Berita

Dahlan Iskan

Dahlan Iskan

MANUFACTURING HOPE 46

Bayang-bayang Pak Sum Di Laut Benoa

Oleh: Dahlan Iskan, Menteri BUMN
SENIN, 08 OKTOBER 2012 | 09:06 WIB

SISTEM “keroyokan” ini ibarat balap antar BUMN. Inilah yang terjadi di Bali, dalam proyek pembangunan jalan tol di atas laut yang menghubungkan Bandara Ngurah Rai, Nusa Dua, dan Tanjung Benoa.

“Kami memang sudah tidak melihat untung rugi. Proyek ini harus jadi tepat waktu,” ujar M Choliq, Direktur Utama PT Waskita Karya (Persero) yang bersama Hutama Karya dan Adhi Karya mengerjakan proyek itu.

Di mata saya, ini juga seperti proyek penebusan dosa. Terutama bagi sebagian BUMN karya yang dulu sering diberitakan terlibat kasus sogokmenyogok.

Peluang nyogok memang tidak mungkin di sini: pemilik proyeknya BUMN, pendanaannya BUMN, dan kontraktornya BUMN.

Sistem “keroyokan” ini juga akan menjadikan proyek jalan tol Bali menjadi yang tercepat pem­bangunannya dan tercantik pe­nampilannya. Juga akan menjadi jalan tol di atas laut yang pertama di Indonesia.

Inilah proyek jalan tol yang mem­­beri inspirasi untuk pem­ba­ngu­nan jalan tol di atas laut lain­nya. Seperti jalan tol yang akan menghubungkan basis in­dustri di Kawasan Berikat Nu­santara ke der­maga baru pe­la­buhan New Tanjung Priok di Ka­libaru Jakarta Utara.

Waskita Karya mengerjakan pro­yek ini dari arah Benoa. Pele­baran jalan lama sudah di­la­ku­kan. Pemancangan tiang-tiang pancang di atas Teluk Benoa su­dah jauh sampai di atas laut. Su­dah lebih 2.000 titik tiang pan­cang yang diselesaikan. “Tidak ada kendala yang berarti,” ujar Tito Karim, Dirut PT Jasa Marga Bali Tol yang akan menjadi pe­milik proyek ini.

Hutama Karya yang memulai proyek ini dari arah Ngurah Rai juga tidak kalah cepat. Tiang pa­cangnya sudah terlihat jauh men­jorok ke laut. Bahkan bundaran yang akan menjadi pintu masuk dari arah Ngurah Rai sudah me­masuki tahap pemasangan beton.

Saya berkali-kali me­nyam­pai­kan terima kasih dan peng­ha­r­ga­an kepada tim Hutama Karya. Tim inilah yang menemukan tek­nik bagaimana mempercepat pe­mancangan tiang di laut. Ter­uta­ma teknik untuk mengurangi ke­tergantungan kepada ponton.

“Pemancangan tiang dengan ponton tidak bisa dilakukan 24 jam. Pada saat air laut surut p­e­kerjaan harus berhenti. Dengan tek­nik ini kami bisa bekerja 24 jam,” ujar Tri Widjajanto Joe­dosastro, Dirut PT Hutama Karya (Persero).

Teknik ini lantas ditularkan ke Adhi Karya yang memulai pro­yek ini dari sisi Nusa Dua. Pe­mancangan pun bisa lebih cepat. Selama tiga bulan pertama pro­yek ini hanya berhasil di­pan­cangkan 1.000 tiang pancang. Setelah ada cara baru itu, setiap bulan bisa dipancangkan 1.000 tiang pancang.

Kalau target penyelesaian itu bisa tercapai memang sangat ber­sejarah. Betapa jauh bedanya de­ngan yang pernah terjadi di Su­ra­baya. Pembangunan jalan tol sepanjang 12 km dari Waru ke Juanda Surabaya  memakan wak­tu 12 tahun. Proyek jalan tol di Bali ini, dengan panjang yang ku­rang lebih sama, bisa diselesaikan hanya dalam 16 bulan. 12 tahun berbanding 16 bulan!

Kalau jalan tol di atas laut Be­noa ini nanti jadi, kendaraan dari arah bandara yang ingin menuju Nusa Dua tidak lagi harus ber­ju­bel melewati jalan satu-satunya se­karang ini. Bisa langsung me­nuju bundaran, lalu naik ke jalan tol menuju tengah laut. Di tengah laut itu ada interchange yang cantik, bercabang-cabang, dan meliuk-liuk.

Di interchange tengah laut itu semua kendaraan bisa langsung memutar ke kiri menuju Sanur. Atau ke kanan ke arah Nusa Dua. Atau ke arah barat ke bandara Ngurah Rai. interchange yang melingkar-lingkar di atas laut itulah bagian yang paling indah dari proyek ini.

Setiap kali melakukan penin­jauan ke proyek ini, saya selalu teringat nama ini: Ir Sumaryanto Wi­dayatin, Deputi Bidang In­frastruktur dan Logistik  Kemen­terian BUMN. Dialah penggagas jalan tol di atas laut ini. Dia pula yang sangat aktif menemukan dan mewujudkan berbagai tero­bo­san. Terutama agar proyek jalan tol ini bisa terwujud dengan cepat.

