Berita

ilustrasi, Peacekeeping Centre Di Sentul

On The Spot

Bakal Jadi Landmark Seperti Hollywood

Berkunjung Ke Peacekeeping Centre Di Sentul, Bogor
RABU, 07 DESEMBER 2011 | 08:58 WIB

RMOL. Lima belas pekerja sibuk menyelesaikan dua gapura setinggi 10 meter. Ada yang mengaduk semen. Ada juga yang memplester dinding. Menatap ke atas, terlihat empat pekerja terlihat sedang memasang lambang burung Garuda di gapura kiri. Lainnya meletakkan patung bola dunia di gapura kanan.

Kedua gapura itu dipisahkan jalan selebar 20 meter. Jalan itu dilapisi cone block. Cone block yang menutupi tanah di depan gapura diberi corak. Bentuknya lingkaran dengan warna merah, biru dan kuning.

Inilah gerbang masuk In­do­nesia Peace and Security Centre (Peacekeeping). Pusat pelatihan bagi tentara Indonesia yang akan diterjunkan dalam misi per­da­maian PBB ini berada di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat. Tem­pat ini juga menjadi pusat pelati­han penanggulangan teroris dan penanganan bencana.

“Gerbang ini sudah selesai 80 persen. Ditargetkan dalam dua minggu sudah selesai,” kata Sas­tro, salah seorang pekerja.  Untuk mengejar target itu, pe­ngerjaan dilakukan 24 jam sehari. Sistem shift pun diberlakukan. Para pekerja juga diminta lembur.

“Kita kan pekerja. Kalau di­instruksikan seperti itu ya harus siap. Apalagi, targetnya sudah se­bentar lagi. Kudu cepat-cepat ke­lar,” pria asal Ngawi, Jawa Timur.

Pusat pelatihan ini berdiri di atas lahan seluas 261 hektar. Di­bangun di puncak bukit yang ter­letak di Desa Sukahati, Ke­ca­matan Citeureup, Sentul, Bogor.  Sebagian lahannya akan dija­di­kan kawasan hijau.

Saat HUT ke-66 TNI di Ci­langkap, Jakarta Timur, Presiden SBY menargetkan Peacekeeping Centre sudah bisa digunakan akhir tahun ini.

Senin lalu, Rakyat Merdeka ber­kunjung ke Peackeeping Cen­tre ini. Sebagian besar bangunan di pusat pelatihan ini belum selesai. Letaknya terpisah-pisah. Hampir semua bangunan berada di atas bukit.

Puluhan pekerja berbaur de­ngan tentara untuk menye­le­sai­kan bangunan yang terletak di atas bukit. Terlihat enam pekerja sedang mengelas ukiran besi rak­sasa berbentuk huruf. Huruf-hu­ruf itu akan ditancapkan ke tanah sehingga membentuk sebuah tulisan “Santi Dharma”.

“Rencananya ini akan menjadi sim­bol dan nama dari kawasan ini. Diletakkan di puncak bukit biar bisa dilihat dari mana pun,” kata Sumarno, seorang pekerja yang sedang memegang tangga, tempat berpijak rekannya naik ke atas.

“Kalau huruf-huruf sudah te­rangkai semua, masih ada proses menghias dan pelistrikan agar ke­tika malam, namanya bisa me­nya­la dan terlihat dari jarak yang jauh,” kata Sumarno.

Tulisan “Santi Dharma” yang di­pasang di atas bukit ini me­ngingatkan kita akan tulisan Holly­wood di Amerika. Tulisan itu juga dipasang di atas bukit se­hingga kelihatan dari kejauhan. Saat malam hari, landmark ini dihiasi lampu sehingga tetap terbaca dari kejauhan walaupun langit gelap.

Tentara yang bekerja di sini me­milih tutup mulut mengenai pem­ba­ngunan Peacekeeping Centre ini. Mereka mengaku di­perintahkan menjaga sekaligus membantu pe­nyelesaian pem­bangunan.

Menyusuri kompleks pusat pe­l­atihan ini, Rakyat Merdeka men­dapati jalan menurun dan me­nan­jak. Seluruh jalan sudah dilapisi aspal. Aspalnya berwarna hitam pekat menandakan masih baru. Di pinggir jalan di sediakan tro­toar dari cone block.

