ilustrasi
ilustrasi
RMOL. Rencana pemerintah membangun Jembatan Selat Sunda (JSS) yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Sumatera kurang efektif dan akan lebih banyak "mudharatnya" dibanding manfaatnya. Rencana itu juga menunjukkan bahwa orientasi pemerintah memang lebih ke darat. Padahal, luas laut dan potensinya sangat besar.
"Pembangunan jembatan Selat Sunda sangat rentan dan bisa jadi penghamburan anggaran walaupun itu dana investor, apalagi kalau sifatnya pinjaman atau loan (utang), dan tidak menghormati Indonesia sebagai negara bahari dengan jumlah pulau sangat banyak," kata Direktur Eksekutif Indonesia Maritime Institute (IMI) Y Paonganan, kepada Rakyat Merdeka Online, Selasa (10/1).
Selain itu, Doktor bidang Kelautan lulusan IPB itu menilai JSS rawan runtuh karena kehadiran anak Gunung Krakatau yang sewaktu-waktu bisa meletus, yang tentunya akan menimbulkan gempa dan gelombang tsunami. Selain itu, jalur gempa di selatan Pulau Jawa dan sepanjang pesisir barat Sumatera. Oleh karena itu, tegas dia, IMI menolak pembangunan jembatan Selat Sunda yang berjarak sekitar 31 km dengan biaya tinggi, karena riskan baik dari sisi kerentanan terhadap gempa maupun dari sisi ekologis perairan Laut Jawa.
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Minggu, 11 Januari 2026 | 18:14
Minggu, 11 Januari 2026 | 18:10
Minggu, 11 Januari 2026 | 17:52
Minggu, 11 Januari 2026 | 17:01
Minggu, 11 Januari 2026 | 16:37
Minggu, 11 Januari 2026 | 15:53
Minggu, 11 Januari 2026 | 15:22
Minggu, 11 Januari 2026 | 15:15
Minggu, 11 Januari 2026 | 14:50
Minggu, 11 Januari 2026 | 14:39