ilustrasi, kartu Credit Card
ilustrasi, kartu Credit Card
RMOL. Agar tidak terjadi kegaduhan dalam kepemilikan kartu kredit, Bank Indonesia (BI) akhirnya resmi mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) mengenai Alat PemÂbaÂyaran dengan Menggunakan Kartu (APMK). Dalam aturan itu, tidak semua nasabah bisa memiliki kartu kredit.
Gubernur BI Darmin NasuÂtion menuturkan, aturan PBI ini untuk menata kembali kepeÂmiÂlikan credit card (kartu kredit) yang diÂberikan bank terhadap nasabah dengan memperÂhatikan syarat syarat yang ada.
“Nantinya, penerbit (bank) haÂrus menerapkan manajemen riÂsiko dengan memperhatikan baÂtas minimum usia pemegang karÂtu, pendapatan, maksimum plaÂfon kartu, jumlah penerbit dan miÂnimum pembayaran pemegang kartu,†ujar Darmin melalui PBI Nomor 14/2/PBI/2012 tentang APMK di Jakarta, kemarin.
Dia menjelaskan, aturan ini akan efektif Januari 2013. Dalam perÂaturan itu diseÂbutÂkan, pemeÂgang kartu kredit minimal harus berusia 21 tahun atau telah meÂnikah deÂngan miniÂmum usia 17 tahun. Selain itu, pemegang kartu harus memiliki penghasilÂan miÂnimal Rp 3 juta per bulan.
“Selama masa transisi ini bank harus mulai menyesuaikan aturan terseÂbut. Maksimal plafon kredit adalah 3 kali pendapatan per bulan dan penerapannya berlaku secara industri. Calon pemegang kartu yang pendapatan per buÂlannya kurang dari Rp 10 juta diÂkenakan pembatasan plafon serta pemÂbatasan perolehan karÂtu kredit maksimum dari 2 peÂnerÂbit,†jelas Darmin.
Adapun, calon pemegang karÂtu yang pendapatan per buÂlannya Rp 10 juta ke atas, lanjut Darmin, tidak dikenakan pemÂbatasan jumÂlah plafon dan kartu dari 2 peÂnerbit, sehingga anaÂlisis kreÂdit sepenuhnya diÂserahkan keÂpada bank. Bank juga diwaÂjibÂkan meÂÂngenakan maksimum bunga karÂtu kredit 3 persen per bulan.
“Penerbit kartu kredit wajib memberikan informasi tertulis kepada pemegang kartu tentang prosedur dan tata cara pengÂguÂnaan kartu, hak dan kewajiban, pengaduan kartu, pola pengÂhiÂtungan bunga dan biaya (fee), serta ringkasan transaksi kartu kredit,†terang Darmin.
Ketua Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (PerbaÂnas) Sigit Pramono menyatakan tidak keberatan dengan aturan BI meÂngenai APMK ini. Sebab, meÂnurutnya, aturan itu tidak meÂngurangi pendapatan industri. Sebaliknya, langkah ini dinilai menguntungkan karena akan meÂngurangi risiko kredit macet di layanan kartu kredit.
“Bank sudah seharusnya selekÂtif menawarkan kartu kredit. Bank harus memperhitungkan pendaÂpatÂan nasabah, usia, bunga dan sebaÂgainya. Kalau sekarang, kan setiap orang lewat di mall bisa ditawari kartu kredit denga mudah,†kritik Sigit.
Senada dengan Sigit, ManaÂging Director Asosiasi Kartu KreÂdit Indonesia (AKKI) Steve MarÂtha juga tidak keberatan dengan pembatasan bunga kartu kredit maksimal 3 persen.
“Untuk turunkan bunga, kita bisa tekan biaya operasional dan kecilkan margin. Jadi bunga tidak masalah, kita sepakat,†ujar Steve kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Namun, Steve bilang, AKKI tetap menginginkan adaÂnya peÂnerapan denda bagi naÂsabah yang tidak membayar peÂnuh utangnya per bulan. Sebab, jika tanpa denda, nasabah dinilai cenderung malas membayar ciÂcilan utang kartu kreditnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Minggu, 11 Januari 2026 | 18:14
Minggu, 11 Januari 2026 | 18:10
Minggu, 11 Januari 2026 | 17:52
Minggu, 11 Januari 2026 | 17:01
Minggu, 11 Januari 2026 | 16:37
Minggu, 11 Januari 2026 | 15:53
Minggu, 11 Januari 2026 | 15:22
Minggu, 11 Januari 2026 | 15:15
Minggu, 11 Januari 2026 | 14:50
Minggu, 11 Januari 2026 | 14:39