Lahan yang akan dijadikan ka­wasan hijau masih berupa tanah merah. Belum ditanami pepo­honan. Bukit di samping gerbang juga akan dijadikan kawasan hijau. Di sini sudah ditanami re­rum­putan, tapi belum merata.

Dinding bukit dilapisi batu dan disemen. Fungsinya sebagai pe­nahan longsor. Penahan longsor ini berundak-undak mengikuti kontur tanah.

Di atas dari kawasan hijau ter­dapat dua bangunan besar.  Kon­disinya sudah rapi. Salah satu ba­ngunan akan digunakan sebagai ruang makan.

Melewati jalan yang memutar dan menanjak, terdapat beberapa bangunan. Letaknya di sebelah kiri. Berada di bawah jalan. Ba­ngunan-bangunan ini ruang bagi pelatih. Bentuk bangunannya memanjang dan dilengkapi la­pa­ngan besar.

Di bukit tertinggi terhadap dua bangunan berlantai tiga. Ben­tuk­nya memanjang. Posisinya ber­je­jeran. Dari bentuknya bangunan ini tampaknya bakal digunakan sebagai barak.

Truk Militer Melintas Setiap 15 Menit

Embusan hawa sejuk lang­sung terasa begitu memasuki kawasan Santi Dharma, Sentul, Bogor. Padahal, hari masih siang. Matahari seolah malas bersinar  karena ditutupi awan mendung.

Mendekati kawasan Santi Dharma, bau-bau militer sangat ken­tal. Pengamatan Rakyat Mer­deka, sepanjang jalur yang menuju kawasan Peacekeeping  Centre dipenuhi truk-truk besar yang biasa digunakan untuk mengangkut prajurit. Setiap 15 menit sekali truk-truk berwarna hijau melintas.

Kendaraan besar pengangkut tanah dan batu juga tak mau ka­lah memenuhi jalan setapak ter­sebut, bergantian bersama truk TNI. Ada yang menuju ke atas dengan muatan tanah dan batu. Ada pula yang menuju keluar se­telah menurunkan muatan.

Sekitar 20 meter dari pintu ger­bang utama, beberapa peker­ja beristirahat di warung yang terletak di kiri jalan. Ada tiga warung di sini. Semuanya men­jual makanan dan minuman.

Dari pinggir jalan raya hing­ga mendekati pintu gerbang Peace­keeping Centre hanya wa­rung makan ini yang bisa di­jum­pai. Tak heran, kedai ini di­serbu pe­kerja yang hendak me­lepas lelah.

“Kami manfaatkan warung ini untuk kebutuhan sehari-hari, seperti makan dan beli mi­nu­man. Kalau lagi senggang se­per­ti ini, kami gunakan untuk mi­num kopi,” kata Djoko, salah seorang pekerja yang sedang duduk di sudut warung.

Djoko bersama teman-te­mannya mengaku sedang isti­ra­hat. Rombongannya kebagian gelombang kerja ketiga.

“Di sini gantian istirahatnya. Biar warung tidak penuh dan pekerjaan tidak terbengkalai. Kami ini masuk dalam golo­ngan yang ketiga mendapatkan jatah istirahat selama setengah jam,” jelasnya.

Pria berumur 42 tahun ini mengatakan, selama me­nger­ja­kan proyek mereka tinggal di be­deng-bedeng di kawasan ini. Bedeng itu terbuat dari tripleks.

Para pekerja membangun bedeng di dekat lokasi mereka bekerja. Djoko lalu menunjuk be­deng besar yang terletak di kiri jalan sebagai tempat ting­gal­nya bersama pekerja lainnya.

Beberapa pekerja memilih tak tinggal di bedeng. Menurut Djoko, pekerja yang berasal dari warga sekitar pulang ke ru­mah setelah jam kerja selesai.  Saat istirahat makan, pekerja itu kem­bali ke rumahnya masing-masing. Tapi ada juga diantar makanan oleh keluarganya.

Berapa pekerja di sini? “Saya kurang tahu. Karena mereka bekerja sesuai lokasi masing-masing. Banyak juga pekerja yang berasal dari daerah sini,” kata Djoko. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya