Berita

ilustrasi/ist

On The Spot

Sampah di Pintu Air Kok Belum Dibersihkan

Siklus Banjir Besar Lima Tahunan Ancam Jakarta
JUMAT, 13 JANUARI 2012 | 08:57 WIB

RMOL.Dian Nur Cahyono mengawasi air yang melalui pintu air Manggarai, Jakarta Selatan. Ia lalu membuka buku tulis seukuran map di atas meja pos pemantaun. Pria berusia 28 tahun ini mencatat ketinggian air ke dalam buku itu.

Sebagai penjaga pintu air, Dian harus mencatat ketinggian air setiap jam. Pria yang bersudah bertugas lima tahun ini juga harus melapor ke Posko Banjir Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta.

Debit air di pintu air Manggarai ter­lihat masih setinggi 690 cen­timeter. “Masih di bawah normal. Normalnya 750 centimeter,” kata Dian.  Memantau dan mencatat ke­tinggian air setiap jam meru­pa­kan rutinitas sehari-hari pria asal Purwokerto, Jawa Tengah ini. Dian makin sibuk bila keting­gian air sudah di atas normal.

Bila ketinggian air sudah men­capai 850 centimeter, Dian harus mencatat dan melapor ke Dinas Pekerjaan Umum setiap 15 menit sekali. “Laporannya bisa melalui radio maupun telepon genggam,” kata dia.

Pintu air Manggarai adalah pe­nga­tur aliran air Sungai Cili­wung yang berasal dari Bogor, Banjir Kanal Barat dan Kali Jalan Su­ra­baya. Pada musim hujan, pe­man­tauan ketinggian air di pintu air ini penting untuk mengantisipasi banjir. Apalagi, ibu kota di­ba­yang-bayangi siklus banjir besar lima tahunan.

Pemantauan ketinggian air di pintu air Manggarai dilakukan 24 jam sehari. Ada enam petugas pemantau yang berjaga secara bergiliran.

“Kami jaga mulai jam 8 pagi sampai jam 8 pagi esok harinya. Setelah itu libur dan masuk lagi keesokan harinya,” kata Dian.

Namun bila ketinggian air su­dah mencapai 950 centimeter, se­mua petugas harus berada di pin­tu air ini. Mereka tak di­per­bo­leh­kan pulang. Sebab mereka meng­hadapi kondisi Siaga I.

Ada beberapa status kesiagaan berdasarkan ketinggian air di pintu air ini. Status Siaga IV dite­tapkan bila ketinggian air masih kurang dari 750 cm. Pengaturan buka tutup pintu air masih berada di tangan operator pintu air.

Status Siaga III ditetapkan bila ketinggian air berkisar antara 750 sampai 850 cm. Yang berwenang dalam pengaturan air adalah Kepala Seksi.

Namun kewenangan itu akan diambil alih Kepala Dinas Pe­ker­jaan Umum bila ketinggian air sudah berkisar antara 850 sampai 950 cm. Kondisi ini dianggap sudah Siaga II.

Sementara Siaga I ditetapkan bila ketinggian air sudah di atas 950 cm. Kewenangan untuk buka tutup pintu air sudah diserahkan kepada Gubernur DKI Jakarta.

Sebab, pembukaan pintu air saat ketinggian air sudah di atas 950 cm akan menyebabkan se­jum­lah obyek vital terendam air. Sa­lah satunya, kawasan Istana Negara.

Pos Pemantau Pintu Air Mang­garai terletak di Jalan Tambak Nomor 59, Manggarai, Jakarta Se­latan. Keberadaan pintu air ini berdekatan dengan Stasiun Kereta Manggarai.

Untuk masuk ke area pintu air Manggarai disediakan gerbang selebar tiga meter. Halaman de­pan cukup luas bisa menampung kendaraan roda empat dan roda dua.  Di bagian tengah berdiri ba­ngu­nan berukuran 7x4 meter yang dicat warna kuning dan biru di bagian bawahnya.

Ruangan di sebelah kanan digunakan untuk ruang tamu. Satu set sofa disediakan di sini. Ju­ga sebuah televisi 21 inci.  Rua­ngan di sebelah kiri berukuran le­bih besar. Ruangan ini dijadikan pusat komunikasi antara operator pintu air Manggarai dengan Di­nas Pekerjaan Umum DKI Jakarta.

Di tempat ini terdapat meja panjang yang di atasnya ditem­pat­kan dua perangkat radio ko­mu­nikasi. Di dinding ruangan di­pa­jang gambar Sungai Ciliwung pada tahun 1930.

Di bagian belakang terdapat ba­ngunan dua lantai. Lantai ba­wah digunakan untuk tempat ti­dur petugas. Sedangkan lantai dua ditempatkan panel untuk membuka dan menutup pintu air.

Tak jauh dari ruang pemantau ter­dapat pintu air selebar tujuh me­ter. Jaring-jaring menangkap sam­pah dibuka. Terlihat sampah me­numpuk di salah satu sisi pintu air.

Sebuah eskavator parkir di ping­gir pintu air. Alat berat di­gu­nakan untuk mengeruk sampah. Saat Rakyat Merdeka datang tak terlihat aktivitas membersihkan sampah. Dian mengatakan, pintu air Manggarai kerap dipenuhi tum­pukan sampah. Sampah-sam­pah berasal dari Sungai Cili­wung yang kemudian menyangkut di sini.

Walaupun Jakarta mulai di­gu­yur hujan setiap hari, ketinggian air di sejumlah pintu air masih nor­mal. “Saat ini sebagian besar masih Siaga IV. Tapi kami tetap te­rus berjaga dan waspada me­ngantisipasi segala kemung­ki­nan,” kata Kepala Badan Pe­nang­gulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Arfan Akilie.

