Berita

m.aji surya/ist

FROM MOSCOW WITH LOVE (31)

Apes Politik

Oleh: M. Aji Surya
MINGGU, 15 JANUARI 2012 | 07:29 WIB

Politik pada dasarnya sangat kejam. Kuku-kukunya terbukti melukai banyak orang. Bahkan membunuh mereka yang tidak tahu menahu sekalipun.
stateless. Ada pula yang kemudian lari terbirit-birit ke beberapa negeri Barat untuk mencari hidup yang lebih baik.

Mereka yang waktu itu berada di negeri beruang merah, benar-benar kocar kacir. Takut kembali ke Indonesia sekaligus tidak merasa nyaman di negeri orang. Mereka merindukan tanah air dan keluarga namun tersekat oleh tebalnya tembok yang namanya Perang Dingin. Di sisi lain, studi yang mereka lakukan menjadi tidak fokus. Banyak yang terbengkelai dan berhenti di tengah jalan. Beberapa diantaranya tetap tekun belajar hingga menjadi doktor dan profesor lalu mengabdi kepada Uni Soviet dan Rusia.

Salah satu yang terberat yang dihadapi oleh mereka yang kemudian disebut eks Mahasiswa Ikatan Dinas (Eks Mahid), adalah kepedihan hatinya yang terpisahkan dengan keluarga dan tanah airnya tanpa suatu alasan yang jelas. Bahkan, eksistensinya sebagai warga negara dinafikan dengan pencabutan paspornya sehingga dirinya seperti layang-layang yang putus talinya.Terbang melayang entah kemana.


Sakit hati itu bisa dimaklumi mengingat apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang saat itu tidak dianggap melanggar aturan. Sesuatu yang malah direstui dan didorong oleh pemerintah saat itu. Mereka menimba ilmu pengetahuan untuk dipersembahkan kepada nusa dan bangsanya. Meski ada juga diantaranya datang karena adanya kedekatan ideologi, namun lagi-lagi, ideologi tersebut bukan barang terlarang saat itu.

Selama Orde Baru, korban-korban ini banyak yang "bergentayangan" ke berbagai sudut dunia. Di Soviet, Eropa Barat bahkan Amerika Latin. Kawin dengan orang setempat dan beranak pinak sampai saat ini. Banyak diantara mereka bahkan dalam keadaan hidup yang sangat sederhana, papa, kekurangan sehingga tidak pernah bisa untuk pulang ke Indonesia meskipun jaman sudah berubah.

Yang jelas, hati mereka menangis setiap hari meratapi sebuah kenyataan yang sangat pahit dirasakan. Terlunta-lunta di negeri orang dan terus menghadapi kesulitan besar tanpa pernah tahu sebabnya. Hanya karena perubahan sebuah rejim pemerintahan semata. Hanya karena munculnya sebuah rejim yang akhirnya tumbang juga.

Kepedihan hatinya tetap saja muncul di hari tua seperti saat ini. Mereka yang rata-rata sudah berusia 70an tahun tersebut sangat jarang yang berani untuk pindah warga negara Indonesia lagi. Maklum, tunjangan pensiun biasanya sulit ditransfer manakala yang bersangkutan pindah warga negara. Semua ini hanya menambah rasa sesak di dalam dada.

Di sisi lain, negeri ini telah kehilangan sebuah kesempatan emas memanfaatkan warga terbaiknya untuk memajukan masyarakat. Hukuman yang ditimpakan kepada para professor dan doktor tersebut pada galibnya merupakan sebuah kebijakan anti kemajuan. Sebuah kesia-siaan yang tanpa makna. Inilah sebuah keapesan akibat sebuah ambisi politik. Sesuatu yang tidak boleh berulang lagi di masa datang.

Panteslah kalau kemudian Richard Armour bilang bahwa politik itu hanya perduli  kanan dan kiri, tetapi tidak perduli soal salah dan benar. Atau malah seperti yang diungkapkan Nikita Khrushchev: "Politician are the same all over. They promise to build a bridge even where there is no river".
(Penulis adalah WNI yang tinggal di Rusia, ajimoscovic@gmail.com)

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya