Berita

istimewa

Politik

Ego Sektoral Picu Konflik Sosial!

RABU, 07 NOVEMBER 2012 | 23:28 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Kebebasan yang lahir dari rahim reformasi sering dipraktikkan secara berlebihan (eksesif) sehingga mengancam keragaman dan kebebasan itu sendiri, bahkan tidak jarang berujung konflik. Kebebasan sejatinya menjadi jalan untuk mencapai titik temu dari kemajemukan yang sudah menjadi fitrah kebangsaan.

Namun pada kenyataannya kebebasan justru memupuk simpul-simpul primordial dan ego sektoral, baik pada tataran struktural maupun kultural. Pada tataran struktural, sebagian lembaga negara belum menunjukkan sinerginya. Masing-masing masih bergulat dengan persoalan internalnya yang terkadang kehilangan koordinasi dan benang merahnya sebagai lembaga yang seharusnya bersinergi dengan lembaga lainnya.

Begitu juga dalam pelaksanaan otonomi daerah. Sebagian kepala daerah belum sepenuhnya mampu menerjemahkan posisi dirinya sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat untuk mendekatkan negara pada rakyat. Bahkan sebagian mengarah pada penguatan kekuasaan di daerah dan abai terhadap persoalan yang dihadapi masyarakatnya. Akibatnya semua persoalan daerah dilimpahkan ke pusat, dalam hal ini Presiden SBY. Inilah problem ego sektoral yang masih terlihat dalam tata kehidupan bernegara.

Demikian disampaikan Dosen Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, A Bakir Ihsan dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Staf Khusus Presiden Bidang Publikasi dan Dokumentasi, di Hotel Grand Elite, Medan (7/11).

Dalam diskusi yang bertajuk "Politik Tak Hanya Kekuasaan" dan dihadiri unsur organisasi kemasyarakatan, tokoh masyarakat, partai politik, LSM, dan civitas akademika ini, Bakir menyinggung adanya persoalan ego sektoral yang berkutat pada distribusi kekuasaan an sich. Reformasi berhasil mencairkan dan mendistribusikan kekuasaan baik secara horisontal, antar lembaga negara, maupun secara vertikal antara pusat dan daerah. Namun, hal tersebut tidak dibarengi oleh kemampuan mewujudkan fungsi kekuasaan bagi kepentingan rakyat.

Sejatinya, lanjut Bakir, dengan distribusi kekuasaan tersebut pemerintah bisa bekerja secara lebih maksimal dan efektif untuk rakyat. Dengan otonomi daerah, misalnya, negara seharusnya bisa semakin intens hadir di tengah-tengah masyarakat melalui pemerintah daerah baik gubernur, bupati, maupun walikota dengan perangkat aparaturnya, sehingga masalah-masalah yang muncul bisa cepat diselesaikan dan konflik horisontal bisa dihindarkan.

Begitu juga dengan keberadaan lembaga-lembaga pemerintahan lainnya, seharusnya bisa lebih efektif melakukan tugas dan tanggungjawabnya bagi kepentingan masyarakat, sehingga tidak semua masalah ditimpakan pada Presiden dan masyarakat tidak bertindak dengan cara-caranya sendiri yang tidak jarang memicu konflik.

Hal senada disampaikan Shohibul Anshor Siregar, dosen Sosiologi Politik FISIP Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) yang menjadi pembahas dalam diskusi ini. Menurutnya, terjadinya berbagai problem sosial saat ini tak lepas dari demokrasi yang masih bersifat prosedural. Ekspektasi terhadap demokrasi tidak berbanding lurus dengan praktik demokrasi.

Begitu juga dengan pertumbuhan ekonomi yang bersifat makro belum berbanding lurus dengan pemerataan ekonomi di tengah masyarakat. Ini merupakan agenda yang harus terus diperjuangkan oleh seluruh aparatur pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden SBY. Dengan langkah-langkah yang lebih konkret dirasakan oleh masyarakat, dengan sendirinya akan mengurangi tuduhan-tuduhan negatif yang selalu dialamatkan pada Presiden SBY.

"Namun demikian, kita juga tidak bisa memungkiri adanya keberhasilan yang seharusnya menjadi modal kita untuk lebih optimis dan lebih obyektif menatap masa depan bangsa dan negara," ungkapnya.

Sementara itu, Plt Gubernur Sumatera Utara, H. Gatot Pujo Nugroho, ST dalam sambutannya yang dibacakan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kaban Kesbangpol) Provinsi Sumatera Utara, Eddy Syofyan, meminta peran tokoh masyarakat dan seluruh kekuatan civil society untuk menciptakan politik yang santun, terlebih menghadapi Pilgub yang tidak jarang memancing kegaduhan bahkan konflik.

Karena itu, katanya, etika politik perlu ditegakkan agar tingkat partisipasi dan kepercayaan masyarakat terhadap proses demokrasi semakin baik sekaligus mengurangi angka Golput. Lebih dari itu, masyarakat akan semakin mengerti politik, tidak mudah diprovokasi, dan bertanggungjawab atas pilihan-pilihan politiknya. [dem]


Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

UPDATE

Tanpa Laboratorium Kuat, RI Hanya Jadi Pasar Teknologi Asing

Sabtu, 18 April 2026 | 00:13

Megawati-Dubes Jerman Bahas Geopolitik dan Antisipasi Krisis Global

Sabtu, 18 April 2026 | 00:01

Mahasiswa ITB Goyang Erika

Jumat, 17 April 2026 | 23:39

Kereta Api Bakal Hadir di Tanah Papua

Jumat, 17 April 2026 | 23:21

Industri Kosmetik dan Logistik Wajib Halal Oktober 2026

Jumat, 17 April 2026 | 23:01

Revisi UU Pemilu Rawan jadi Bancakan Parpol

Jumat, 17 April 2026 | 22:36

Pesan Prabowo di Dharma Santi 2026: Jaga Harmoni, Perkuat Persaudaraan

Jumat, 17 April 2026 | 22:14

Menkop: Prabowo Tegaskan Negara Hadir Atur Ekonomi Lewat Kopdes

Jumat, 17 April 2026 | 21:45

Dewas Didesak Gelar Perkara Laporan terhadap Jubir KPK

Jumat, 17 April 2026 | 21:35

YLBHI Diminta Kembali ke Khitah Bela Masyarakat Marginal

Jumat, 17 April 2026 | 21:20

Selengkapnya