Berita

abdul rasyid/ist

RUU KAMNAS

Siapa Sesungguhnya Antek Asing di Indonesia

SENIN, 24 SEPTEMBER 2012 | 09:31 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Kalangan pemerintah curiga pernyataan LSM yang kerap memojokkan pemerintah adalah pesanan pihak asing yang terganggu dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil dan rencana pembangunan Indonesia yang sudah matang.

Kecurigaan itu antara lain disampaikan Staf Khusus Menteri Kordinasi Perekonomian, Abdul Rasyid, menanggapi pernyataan anggota Forum Keamanan Nasional (FKN) Indonesia, Haris Azhar, yang mengaitkan RUU Keamanan Nasional (Kamnas) dengan Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

"Jangan-jangan anggota FKN Indonesia Haris Azhar ini yang justru menerima pesanan asing untuk memojokkan MP3EI (Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia)," ujar Rasyid dalam perbincangan dengan Rakyat Merdeka Online, Senin pagi (24/9).

Rasyid menegaskan bahwa pemerintah saat ini sudah jelas sangat tidak pro-asing. Ini dapat dibuktikan dengan kebijakan pemerintah yang melakukan renegosiasi kontrak terhadap perusahaan-perusahaan asing. Ditambah lagi dengan berbagai persyaratan yang semakin ketat bagi perusahaan-perusahaan asing yang mau berinvestasi di Indonesia.

Rasyid juga curiga Haris tidak tuntas membaca MP3EI sehingga memiliki pemahaman yang sangat lemah dan akibatnya cenderung tendensius dalam memberikan penilaian.

"Kalau mau jujur, coba diungkap semua siapa saja yang mendanai kegiatan Kontras dan jaringan LSM-nya selama ini. Jawabannya, pasti lebih banyak orang asing. Nah, lalu siapa sesungguhnya yang pro-asing? Siapa sesungguhnya yang sering menjual data-data tentang Indonesia ke asing? Apa pemerintah? Tentu itu tidak mungkin," tanya Rasyid brtubi-tubi.

Rasyid juga mempertanyakan bukti yang dimiliki Haris yang memperkuat tuduhan bahwa keberangkatan SBY ke London dan AS berkenaan dengan RUU Kamnas dan MP3EI. Kalau SBY ke luar negeri untuk mempromosikan MP3EI, sambung Rasyid, sangat wajar dan justru bagus sehingga negara-negara lain mengerti apa yang dilakukan pemerintah dalam meningkatkan perekonomian nasional.

Lagi pula, tidak ada salahnya bila ada investor asing yang menanamkan modal di Indonesia selama mereka mengikuti aturan main yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia. Investor asing, masih ujarnya, akan membuka lapangan kerja dan mempercepat proses pengentasan kemiskinan.

"Karena itu, dengan analisis yang dikemukakan Haris Azhar, investor asing akan semakin takut datang investasi ke Indonesia. Bukan takut karena terganggu keamanan, tetapi takut karena isu-isu negatif yang dikembangkan oleh LSM terhadap para investor asing," demikian Rasyid menutup uraiannya. [guh]

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Prabowo-Pramono Pasangan Kuat Luar Dalam

Sabtu, 04 April 2026 | 06:08

Ancaman Cuaca Ekstrem dan Air Bersih Warga

Sabtu, 04 April 2026 | 05:40

Batas ‘Scroll’ Anak

Sabtu, 04 April 2026 | 05:14

Jangan Keliru Pahami Langkah Prabowo soal Kunjungan ke Luar Negeri

Sabtu, 04 April 2026 | 05:12

Vicky Mundur dari Polisi, Kasus yang Ditangani juga Ikutan Mundur

Sabtu, 04 April 2026 | 04:38

Satu Orang Tewas Imbas Kecelakaan Beruntun di Tol Solo-Semarang

Sabtu, 04 April 2026 | 04:03

Negara Harus Tegas atas Gugurnya Tiga Prajurit TNI

Sabtu, 04 April 2026 | 04:00

Mobil Tertimpa Pohon Tumbang di Bandung, Sopir Tewas

Sabtu, 04 April 2026 | 03:38

IAW Peringatkan Potensi Kebocoran Lebih Besar di Bea Cukai

Sabtu, 04 April 2026 | 03:26

Dedi Mulyadi Lunasi Tunggakan Gaji Pegawai Bandung Zoo

Sabtu, 04 April 2026 | 03:03

Selengkapnya