Converter Kit
Converter Kit
RMOL. Para pengguna mobil pelat hitam kini penasaran dengan converter kit atau alat konversi BBM subsidi ke gas. Untuk meÂngetahui proses peÂmasangannya, Rakyat MerÂdeka mengunjungi Autogas, bengkel reÂkanan KeÂmenterian Energi dan SumÂber DaÂya Mineral (ESDM) unÂtuk peÂmasangan converter kit di KaÂwasan Tangerang, Kamis (12/1)
Di bengkel itu terdapat bebeÂrapa mobil yang sedang memaÂsang converter kit. Salah satuÂnya mobil dinas Wakil MenÂteri (Wamen) ESDM Widjajono ParÂtowidagdo. Mobil Honda Civic tersebut itu selesai dipaÂsang alat buatan Italia tersebut.
Yang menarik perhatian justru soal penempatan tabung gas yang berada dibagasi mobil deÂngan pelat nomer B 1720 RFT tersebut. Tabung itu mirip taÂbung gas elpiji 12 kilogram (kg). Ukurannya besar sehingga terÂpaksa menguÂrangi luas bagasi.
Hal yang sama terÂlihat di mobil jenis Toyota InnoÂva. PeÂmiliknya yang mau meÂmasang converter kit harus merelakan bagasinya untuk dipakai taÂbung gas.
Selain mengurangi kenyaÂmaÂnan, keberadaan tabung yang berÂada di tengah itu juga menÂjadi ancaman. Karena kalau terÂjadi kebocoran, bisa meÂnyeÂbabÂkan ledakan. TemÂpat peÂngisian gasnya berada di bawah mobil atau samÂping knalpot. SedangÂkan unÂtuk reducer, filter, injector rail, change over switch dan gas ecu tidak ada masalah karena ditempatkan di bagian mesin.
Mobil-mobil tersebut juga menerapkan sistem dual fuel sehingga pemiliknya memÂpuÂnyai pilihan apakah mengÂguÂnakan BBM atau gas. Untuk proÂses pemasangan akan berÂlangsung selama sekitar dua hari karena harus melaÂkukan setting pembakaran.
Harga untuk satu paket conÂverter kit dijual Rp 12-15 juta. Mahalnya harga disebabkan alatnya masih di impor dari ItaÂlia. Sedangkan, PT DirganÂtara Indonesia untuk saat ini baÂru memasok tabungnya saja.
NaÂmun, yang perlu jadi perÂhatian para pemilik kendaraan adaÂlah asuransi mobilnya. MoÂbil yang masih ada asuÂranÂsinya jika dipasang converter akan “hangus†asuransinya.
Menanggapi hal itu, Program Manager Converter Kit PT DirÂgantara Indonesia (PTDI) AhÂmad Syaichu menegaskan, peÂmasangan converter kit aman.
“BBM itu kecepatannya nyaÂlaÂÂnya 40 meter per second (m/s), sedangkan elpiji itu 0,82 m/s jadi secara teknis lebih aman,†kata Ahmad kepada Rakyat Merdeka.
Menurutnya, saat ini yang haÂrus dilakukan adalah bagaiÂmana menyakinkan masyarakat soal keamanan penggunaan gas unÂtuk mobil seperti pengguÂnaan gas 3 kg. Dikatakan, samÂpai saat ini belum ada mobil yang meleÂdak karena memaÂsang converter kit.
Menurutnya, tabung made in PTDI sudah sesuai dengan stanÂdar internasional dan terdapat safety valve dan selenoid valve untuk menjaga keamanan.
Untuk tahun ini, pihakÂnya akan membuat sekitar 500 unit converter kit dengan rincian 200 unit akan dipakai di PaÂlembang dan 300 unit di JaÂkarta. Ke depan, dia menargetÂkan PTDI akan memÂbuat 68 riÂbu converter kit per tahun. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Senin, 12 Januari 2026 | 04:13
Senin, 12 Januari 2026 | 04:08
Senin, 12 Januari 2026 | 03:38
Senin, 12 Januari 2026 | 03:08
Senin, 12 Januari 2026 | 03:04
Senin, 12 Januari 2026 | 02:35
Senin, 12 Januari 2026 | 02:15
Senin, 12 Januari 2026 | 02:13
Senin, 12 Januari 2026 | 01:37
Senin, 12 Januari 2026 | 01:16