Berita

cliff, anto dan agung di taman nasional baluran/ist

EKSPEDISI KPCI

Membelah Taman Nasional Baluran, Africa Van Java

KAMIS, 11 OKTOBER 2012 | 22:05 WIB

MASIH ingat Anto dan Cliff? Ya, dua orang asal Bogor ini melakukan ekspedisi gila. Menjelajah Indonesia dengan menggunakan sepeda. Bukan tempat wisata biasa yang mereka kunjungi, melainkan taman nasional, gunung bahkan pulau-pulau terluar Indonesia pun akan mereka kunjungi. Saat ini, mereka berada di Kota Dompu, NTB. Mereka terus berencana menggowes sepedanya lebih ke Timur.

Sambil menunggu waktu, mereka nyablon kaos. Ini dilakukan untuk menambah pendanaan perjalanan mereka.

Anto dan Cliff sempat mencatat perjalanan mereka. Berikut ini adalah catatan perjalanan mereka ketika menyusuri Taman Nasional Baluran, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.


Membelah Malam Hutan Baluran

Rasanya belum lama saya tidur. Alarm yang di-setting jam tiga pagi sudah berbunyi tepat disamping kiri telinga saya. Malas rasanya untuk keluar dari sleepingbag, andaikata sekarang bukan sahur pertama saya di bulan puasa tahun ini. Suara pengajian terdengar dari speaker mesjid yang entah ada dimana, sesekali diselingi suara orang yang membangunkan sahur.

Agar-agar yang saya masak semalam masih berada ditempatnya, didalam panci trangia yang saya taruh di pojok ruangan, tepat disamping kompor. Namun tidak juga saya sentuh, padahal saya memasaknya untuk sahur pagi ini.
Saya lebih memilih memasak mie sebagai menu sahur pertama saya ini, lebih hangat dan pas untuk dinikmati, sepertinya. Biarlah agar-agar itu tetap mengeras sebagai menu sarapan Cliff pagi nanti karena dia tidak ikut puasa.

Cliff terlihat pulas didalam sleeping bag dengan slayer yang menutup matanya. Suara alarm, suara dari masjid ataupun suara dari aktifitas saya memasak sama sekali tidak membuat tidurnya terjaga. Lelah setelah gowes kemarin dan tidur larut semalam yang mungkin membuat dia nyenyak menyelami mimpinya di ruangan ini.  Ruangan di belakang information center Taman Nasional Baluran yang berukuran 3x3 meter berdinding setengah badan saya.

Kemarin sore di hari ke-39 'Kayuh Pedal Cumbu Indonesia', selepas ashar kami melanjutkan perjalanan menuju Taman Nasional Baluran. Dimulai dari Kedai Kopi Garasi tempat kami bermalam sebelumnya, kami menempuh perjalanan sekitar 60 km. Perjalanan malam yang cukup membuat lelah badan setelah di awal gowes kami memilih memacu sepeda kami secepat mungkin guna menghindari malam di jalan lintas utara yang membelah hutan Baluran.
Alih-alih menghindari kemalaman, ternyata malah membuat fisik saya kedodoran jika terus memaksa memacu sepeda saya terlalu cepat. Alhasil hutan Baluran pun kita nikmati setelah gelap tiba.

Selepas Banyuputih, kami disambut papan besar tanpa lampu bertuliskan "Selamat Datang di Taman Nasional Baluran". Jalanan berubah menjadi gelap gulita tanpa lampu jalan ataupun lampu dari rumah-rumah. Kami sudah memasuki hutan Baluran. Cahaya lampu sesekali datang dari kendaraan-kendaraan yang lewat. Kiri dan kanan kami adalah hutan dengan pepohonan tinggi ataupun semak belukar. Beruntung cuaca cerah sehingga bulan dan bintang-bintang membantu mata untuk dapat melihat sekeliling kami. Sepeda kami kayuh lambat, menikmati suasana yang tenang dan indah dimalam hari. Jalanan aspal cukup bagus membelah hutan membantu roda sepeda melintas dengan aman dan nyaman. Sesekali lampu dan suara mesin kendaraan menemani perjalanan malam kami diatas jalur yang bervariatif.

Dipinggir jalan beberapa kali terlihat bangunan kayu untuk istirahat para pengemudi yang melintas. Di salah satu bangunan itu kami sempat beristirahat sebentar melepas lelah. Waktu menunjukkan pukul setengah delapan malam. Cukup lama kami beristirahat di bangunan dari kayu itu. Tanpa lampu, hanya suara-suara angin dari pepohonan di sekitar kami yang menemani. Sesekali kendaraan-kendaraan lewat menerangi jalan didepan kami. Suasana sangat tenang dan tenteram di pinggir jalan ini adalah pengalaman pertama kami sepanjang perjalanan KPCI.

Jalanan mulai menurun ketika kami semakin mendekati kantor Taman Nasional Baluran. Nyaris tanpa kayuhan kami meluncur menikmati setiap mulusnya aspal jalur utara jawa ini.

“Monyeeet!!!!!!,” teriak saya kepada supir pick up yang menyalip truk didepannya, berlawanan arah dengan saya. Padahal saya telah memberi isyarat dengan lampu sepeda saya sebelum supir itu menyalip truk.

“Baangsattt !!!,” Cliff ikut mengumpat kepada supir itu. Rupanya dia yang berada di belakang saya pun merasa terganggu dengan ulah sang supir yang mobilnya hampir menyenggol sepeda saya.

Perjalanan bersepeda memang penuh dengan resiko, membutuhkan kehati-hatian ekstra. Apalagi ketika hari mula gelap seperti malam ini, kejadian seperti itu mungkin bisa terulang lagi.

Beberapa ratus meter kedepan, terlihat remang-remang cahaya lampu, menandakan kantor Taman Nasional sudah didepan mata. Kantor yang berada di daerah Bajulmati ini pun akhirnya terlihat. Memperlambat laju sepeda, mata saya berkeliling mencari warung. Perut ini sudah minta diisi. Tepat di depan sebuh warung nasi disamping gerbang Taman Nasional kami berhenti. Nasi kare beserta teh madu menjadi pilihan kami.

Baru saja sampai, tiba-tiba handphone (hp) saya berbunyi. Ternyata ada seseorang yang mengirimkan sms ke saya.

“Sudah sampai mana, kakak ?” demikian bunyi sms di hp saya. Disitu tertera nama Albertus Pamungkas pengirimnya.

“Udah sampe, ini lagi mau makan diwarung samping Taman Nasional,” balas saya menjawab pertanyaannya.

Beberapa obrolan singkat sesudahnya lewat sms memberi kabar bahwa Albertus Pamungkas -yang setelahnya saya tahu nama panggilannya adalah Agung- akan menghampiri kami kesini. Hanya sekedar bertemu dulu sebelum esok akan bersama-sama gowes memasuki Taman Nasional Baluran.

Setengah jam kemudian Agung datang menghampiri kami yang sedang makan. Rumahnya memang tidak telalu jauh dengan Taman Nasional menggunakan motor malam ini.

Akhirnya kami bertemu juga dengan orang yang beberapa hari ini rajin menanyakan posisi kami. Yang membuat saya kaget, ternyata dia masih bersekolah, SMP pula. Namun semangat gowesnya melebihi kami. Terbukti pada saat gowes keesokan harinya bersama kami menyusuri kawasan Taman Nasional Baluran.

Setelah selesai makan, kami menuju pos jaga Taman Nasional Baluran. Numpang bermalam dulu disini sebelum esok pagi masuk lebih dalam ke kawasan Taman Nasional. Agung pun pamit pulang, sementara kami diantar menuju tempat dmana kami bisa beristirahat.

Afrika Van Java

Agung datang sekitar jam setengah sepuluh, menggunakan jersey sepeda lengkap dengan helm dan sepatu, siap mengantar kami menuju kawasan Taman Nasional. Kami bersiap-siap, mandi dan packing barang bawaan. Rencananya kami gowes dengan bawaan yang tetap menempel di sepeda. Bleki dan Sibiru -panggilan untuk sepeda yang kami gowes- kami parkirkan di depan plang besar bergambar banteng dan rusa berlatar belakang savana cokelat dan gunung Baluran bertuliskan "Welcome to Baluran, Complete Your Adventure".
    
