Berita

ilustrasi

PKS: Penangkapan Pegawai Pajak, TH, hanya Puncak Gunung Es

KAMIS, 07 JUNI 2012 | 10:14 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

RMOL. Penangkapan TH dan JG serta satu orang lagi lainnya kemarin siang, Rabu, (6/6) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi merupakan puncak gunung es dari maraknya praktik suap di lingkungan Ditjend Pajak. Kecilnya uang suap sebesar Rp285 juta bukan berarti kecil kasusnya.

"Saya yakin ini hanya kecil di puncak atau permukaannya. Tapi di dalamnya akan sangat luar biasa. Uang sebesar Rp 285 juta merupakan bagian kecil dari transaksi suap dari salah satu perusahaan saja," ungkap anggota Komisi III, Indra, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu, Kamis, (7/6).

Politisi PKS ini juga mempertanyakan bagaimana dengan transaksi sebelumnya yang tidak sempat terendus oleh KPK dan bagaimana dengan perusahaan-perusahaan yang lainnya yang juga menggunakan jasa TH.

"Ini merupakan kasus besar yang harus diungkap setuntas-tuntasnya. Siapa pemilik perusahaan yang menyuap TH? Karena tentunya patut diduga ini praktek suap seperti ini bukan yang pertama kalinya dilakukan perusahaan tersebut. Perusahaan-perusahaan apa saja yang sebelumya menggunakan jasa TH? Bagaimana keterlibatan atasan dan rekan kerja TH lainnya? Kenapa wajib pajak lebih suka memberikan atau menyuap pegawai pajak dari pada membayar pajak kenegara? Itu semua harus diungkap oleh KPK," bebernya.

Sambung Indra, birokrasi yang rumit dan mentalitas yang korup merupakan akar dari praktek-praktek suap tersebut. Harus ada reformasi besar-besaran di tubuh Ditjend Pajak. Negeri ini harus belajar dari terungkapnya kasus Gayus Tambunan, Dhana Widyatmika dan sekarang ini TH.

"Bayangkan saja pegawai pajak sekelas mereka saja telah mampu melakukan korupsi ratusan juta hingga ratusan miliar. Jadi janganlah bangsa ini menjadi bangsa keledai yang terus terjerembab pada lubang yang sama," katanya mengingatkan.

Jadi, kata Indra, kalau Presiden SBY memang serius ingin memberantas korupsi di negeri ini dan tidak skedar retorika atau pencitraan belaka, serta tidak membiarkan bangsa kita menjadi bangsa kedelai, SBY harus juga serius melakukan fokus pembenahan, pencegahan, dan penindakan disektor pendapatan negara ini.

"Harus ada langkah-langkah yang serius, revolusioner dan terukur dari para aparat penegak hukum beserta instansi terkait dalam membenahi korupsi di sektor pendapatan negara ini," demikian Indra. [zul]


Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

UPDATE

Austria Tolak Wilayah Udaranya Dipakai AS untuk Serang Iran

Jumat, 03 April 2026 | 00:15

Memutus Mata Rantai Rabun Jauh Birokrasi

Kamis, 02 April 2026 | 23:50

PHE Tampilkan Inovasi Hulu Migas di Ajang Offshore Internasional

Kamis, 02 April 2026 | 23:21

Spirit ‘Kurban’ Prajurit UNIFIL

Kamis, 02 April 2026 | 22:57

Pencarian Berakhir Duka, Achmad Ragil Ditemukan Meninggal di Sungai Way Abung

Kamis, 02 April 2026 | 22:39

Robert Priantono Dicecar KPK soal Pungutan Tambang Kukar

Kamis, 02 April 2026 | 22:01

China Ajak Dunia Bersatu Dukung Inisiatif Perdamaian di Wilayah Teluk

Kamis, 02 April 2026 | 21:42

DPR: BPS Bukan Sekadar Pengumpul Data, tapi Penentu Arah Pembangunan

Kamis, 02 April 2026 | 21:31

78 Pejabat Pemkot Surabaya Dirotasi, Ada Apa?

Kamis, 02 April 2026 | 21:18

OJK Siap Luncurkan ETF Emas Akhir April 2026

Kamis, 02 April 2026 | 21:08

Selengkapnya