Berita

presiden sby/ist

Waspada, SBY Sedang Jualan Nasionalisme!

MINGGU, 24 JUNI 2012 | 11:41 WIB | LAPORAN:

RMOL. Di tengah kecaman publik terhadap beberapa kebijakan SBY, dan termasuk langkah-langkah pemerintah SBY dalam memimpin Indonesia, SBY mengeluarkan beberapa kebijakan yang oleh sementara kalangan bisa dinilai sebagai wujud nasionalisme SBY.

Misalnya, pertama Peraturan Presiden (Perpres) soal Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah yang konon akan mendorong penggunaan produk dalam negeri secara optimal. Kedua, divestasi saham miberba yang tertuang dalam dalam Peraturan Pemerintah (PP) 24/2012 yang mewajibkan perusahaan tambang asing untuk mendivestasi saham minimal 51 persen  setelah 10 tahun berproduksi.

Ketiga, Peraturan Menteri ESDM 07/2012 tentang Peningkatan Nilai Tambah Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral yang mewajibkan pengolahan dan pemurnian hasil tambang dilakukan di dalam negeri sebelum tahun 2014. Dengan Permen ini maka  secara otomatis semua perusahaan tambang tidak diperbolehkan mengekspor komoditas dalam bentuk bahan baku, melainkan dalam bentuk bahan jadi atau setengah jadi. Permen ini juga mewajibkan pengusaha tambang mineral melakukan kegiatan pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) di dalam negeri sebelum diekspor, maksimal pada Mei 2012.


Namun benarkah dengan kebijakan ini SBY telah benar-benar berganti haluan, dari sebelumnya dianggap sebagai presiden yang condong pada ekonomi pasar, menjadi presiden yang mengutamakan kepentingan nasional?

"Tunggu dulu!" Begitu disampaikan pengamat ekonomi-politik dan kebijakan publik Ichsanuddin Noorsy kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Minggu, 24/6).

Menurut Noorsy, semua kebijakan SBY ini bertolak belakang dengan kebijakan yang lain. Misalnya, tiga kebijakan SBY ini bertentangan Perpres 77/2007 tentang kebebasan berinvestasi dan bertentangan dengan UU 25/07 tentang Penanaman Modal yang dibiayai dan dirancang oleh Bank Dunia.

Dengan demikian, Noorsy mengingatkan, kebijakan SBY ini mencerminkan nasionalisme semu dan menciptakan ketidakpastian hukum. Tentu saja hal ini akan sangat berdampak penuruan pendapatan ekpsor dan penuruan bagi hasil sumber daya alam.

"Intinya, dengan tiga kebijakan ini, SBY sedang mencari muka dengan menggunakan nama nasionalisme. Waspadalah. Tentu saja,  ini nasionalisme palsu," demikian Noorsy. [ysa]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

UPDATE

Dana Asing Banjiri RI Rp2,43 Triliun di Akhir 2025

Sabtu, 03 Januari 2026 | 10:09

Pelaku Pasar Minyak Khawatirkan Pasokan Berlebih

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:48

Polisi Selidiki Kematian Tiga Orang di Rumah Kontrakan Warakas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:41

Kilau Emas Dunia Siap Tembus Level Psikologis Baru

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:19

Legislator Gerindra Dukung Pemanfaatan Kayu Hanyut Pascabanjir Sumatera

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:02

Korban Tewas Kecelakaan Lalu Lintas Tahun Baru di Thailand Tembus 145 Orang

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:51

Rekor Baru! BP Tapera Salurkan FLPP Tertinggi Sepanjang Sejarah di 2025

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:40

Wall Street Variatif di Awal 2026

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:23

Dolar AS Bangkit di Awal 2026, Akhiri Tren Pelemahan Beruntun

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:12

Iran Ancam Akan Targetkan Pangkalan AS di Timur Tengah Jika Ikut Campur Soal Demo

Sabtu, 03 Januari 2026 | 07:59

Selengkapnya