Hampir setiap hari Pak Sum, begitu nama panggilannya, me­nerobos ruang kerja saya untuk minta blessing berbagai ide gila­nya. Mulai ide jalan tol, pe­la­bu­han, bandara, sampai pem­be­na­han perusahaan-perusahaan yang ada di bawah koordinasinya.

Saya sungguh cocok dengan orang ini. Agak terasa kurang so­pan, kurang ajar, meledak-ledak, ngotot, tapi logikanya sangat baik. Kalau berdebat suka me­la­wan, tapi kalau keputusan sudah diambil dia sangat loyal. Saya mendengar, beberapa bulan se­belum saya menjadi menteri, di se­buah rapat dengan salah satu instansi, Pak Sum disiram kopi oleh pejabat tinggi di instansi ter­sebut. Saya pun kadang ingin juga menyiramkan kopi ke wa­jah­nya, tapi saya tidak minum kopi.

Sesekali saya memang me­nga­lami, dua-tiga hari setelah ke­pu­tusan diambil, dia datang lagi de­ngan ide baru. Rupanya dia tidak puas dengan keputusan yang su­dah diambil. Tapi dia juga tidak ngotot dengan ide lamanya. Ke­li­ha­tannya dia terus berpikir dan ber­pikir. Lalu menemukan ide yang lebih baru. Yang hebat, dia tidak  pernah takut me­ng­e­mu­ka­kan ide yang lebih baru itu kepa­da saya. Dan saya tidak pernah malu untuk mencabut keputusan saya yang memang kalah baik dari idenya.

Kini, Pak Sum dirawat di Si­ngapura. Enam bulan lalu, lewat tengah malam, ia mengalami stroke. Untung istrinya segera melarikannya ke rumah sakit. Tidak sampai kehilangan golden time yang sangat vital bagi pen­derita stroke. Nyawanya selamat.

Meski mengalami kelumpuhan sampai tidak bisa berbicara, tapi semangatnya untuk sembuh luar biasa. Itulah yang membuat kon­disinya kian hari kian baik. Apa­lagi di tangan istrinya yang sangat telaten merawat dengan sepenuh hati dan melatihnya.

Belakangan Pak Sum sudah bisa duduk di atas kursi roda. Untuk dibawa berjemur di bawah matahari pagi. Bahkan minggu-minggu ini Pak Sum sudah bisa dibawa kembali ke Jakarta. Ke­tika diadakan acara pemancangan tiang pertama proyek ini bulan Desember lalu, dia hadir dengan mengenakan baju batik yang agak kedodoran. Dia memang ter­masuk orang yang penam­pi­lan­nya agak asal-asalan dan cen­derung urakan.

Dari atas podium saya minta dia berdiri. Saya sampaikan ke­pa­da seluruh hadirin bahwa dialah yang memiliki ide jalan tol di atas laut Bali ini. Terutama untuk meng­hindari keruwetan pembebasan tanah. Pak Sum juga yang me­miliki ide meng­ga­bung­kan ber­bagai kekuatan BUMN agar bisa kerja keroyokan. Dia me­mang pu­nya kemam­puan tek­nis dan me­miliki kekua­tan untuk melakukannya.

Saat menjenguknya beberapa waktu lalu, saya sempat mem­bi­sikkan ke telinganya mengenai perkembangan proyek yang dia gagas ini. Saya membisikkannya sambil mencengkeram jari-jari ta­ngannya. Dia memang sudah bisa berada di kursi roda, tapi ma­sih belum bisa menggerakkan se­lu­ruh tubuhnya. Juga belum bisa berkata-kata. Saat berbisik ke te­linganya, wajahnya kelihatan ber­seri dan matanya kelihatan ber­ge­rak-gerak. Cengkeraman jari ta­ngannya juga terasa menguat.

Kalau saja Pak Sum bisa me­lihat perkembangan proyek itu sekarang, alangkah bangganya. Apalagi tim BUMN karya yang di lapangan bekerja sungguh-sungguh dan menemukan banyak cara untuk mempercepatnya.

Saya minta berbagai terobosan itu dicatat dan dijadikan buku. Da­lam acara peresmian kelak, buku tentang pembangunan jalan tol ini sudah harus jadi. Untuk pembelajaran bagaimana sebuah proyek bisa terwujud cepat hanya karena kuatnya  kemauan. Di ba­nyak hal, kita ini tidak bisa me­wujudkan sesuatu bukan karena tidak bisa, tapi karena lemahnya kemauan. Tidak “Ya Begitulah”

Di samping meninjau proyek ja­lan tol, pagi itu, sebelum me­nyam­paikan pidato ilmiah di acara Dies Natalis ke-50 Uni­ver­sitas Udaya, saya melihat proyek pem­ba­ngu­nan bandara baru Ngurah Rai. Ini juga kerja ke­ro­yokan tiga BUMN: Adhi Karya, Waskita Karya, dan Angkasa Pura I.

Ini juga proyek yang tidak lagi menghitung untung rugi. Ini adalah proyek yang harus jadi tepat pada waktunya. Lantai satu dan dua sudah selesai. Saya naik ke lantai tiga. Di sinilah lokasi check-in, ruang tunggu kebe­rang­katan, sampai boarding di­la­ku­kan. Berada di lantai tiga proyek ini, saya baru merasa bangga. Terasa luasnya. Lantai tiga ini akan terasa sangat lapang dan longgar. Ini karena tinggi ruangan itu sampai 17 meter.

Jarak antara pilar satu dan pilar lainnya sampai 60 meter. Pilar itu sendiri garis tengahnya sampai 8 meter. Berupa ruang kosong yang menembus langit. Di tengah se­tiap pilar kosong inilah kelak akan ditanam pohon besar.

Memang tidak gampang me­laksanakan pembangunan proyek ini. Lapangan untuk kerjanya sa­ngat sempit. Manuver per­al­a­tan­nya terbatas. Bahkan jadwal pem­bangunan masing-masing bagian harus disesuaikan dengan keper­luan penumpang pesawat saat ini.

Inilah risiko membangun ban­dara baru di lokasi bandara lama. Sambil membangun harus tetap menjaga agar semua fungsi pe­la­yanan tidak terganggu.

Memang mulai ada keluhan. Koridor untuk jalan kaki menuju tempat keberangkatan domestik sangat jauh. Tapi tidak banyak pilihan untuk mencapai k­e­ma­ju­an. Apalagi, setelah saya rasakan sendiri, sebenarnya tidak juga le­bih jauh dari umumnya bandara di luar negeri. Kebiasaan lama yang serba dekat telah me­nim­bulkan dampak psikologis me­nge­nai jarak sebuah koridor.

Saya hanya mengajukan bebe­rapa pertanyaan. Salah satunya: akan seperti bintang berapakah bandara Ngurah Rai nanti? Ba­nyak bandara baru kita bangun tapi finishing-nya hanya setingkat bintang tiga. Saya khawatir Ngu­rah Rai pun seperti itu. “Tidak,” jawab Yanus Suprayogi, pim­pi­nan proyek bandara baru ini.

“Bandara baru Ngurah Rai akan setingkat bintang lima,” ucap Yanus tegas. Malam itu saya pun tidur dengan nyenyaknya. Apalagi di kamar baru di hotel baru milik BUMN yang belum diresmikan: Grand Inna Kuta. Mungkin masih perlu waktu se­bulan lagi bagi hotel ini untuk ber­operasi. Masih ada beberapa koreksi dan pemasangan “jem­batan” menuju hotel Inna Kuta yang lama. Tapi, setidaknya, wu­judnya sudah jelas.

Hotel Inna Kuta tidak akan menjadi bahan ejekan, bahwa se­mua hotel milik BUMN  “ya be­gitulah”. Setelah ini, fokus beri­kut­nya adalah pembangunan ho­tel bintang lima di Nusa Dua: Grand Inna Putri Bali yang kini ke­lasnya juga “ya begitulah”. Saat ini ba­ngunan lama sedang diro­boh­kan. Di atas lahan 7 ha itu akan di­ba­ngun hotel baru dengan pe­ran­cang Kamil Ridwan, arsitek ke­bang­gaan Indonesia yang lagi ngetop itu.

Konsepnya pun berubah. Dulu pantai itu dianggap “halaman belakang”. Kelak pantai adalah “halaman depan” yang harus dimanfaatkan kekuatannya.

Kualitas “ya begitulah” me­mang harus segera lenyap dari du­nia BUMN!


Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

IPW Dinilai Tidak Netral soal Evaluasi Pelaku Tambang Nikel

Jumat, 06 Februari 2026 | 23:47

Megawati Kirim Bunga Buat HUT Gerindra sebagai Tanda Persahabatan

Jumat, 06 Februari 2026 | 23:33

Tiga Petinggi PN Depok dan Dua Pimpinan PT Karabha Digdaya Resmi jadi Tersangka

Jumat, 06 Februari 2026 | 23:13

Reaksi Menkeu Purbaya Ada Anak Buah Punya Safe House Barang Korupsi

Jumat, 06 Februari 2026 | 22:37

Gerindra Sebar Bibit Pohon Simbol Keberlanjutan Perjuangan

Jumat, 06 Februari 2026 | 22:25

Gus Yusuf Kembali ke Dunia Pesantren Usai Mundur dari PKB

Jumat, 06 Februari 2026 | 22:15

Bahlil Siap Direshuffle Prabowo Asal Ada Syaratnya

Jumat, 06 Februari 2026 | 22:12

Dasco Jaga Kenegarawanan Prabowo dari Ambisi Jokowi

Jumat, 06 Februari 2026 | 22:05

PDIP Tak Masalah PAN dan PKB Dukung Prabowo Dua Periode

Jumat, 06 Februari 2026 | 21:53

KPK Dikabarkan Sudah Tetapkan 5 Tersangka OTT Depok

Jumat, 06 Februari 2026 | 21:29

Selengkapnya