Berita

Tjatur Sapto Edy/ist

GRASI UNTUK CORBY

PAN: Tak Perlu Interpelasi Presiden, Cukup Minta Penjelasan Menkumham

RABU, 30 MEI 2012 | 10:59 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

RMOL. Wakil Ketua Komisi III DPR, Tjatur Sapto Edy menyayangkan keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan grasi kepada terpidana narkoba asal Australia, Schapelle Corby. Selain karena tidak ada keterbukaan dari Presiden, dia juga mengingatkan, bahwa dalam UU Grasi, secara tersirat, grasi diberikan lebih kepada faktor kemanusian dan keadilan.

"Secara subtansi kita menyanyangkan. Namun kalau mengajukan hak interpelasi tidak tepat. Karena ini hak proregatif Presiden, bukan kebijakan," ujar Tjatur di gedung Parlemen, Senayan Jakarta, Rabu, (30/5).

Karena itu, politisi PAN ini meminta kepada teman-temannya di Komisi III
untuk mempertanyakan hal tersebut dengan tajam kepada Menteri Hukum dan HAM, Amir Syamsudddin, bukan mengajukan hak interpelasi kepada Presiden. "Apa latarbelangnya, apa pertimbangannya, ada apa alasannya grasi (diberikan)," ungkap Tjatur.

Meski begitu, Tjatur tidak melihat pemberian grasi itu dimaksudkan barter dengan warga Indonesia yang ditahan di negara kangoroo tersebut. Dia pun yakin Presiden SBY punya pertimbangan yang matang sebelum memberikan grasi tersebut kepada terpidana 20 tahun penjara itu.

"Kalau secara hukum tidak masalah grasinya. (Tapi) di atas hukum itu ada kepentingan yang seluas-luasnya. Asumsi saya presiden tidak akan gegabah," cetusnya.

Kepentingan seluas-luas seperti apa maksudnya?

"Misalnya, ada kesepakatan politik anatra Indonesia dengan Australia. Di samping menjaga Papua, juga mungkin WNI kita diberi keringatan yang sama disana (Australia). Kita sebagai bangsa, kedaulatan adalah segala-galanya," jawabnya.

Tjatur juga menyayangkan pemberantasan narkoba yang tidak begitu maksimal. "Di saat kita gencar memberantas korupsi, namun terlalu lunak hukum pemberantasan narkoba kita. Dan penegak hukum kita tidak tegas dan hakim-hakim tidak maksimal," ungkapnya. [zul]


Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

UPDATE

Austria Tolak Wilayah Udaranya Dipakai AS untuk Serang Iran

Jumat, 03 April 2026 | 00:15

Memutus Mata Rantai Rabun Jauh Birokrasi

Kamis, 02 April 2026 | 23:50

PHE Tampilkan Inovasi Hulu Migas di Ajang Offshore Internasional

Kamis, 02 April 2026 | 23:21

Spirit ‘Kurban’ Prajurit UNIFIL

Kamis, 02 April 2026 | 22:57

Pencarian Berakhir Duka, Achmad Ragil Ditemukan Meninggal di Sungai Way Abung

Kamis, 02 April 2026 | 22:39

Robert Priantono Dicecar KPK soal Pungutan Tambang Kukar

Kamis, 02 April 2026 | 22:01

China Ajak Dunia Bersatu Dukung Inisiatif Perdamaian di Wilayah Teluk

Kamis, 02 April 2026 | 21:42

DPR: BPS Bukan Sekadar Pengumpul Data, tapi Penentu Arah Pembangunan

Kamis, 02 April 2026 | 21:31

78 Pejabat Pemkot Surabaya Dirotasi, Ada Apa?

Kamis, 02 April 2026 | 21:18

OJK Siap Luncurkan ETF Emas Akhir April 2026

Kamis, 02 April 2026 | 21:08

Selengkapnya