Berita

ilustrasi/ist

Adhie M Massardi

Titik Api Sondang

Oleh Adhie M. Massardi
RABU, 14 DESEMBER 2011 | 12:14 WIB

PERIODE kedua Yudhoyono diawali dengan kesangsian publik atas dua hal. Pertama, tentang kejujuran KPU (Pemilu) meliputi (korupsi) pengadaan sistem teknologi informasi (TI) hingga mekanisme penghitungan suaranya yang sangat janggal.
Kedua, terciumnya bailout Bank Century sebagai skandal keuangan negara terbesar di era reformasi, yang mendorong munculnya nama Boediono ke pentas politik nasional. Kita tahu, Gubernur BI (waktu itu) Boediono ,“si pengucur” uang negara Rp 6,7 triliun yang seolah-olah dialirkan guna menalangi kebangkrutan Bank Century,  kemudian menyingkirkan kandidat lain sebagai Wakil Presiden bagi Yudhoyono.

Kejujuran KPU dalam Pemilu 2009 dan kesangsian banyak orang akan kemenangan 60,28 persen pasangan Yudhoyono-Boediono, yang diberitakan dengan gencar oleh beberapa lambaga survei dalam versi quick-count (hitungan cepat) sejak 10 Juli 2009, terkubur dalam serpihan bangunan hotel JW Marriott dan Ritz Carlton yang dibom pada 17 Juli 2009.

Niat Ketua KPK (saat itu) Antasari Azhar membongkar skandal TI di KPU pun kandas, karena yang bersangkutan sejak awal Mei 2009 dijebloskan ke penjara lewat rekayasa kasus pembunuhan Nasrudin. Kemungkinan membuka skandal “mafia Pemilu 2009” semakin gelap setelah Polri tak sanggup memenjarakan Andi Nurpati yang diadukan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD terlibat mafia Pemilu. Andi Nurpati, petinggi KPU (2009) itu kini jadi orang penting di Partai Demokrat milik Presiden Yudhoyono.

Niat Ketua KPK (saat itu) Antasari Azhar membongkar skandal TI di KPU pun kandas, karena yang bersangkutan sejak awal Mei 2009 dijebloskan ke penjara lewat rekayasa kasus pembunuhan Nasrudin. Kemungkinan membuka skandal “mafia Pemilu 2009” semakin gelap setelah Polri tak sanggup memenjarakan Andi Nurpati yang diadukan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD terlibat mafia Pemilu. Andi Nurpati, petinggi KPU (2009) itu kini jadi orang penting di Partai Demokrat milik Presiden Yudhoyono.

Skandal rekayasa bailout Bank Century yang secara kasat mata digelapkan di institusi penegak hukum (Polri, Kejaksaan, KPK) membuat para analis asing menyebutnya dengan “The Dark of Century”, abad kegelapan. Mafia APBN Nazaruddin (Bendum Partai Demokrat) dan Mafia Pajak (Gayus Tambunan) turut gelap.

Korupsi dan gaya hidup bermewah-mewah menjadi tren di lingkaran pusat kekuasaan. Para menteri yang korup dan sudah diberkas di KPK dipertahankan. Sementara kemiskinan, pengangguran, pelanggaran HAM, malah dibiarkan.

Indonesia memang sedang memasuki Abad Kegelapan (Dark Century). Persoalan demi persoalan muncul dan mencuat silih berganti. Rakyat makin melarat. Para pejabat makin keparat. Kita bingung dibuatnya. Siapa dalang dari semua bencana ini? Di mana sumber segala masalah ini? Dalam gelap, kita hanya bisa meraba-raba.

Dalam kegelapan yang merisaukan kita akan keberlangsungan NKRI sebagai sebuah negara-bangsa, menjelang matahari tenggelam pada Rabu 7 Desember, sekonyong-konyong mencuat cahaya menyilaukan. Dalam bahasa Batak, cahaya adalah “Sondang”.

Tapi dia memang Sondang. Aktivis mahasiswa semester akhir Universitas Bung Karno ini setiap hari bergelut dengan kemiskinan dan ketidakadilan rezim. Tak ada keraguan untuk itu. Karena dia anak sopir angkutan miskin yang tinggal di pinggiran Bekasi.
Menjelang hari gelap, ia melangkah tegap dengan semangat meluap-luap, menuju titik persoalan bangsa. Lalu dengan kesadaran dan keikhlasan yang total, di depan Istana Negara, Sondang menyalakan dirinya. Api berkobar pada sekujur tubuhnya: Sondang memancarkan cahaya…!

Sondang berpulang menuju Sumber Segala Cahaya ketika para sahabatnya dalam Himpunan Advokasi dan Studi Marhaenis Muda untuk Rakyat dan Bangsa Indonesia (Hammurabi) memperingati Hari HAM 10 Desember. Ruh Sondang telah mengisi jiwa generasi muda yang mati dan tak peduli nasib bangsanya.

Lalu di depan Istana itu, di tempat Sondang menyalakan dirinya dengan “api kemarahan”, menjadi “Titik Api  nan tak kunjung padam”. Memancarkan cahaya senantiasa. Menjadi pedoman bersama seluruh elemen pergerakan, elemen mahasiswa, elemen masyarakat, dalam melangkah menuju titik persoalan bangsa.

Di “Titik Api” itu setiap hari kini orang berkumpul. Karena di situlah kita akan mulai mengurai benang kusut negeri kita.

Sondang! Cahaya! Horas! [***]
 
 

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya