Berita

tambang/ist

Keruk Isi Perut Bumi Kalimantan, Adaro Gunakan Bahan Peledak

Namun, Adaro Bantah Aktivitas Blasting Sebabkab Gempa
SELASA, 04 DESEMBER 2012 | 14:35 WIB

Perusahaan pertambangan batu bara PT Adaro Indonesia yang beroperasi di wilayah Kabupaten Balangan dan Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan kerap melakukan aktivitas blasting atau peledakan. Ini dilakukan untuk mengeruk isi perut bumi Kalsel.

Namun demikian, perusahaan tersebut membantah aktifitas blasting sebagai penyebab gempa yang menghebohkan masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan juru bicara PT Adaro Indonesia, Ismail di kantor Dahai, sekitar 7 Km dari Paringin, Ibu Kota Kabupaten Balangan, Selasa.


"Kami sudah melakukan pengecekan baik ke lokasi pertambangan maupun gudang bahan peledak (handak) dan memang tidak ada aktivitas blasting pada saat terjadi gempa," katanya.

Sebelumnya, sekitar pukul 09:15 Wita terjadi gempa tektonik di tiga kabupaten di Kalsel, yaitu Balangan, Tabalong dan Hulu Sungai Tengah (HST).

Meskipun gempa yang terjadi hanya sebentar yaitu sekitar 10 detik, namun sangat mengejutkan warga hingga sebagian berlarian ke luar rumah.

Pasca peristiwa tersebut kemudian beredar kabar di masyarakat Balangan bahwa gempa terjadi akibat aktivitas blasting oleh PT Adaro Indonesia.

Saat peristiwa gempa tersebut, ujarnya, tidak bertepatan dengan waktu blasting sehingga tidak mungkin disebabkan oleh aktivitas peledakan tambang.

"Jadwal blasting dilakukan pada siang hari saat jam istirahat, diatas pukul 12.00 Wita sedangkan gempa terjadi pada pagi hari," ujarnya.

Selain itu, sebelum aktivitas blasting terlebih dahulu dilakukan koordinasi dan pemberitahuan kepada pihak kepolisian baik di Balangan maupun di Tabalong.

Saat melakukan blasting, tambahnya, juga didampingi oleh petugas dari kepolisian dan tidak ada aktivitas lain di areal pertambangan karena bertepatan dengan jam istirahat.

"Seandainya gempa terjadi karena aktivitas blasting tentu tidak akan terasa hingga ke Kabupaten HST karena jaraknya sangat jauh dari areal pertambangan," kata Ismail. [ant/arp]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

AS Gempur ISIS di Suriah

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:14

Aksi Kemanusiaan PDIP di Sumatera Turunkan Tim Kesehatan Hingga Ambulans

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:10

Statistik Kebahagiaan di Jiwa yang Rapuh

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:52

AS Perintahkan Warganya Segera Tinggalkan Venezuela

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:01

Iran Ancam Balas Serangan AS di Tengah Gelombang Protes

Minggu, 11 Januari 2026 | 16:37

Turki Siap Dukung Proyek 3 Juta Rumah dan Pengembangan IKN

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:53

Rakernas PDIP Harus Berhitung Ancaman Baru di Jawa Tengah

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:22

Rossan Roeslani dan Ferry Juliantono Terpilih Jadi Pimpinan MES

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:15

Pertamina Pasok BBM dan LPG Gratis untuk Bantu Korban Banjir Sumatera

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:50

Pesan Megawati untuk Gen Z Tekankan Jaga Alam

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:39

Selengkapnya