Berita

ASEAN Fokus Saja pada Penyatuan Pasar, Bukan Mata Uang

SENIN, 14 NOVEMBER 2011 | 18:15 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Ecnonomic Community) diharapkan fokus pada tujuan awal menciptakan pasar tunggal bagi kawasan, tidak merembet kepada ambisi penyatuan mata uang ASEAN.

"Pemerintah harus mendorong ASEAN, agar fokus kepada penciptaan pasar bersama sehingga meningkatkan efisiensi kawasan. Penyatuan pasar ASEAN juga diyakini akan lebih menarik investor masuk ke kawasan tersebut, karena membesarnya pasar. Penyatuan pasar ini jangan ditarik ke arah penyatuan mata uang," kata anggota Komisi VI DPR Ecky Awal Mucharam kepada wartawan, Senin (14/11).

ASEAN Community yang direncanakan terwujud di tahun 2015 mencakup tiga aspek, salah satunya adalah ASEAN Economic Community. Penyatuan pasar ASEAN dinilai penting untuk mengejar ketertinggalan kawasan itu dari kawasan lain seperti China dan India. ASEAN menjadi kurang kompetitif dibanding kawasan lain karena kawasan tersebut tersekat oleh hambatan-hambatan yang menghalangi arus barang, modal dan manusia.


"Yang penting itu penyatuan pasar. Sementara penyatuan mata uang bagi ASEAN justru berbahaya, karena kondisi antar negara terlalu berbeda, baik fiskal maupun moneternya. Ketika sebuah negara tidak disiplin dalam menjalankan kebijakan fiskal, seluruh kawasan bisa ikut jatuh seperti yang dialami Eropa saat ini. Belum lagi tingkat bunga dan inflasi juga berbeda, tidak bisa disamakan," kata Ecky.

Politisi PKS itu menambahkan bahwa mata uang bersama juga berpotensi merugikan negara anggota yang fundamental ekonominya lebih lemah. Seperti yang dialami oleh Yunani saat ini, dalam kondisi krisis seharusnya mata uangnya terdepresiasi sehingga ekspornya meningkat dan menjadi mesin pemulihan krisis. Namun hal ini tidak terjadi karena Eropa menggunakan mata uang bersama yang nilainya terlalu kuat bagi perekonomian Yunani.

"Penyatuan pasar ASEAN harus dipersiapkan dengan serius oleh pemerintah. Penyatuan pasar tidak akan banyak bermanfaat jika Indonesia tidak kompetitif sehingga hanya menjadi pasar bagi produk-produk negara lain. Belakangan ini peringkat daya saing dan kemudahan berusaha Indonesia turun, ini harus menjadi catatan pemerintah di tengah semakin dekatnya pasar bebas ASEAN," kata Ecky.[ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya