih tepat disebut kom­bong) terdapat 150 sapi yang hi­dup mengelompok.

Uji coba sistem kombong itu su­dah berlangsung empat bulan. Sapi tidak dibiarkan liar lagi mes­ki juga tidak dimasukkan kan­dang. Uji coba ini sudah bisa disimpulkan:  berhasil baik. Karena itu sis­tem kombong akan dikem­bang­kan. Ria sudah membangun 15 kom­bong. Tidak harus di dekat danau karena sarana untuk mi­num sapi bisa di­bangun di tengah kombong.

Ke depan Ria merencanakan membangun 500 kombong di la­han 6.000 ha itu. Tiap kombong akan dibedakan fungsinya. Ada kom­bong untuk anak-anak sapi de­ngan umur tertentu. Satu kom­bong bisa dihuni 200 anak sapi. Lalu ada kombong untuk sapi yang lebih besar yang sudah siap di­ha­mili. Kombong seperti ini diisi 150 ekor. Ditambah pejantan ung­gulan. Lalu ada kombong untuk sapi besar yang isinya hanya 100 ekor.
Sapi-sapi yang sudah bunting dimasukkan kandang tertutup. Di situ disiapkan sarana untuk me­lahirkan yang sehat. Juga di­sia­p­kan nutrisi yang lebih baik.

Ke depan, pagar kombong itu tidak lagi dibuat dari kayu kering. Pagar itu akan berupa pagar hi­dup. Ria sudah membuat pem­bibitan pohon jabung. Saya pun dibawa ke area pembibitan. Ada 400.000 bibit pohon jabung di­siapkan. Saya percaya saja pada angka itu. Daripada diminta meng­hitung sendiri.

Bibit-bibit pohon jabung itulah yang akan ditanam rapat mem­bentuk pagar hidup kombong. Po­hon ini akan berdwifungsi: un­tuk pelindung sapi dan untuk di­jual ka­yunya setelah berumur lima tahun. Juga ada fungsi meng­he­mat: daripada beli kayu untuk pa­gar. Pohon jabung adalah pohon yang lekas bongsor yang kini lagi sangat happening di Jawa Barat.

Maka setahun lagi sudah akan kelihatan bentuknya. Lahan 6.000 ha itu akan dibentuk men­jadi kom­bong-kombong sapi. Tiap 10 ha, satu kombong. Di se­tiap lahan 10 ha itu ditanami rum­put gajah (2 ha) dan sorgum (3 ha). Di tengah-te­ngah tanaman rum­put dan sor­gum itulah kom­bong untuk kan­dang sapi. Fungsi rumput tidak lain untuk makanan sapinya. Se­dang fungsi sorgum untuk ma­ka­nan manusianya, de­ngan batang dan daun untuk sapinya.

Dengan demikian akan ada blok-blok 10 ha di Buli yang bu­kan saja memudahkan pengawasannya, tapi juga bisa menam­pung le­bih banyak sapi di da­lam­nya. De­ngan metode inilah ranch di Bila bisa menampung 50.000 ekor sapi.
Masyarakat sekitar peternakan akan dilibatkan. Kelompok-ke­lom­pok peternakan di sekitarnya akan diberi kesempatan memiliki kom­bong seperti itu. Sapinya mi­lik ma­syarakat, dengan modal dari PKBL BUMN. Wakil Bupati Sidrap yang ikut hadir hari itu akan me­ngajak warganya untuk ikut cara Buli ini. Inilah ranch mo­del Buli, model Ber­dikari, mo­del Ria. Ber­beda dengan Aus­tralia atau Jawa.

Setahun lagi saya berjanji ber­temu Ria di Bila. Dan akan ber­malam di situ. Sambil menikmati makanan Sidrap yang enak-enak. Dan mengelilingi kombong-kom­bong pohon hidup yang sudah jadi.

Inilah roh baru PT Berdikari. Saya memang meminta Berdikari fokus menangani peternakan sapi. Tidak usah usaha macam-macam seperti di masa lalu, yang semuanya berantakan. Usaha asuransinya harus dilepas. De­mikian juga usaha meubelnya. Fokus: sapi, sapi, dan sapi.

Negara lagi memerlukan peran BUMN seperti Berdikari. Indo­ne­sia terlalu besar mengimpor sapi. Tidak boleh Berdikari justru jadi benalu negeri. Terbukti, ke­tika fokus, direk­sinya bisa me­ne­mukan jalan yang begitu hebat dan asli. Yang akan bisa ikut me­ngatasi kekura­ngan daging sapi di dalam negeri. Terlalu besar kita impor sapi. Menghabiskan devisa dan harga diri.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

IPW Dinilai Tidak Netral soal Evaluasi Pelaku Tambang Nikel

Jumat, 06 Februari 2026 | 23:47

Megawati Kirim Bunga Buat HUT Gerindra sebagai Tanda Persahabatan

Jumat, 06 Februari 2026 | 23:33

Tiga Petinggi PN Depok dan Dua Pimpinan PT Karabha Digdaya Resmi jadi Tersangka

Jumat, 06 Februari 2026 | 23:13

Reaksi Menkeu Purbaya Ada Anak Buah Punya Safe House Barang Korupsi

Jumat, 06 Februari 2026 | 22:37

Gerindra Sebar Bibit Pohon Simbol Keberlanjutan Perjuangan

Jumat, 06 Februari 2026 | 22:25

Gus Yusuf Kembali ke Dunia Pesantren Usai Mundur dari PKB

Jumat, 06 Februari 2026 | 22:15

Bahlil Siap Direshuffle Prabowo Asal Ada Syaratnya

Jumat, 06 Februari 2026 | 22:12

Dasco Jaga Kenegarawanan Prabowo dari Ambisi Jokowi

Jumat, 06 Februari 2026 | 22:05

PDIP Tak Masalah PAN dan PKB Dukung Prabowo Dua Periode

Jumat, 06 Februari 2026 | 21:53

KPK Dikabarkan Sudah Tetapkan 5 Tersangka OTT Depok

Jumat, 06 Februari 2026 | 21:29

Selengkapnya