Berita

ilustrasi

Kapolri Harus Bertanggung Jawab atas Kerusuhan Solo, Salihara, dan Bekasi

SELASA, 08 MEI 2012 | 09:58 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

RMOL. Rentetan aksi kekerasan pekan lalu dikecam banyak kalangan. Aparat dinilai efektif bertindak sebagai alat FPI dan ormas intoleran lainnya untuk memaksakan kehendak merampas HAM rakyat.

Hal itu disampaikan anggota Komisi III DPR Eva Sundari menanggapi insiden kerusuhan Solo pada Kamis dan Jumat; pembubaran paksa diskusi di Salihara, Jakarta pada Jumat malam, serta puncaknya pelarangan beribadah di HKBP Filadelfia Bekasi Minggua siang. Menurutnya, semuanya mempunyai pola yang sama.

Aparat polisi Solo membiarkan para aktivis ormas berkeliaran di Gandekan menentengi senjata tajam dan melakukan pembacokan ke warga. Sebaliknya, warga yang mau mencegah dan bereaksi justru ditodong pistol aparat dan dilarang keluar rumah. Yang parah, Kapolres Solo justru menyalahkan warga atas insiden yang dipicu dendam dua kelompok, yaitu FPI dan Walet.

"Insiden Salihara menunjukkan pola yang sama. Aparat kepolisian aktif menjadi messenger (utusan) FPI untuk membubarkan acara di ruang yang tergolong privat. Aktivis Kanada Manji (lepas dari kontroversi pandangan-pandangannya), adalah tamu sah negara dan masuk secara legal sehingga negara mempunyai kewajiban melindungi HAM Manji," ungkapnya.

Sedangkan tindakan kepolisian yang tidak antisipatif dan menyiapkan strategi khusus berdasarkan preseden minggu-minggu sebelumnya di HKBP Filadelfia mencapai puncaknya Minggu siang.

"Seperti kasus GKI Yasmin, Putusan MA atas IMB gereja HKBP Filadelfia juga tidak mendapat dukungan penegakannya dari aparat negara (pemda dan polisi). Aparat justru bergabung dalam pembangkangan hukum sebagamaina desakan kelompok intolerans," ungkap politikus PDI Perjuangan ini.

Penyelesaian hukum tanpa keadilan, penyerang (perpetrators) tidak dijamah dan korban (victims) dikorbankan adalah praktek memprihatinkan dari kepolisian dan substansinya melanggar hukum dan justru memunculkan konflik-konflik laten yang berkepanjangan.

Atas serangkaian aksi kekerasan itu, PDIP memberikan catatan kepada Kapolri di tahun pertama kepemimpinan beliau karena kelompok-kelompok intoleran dengan eskalasi tindakan kekerasannya semakin memburuk.

"Kapolri harus bertanggungjawab atas ketidakberdayaan kepolisian dalam menghadapi kelompok intoleran dan memperbarui strategi penertiban kerusuhan yang menjamin tujuan perlindungan, penegakan dan pemenuhan HAM (minoritas) rakyat," demikian Eva. [zul]


Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

UPDATE

Austria Tolak Wilayah Udaranya Dipakai AS untuk Serang Iran

Jumat, 03 April 2026 | 00:15

Memutus Mata Rantai Rabun Jauh Birokrasi

Kamis, 02 April 2026 | 23:50

PHE Tampilkan Inovasi Hulu Migas di Ajang Offshore Internasional

Kamis, 02 April 2026 | 23:21

Spirit ‘Kurban’ Prajurit UNIFIL

Kamis, 02 April 2026 | 22:57

Pencarian Berakhir Duka, Achmad Ragil Ditemukan Meninggal di Sungai Way Abung

Kamis, 02 April 2026 | 22:39

Robert Priantono Dicecar KPK soal Pungutan Tambang Kukar

Kamis, 02 April 2026 | 22:01

China Ajak Dunia Bersatu Dukung Inisiatif Perdamaian di Wilayah Teluk

Kamis, 02 April 2026 | 21:42

DPR: BPS Bukan Sekadar Pengumpul Data, tapi Penentu Arah Pembangunan

Kamis, 02 April 2026 | 21:31

78 Pejabat Pemkot Surabaya Dirotasi, Ada Apa?

Kamis, 02 April 2026 | 21:18

OJK Siap Luncurkan ETF Emas Akhir April 2026

Kamis, 02 April 2026 | 21:08

Selengkapnya