Berdasarkan data BPBD, posisi pintu air Katulampa masih berada di angka 20 cm dengan batas ba­wah Siaga III adalah 80 sen­timeter.  Kemudian untuk pintu air Manggarai juga masih masih Siaga IV dengan ketinggian muka air 690 cm dengan batas bawah Siaga III adalah 750 cm.

Sementara posisi air di pintu air Depok berada di angka 105 cm dengan batas bawah Siaga III setinggi 200 cm.  Status Siaga III su­dah ditetapkan di pintu air Pa­sar Ikan. Sebab ketinggian air di sini sudah mencapai 200 cm.

Arfan berharap di tahun 2012 ini tak ada banjir besar yang me­landa Jakarta. Badan Meteo­ro­lo­gi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca ekstrem berupa hujan deras di Ja­karta baru akan berakhir antara bu­lan Maret sampai April mendatang.

Kepala Sub Bidang Peringatan Dini Cuaca Ekstrem BMKG Kukuh Rubiyanto mengatakan, potensi curah hujan di Jakarta selama Januari ini diprediksi tinggi, yakni di atas 400-500 milimeter.

Potensi curah hujan yang lebih tinggi berada di wilayah selatan dan barat Jakarta, Bogor serta Tangerang. Curah hujan tinggi akan terjadi pada pagi, sore hingga dini hari.

Jaga Pintu Air, Rumah Sendiri Terendam Banjir

Pekerjaan Dian Nur Cah­yono memang hanya penjaga pintu air. Tapi di tangannya na­sib ribuan warga Jakarta di­ten­tukan. Keputusannya untuk membuka pintu air bakal ber­dam­pak terendamnya sejumlah wilayah di ibu kota.

Sebab itu, dia selalu waswas setiap kali masuk musim hujan. Hujan yang turun terus menerus membuat permukaan air Sungai Ciliwung naik. “Kalau debit air ting­gi, beberapa daerah di Ja­karta akan kebanjiran,” kata pria berusia 28 tahun ini.

Dian mengaku pernah disat­roni warga yang tinggal di ban­taran Sungai Ciliwung. Warga meminta agar pintu air Mang­ga­rai tak dibuka karena bakal menyebabkan rumah mereka terendam air.

“Tapi setelah kami jelaskan efeknya bila bendungan ditutup akan mengalami banjir yang lebih parah, akhirnya mereka mengerti,” katanya.

Dian pun harus siap tak pu­lang ke rumah jika ketinggian air di Pintu Air Manggarai su­dah masuk Siaga I atas di atas 950 cm. “Tahun 2007 lalu, saya sampai nggak pulang selama empat hari,” katanya.

Padahal saat itu rumahnya yang berada di kawasan Mang­garai juga ikut tenggelam te­r­ke­na banjir. “Karena kami be­kerja secara profesional, urusan menjaga pintu air lebih di­uta­ma­kan dibanding menye­la­mat­kan rumah sendiri,” katanya.

Dian pun diprotes istri dan anak­nya karena lebih mengu­ta­makan pekerjaan. “Memang pekerjaan kami seperti ini. Mau nggak mau harus ngerti. Yang penting bisa bagi waktu. Wak­tunya pulang kami pulang, keti­ka tugas kami tugas,” tuturnya.

Beban Dian sedikit ber­ku­rang pada musim kemarau. Se­bab, pada musim jarang turun hujan sehingga debit air Sungai Ciliwung maupun pintu air Mang­garai rendah. “Kalau ke­marau kami bisa libur lebih ba­nyak dan tidak harus mengi­nap,” katanya.

Keberadaan pintu air sangat vital untuk memantau potensi banjir yang bakal melanda ibu kota. Namun selama ini, Dian me­ngaku kesulitan ber­koor­dinasi dengan petugas pintu air di wilayah lain.

“Selama ini alat komunikasi kami dua, radio dan telepon. Tapi radio frekuensi kami ba­nyak yang bocor,” ujarnya. Aki­batnya koordinasi dan penye­baran informasi penting me­nge­nai ketinggian air di suatu pintu air terhambat.

Ia berharap Pemerintah DKI Jakarta menambah fasilitas ko­munikasi antar penjaga pintu air. “Kalau ada komputer yang online, jadi informasinya bisa ce­pat,” katanya. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

UPDATE

Jusuf Kalla: Konflik Timteng Berpotensi Tekan Ekonomi Global dan Indonesia

Jumat, 13 Maret 2026 | 04:19

Permohonan Restorative Justice Rismon Menggemparkan

Jumat, 13 Maret 2026 | 04:07

Reset Amerika

Jumat, 13 Maret 2026 | 04:01

Sinopsis One Piece Season 2 di Netflix Petualangan Baru Luffy di Grand Line

Jumat, 13 Maret 2026 | 03:32

Rismon Ajukan RJ, Ahmad Khozinudin: Label Pengkhianat akan Abadi

Jumat, 13 Maret 2026 | 03:23

BPKH Bukukan Aset Konsolidasi Rp238,99 Triliun hingga Akhir 2025

Jumat, 13 Maret 2026 | 03:08

ICWA Minta RI Kaji Lagi soal Gabung Board of Peace

Jumat, 13 Maret 2026 | 03:00

Rismon Siap Dicap Pengkhianat Usai Minta Maaf ke Jokowi

Jumat, 13 Maret 2026 | 02:24

Indonesia Diminta Aktif Dorong Perdamaian Timteng

Jumat, 13 Maret 2026 | 02:07

KPK Sita Aset Rp100 Miliar Lebih dari Skandal Kuota Haji Era Yaqut

Jumat, 13 Maret 2026 | 02:04

Selengkapnya