Setelah membayar tiket masuk sebesar dua ribu lima ratus rupiah, kami mulai melanjutkan perjalanan. Menuju savana Bekol berjarak 12 km dari sini. Jalanan awalnya beraspal agak bagus beberapa ratus meter, dan kemudian aspal rusak. Menikmati Taman Nasional Baluran dengan sepeda cukup mengasyikkan, banyak pemandangan yang lebih bisa dilihat dibanding menggunakan motor atau mobil. Jalanan bervariasi naik turun ataupun datar. Di kanan kiri kami adalah rerumputan tinggi dan pepohonan yang jarang. Panas cuaca terbantu oleh angin yang berhembus.

Ditengah perjalanan, ada papan petunjuk bertuliskan "Sumur Tua, 10 Meter". Kami coba untuk melihat namun tidak juga menemukan sumur yang dimaksud. Yang ada tangan dan kaki gatal-gatal terkena semak dan pohon merambat. Jalanan yang rusak dan beban yang masih menempel disepeda memberikan sensasi tersendiri untuk mengendarainya.

Memilih jalan yang lumayan bagus atau mau tidak mau melewati jalan berbatu cukup membuat seru perjalanan. Apalagi jika kebetulan jalan yang dilewati menanjak, siap-siap memindahkan gigi. Telat sedikit maka kayuhan bertambah berat. Atau ketika menurun,kerikil malah membuat ban bisa bergeser dan licin. Agung dengan jiwa mudanya terlihat sangat bersemangat. Cara mengayuh sepedanya memperlihatkan kemahirannya. Beberapa kali dia berada di depan dan menunggu kami dibawah bayangan pohon yang teduh.

Sebelum sampai Bekol, kami melewati hutan hijau "Evergreen" yang berisi pohon-pohon besar membentuk kanopi membuat sejuk perjalanan. Evergreen Forest adalah hutan yang selalu hijau di sepanjang waktu. Hutan ini boleh dikatakan sebagai pintu gerbang sebelum memasuki kawasan savana TN Baluran.

Savana sudah mulai terlihat dari kejauhan ketika hari sudah semakin siang dan akhirnya kami lewati. "Afrika Van Java", begitu banyak orang menyebut tempat ini. Savana sangat luas dikanan kiri jalan adalah pemandangan indah yang tidak bisa didapat dibanyak tempat di Indonesia. Sejauh mata memandang hanya rerumputan cokelat dan gunung Baluran terlihat gagah. Rusa-rusa berlarian ketika menyadari kehadiran kami. Lalu terdiam mematung memandangi tiga sepeda yang berjalan pelan menikmati suasana.

Jauh didepan kami terlihat bangunan yang makin lama makin dekat. Tempat ini bernama Bekol, terdapat bangunan yang merupakan kantor dan penginapan bagi yg ingin bermalam disini.

Dibelakang kantor, ada menara pandang yang cukup tinggi untuk para pengunjung menikmati luasnya savana dari atas. Disni juga terdapat burung merak yg berkeliaran ataupun yg ditangkarkan dikandang. Kami naik ke menara pandang, melewati tangga besi kecil menuju ke atasnya. Diatas, terlihat savana luas, jika membawa teropong akan terlihat jelas pula banteng ataupun rusa yang banyak terdapat disini.

Tak lama dimenara pandang, kami melanjutkan gowes menuju pantai Bama, kurang lebih tiga kilometer dari Bekol. Di awal perjalanan, kami melihat pajangan tengkorak banteng dan rusa yang mati dijajarkan disebuah papan besar. Sebelumnya juga ada beberapa yang ditempel di pepohonan sekitar kantor Bekol.

“Ini adalah tulang kepala banteng ataupun rusa yang mati karena perburuan liar,” ungkap Agung.

Kawasan Taman Nasional Baluran memang masih rawan perburuan liar. Tempatnya yang luar biasa luas tidak dipungkiri membuat pengawasannya pun tambah sulit. Pelestarian memang selalu membutuhkan pengorbanan.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Jalanan yang kami lewati didominasi tanah dan batu dengan pemandangan masih sama, savana Baluran. Satwa yang terlihat disini adalah banteng, rusa dan kera. Selain itu, kicauan burung sering terdengar di sepanjang perjalanan. Jalur untuk kami gowes sulit dipilih, karena semua hampir mirip. Batu-batu kecil yang terkena roda belakang kadang terlempar ke kiri ataupun ke kanan. Seru!

Beberapa ratus meter sebelum Bama, savana mulai tergantikan oleh pepohonan dan agak teduh. Jalan pun mulai berpasir sehingga lebih enak untuk dilewati sepeda. Kera-kera berkelompok lompat kesana kemari, ada pula yang berkumpul diam memandangi kami bersepeda.

Pantai Bama mulai terlihat, diawali dengan bangunan seperti di Bekol, kantor jaga dan resort untuk menginap. Sepeda kami parkirkan di atas pasir dibawah sebuah pohon dipinggir pantai. Bangku dan meja permanen dari semen disediakan disini untuk duduk-duduk santai.

Menikmati pantai Bama agak terusik dengan kera-kera yang berkeliaran disini. Awal kami datang mereka diam seperti bersahabat, namun ketika kami lengah,mereka mengincar barang-barang kami yang ada dimeja.

Ketika kami sedang berfoto diatas perahu, tiba-tiba Agung berteriak; "Tasnya dibawa monyet!".

Cliff langsung lari mengejar, ternyata plastik berisi uang, hp dan dompet yang dibawa monyet. Untung saja setelah dikejar, plastik itu dilepaskan. Yang benar-benar diambil adalah roti, gula pasir dan beberapa makanan kecil. Ada juga monyet yang membuka kantong tas sepeda saya dan mengambil jas hujan yang ada didalamnya. Saya kejar, dia malah naik ke atas pohon dan meninggalkan jas hujan diatas pohon. Alhasil, saya harus manjat sedikit untuk mengambil jas hujan. Kejadian-kejadian itu membuat kami berkemas dan meninggalkan Pantai Bama.

Sudah cukup sore kami berjalan pulang, sampai savana sekitar jam lima sore. Matahari sore berwarna oranye di depan kami menghasilkan siluet yang bagus untuk didokumentasikan. Sekitar setengah jam kami berfoto-foto.

Meninggalkan Bekol, matahari sudah semakin tenggelam dan kami masih harus gowes sekitar delapan kilometer lagi. Lampu sepeda disiapkan, bersepeda beriringan atau bahkan bersampingan adalah pilihan yang bagus karena Agung tidak membawa lampu. Memilih jalan yang bagus hampir sulit dilakukan, jadinya beberapa kali kami mau tidak mau melindas lubang maupun batu.

Sekitar pukul setengah delapan malam kami kembali di pintu masuk Taman Nasional Baluran. Agung menawarkan kami untuk istirahat dirumahnya, kurang lebih 10km dari sini. Tentu saja tawaran menarik yang tidak kami tolak. Di Pos jaga Taman Nasional, tidak lupa kami meminta tanda tangan dan stempel Taman Nasional sebagai data perjalanan kami.

Sumber Kencono, itulah daerah, tempat rumah Agung berada. Dari jalan raya, masih masuk ke dalam jalan kecil dengan aspal sedikit rusak. Jam setengah sembilan kira-kira kami tiba. Kami pun disambut ramah orang tuanya. Sesampainya disana, kami mandi dan makan. Keakraban langsung terasa karena keramahan ayah dan ibu nya Agung.
 
Obrolan ringan membuat saya merasa seperti sudah kenal lama. Mengetahui saya muslim, orang tuanya menawarkan untuk dibangunkan sahur nanti. Sebuah toleransi yang membuat saya benar-benar merasa beruntung bisa kenal dengan mereka. [***]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya