Berita

ilustrasi

PILKADA

Rakyat Banten Dipuji Lebih Dewasa

SABTU, 29 OKTOBER 2011 | 08:50 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Rakyat Banten dinilai telah menunjukkan perilaku politik yang terpuji dalam Pemilihan Kepala Daerah Banten. Partai politik pendukung juga telah memperlihatkan cara-cara politik yang mendidik serta jauh dari kesan arogan dan bermusuhan.

"Sekarang saatnya para calon menunjukkan kepada masyarakat sikap kenegarawanan mereka dengan menerima kenyataan pilihan rakyat," kata Koordinator Gerakan Masyarakat Madani Banten, Drajat Sumarsono, kepada wartawan, kemarin malam (Jumat, 28/10).

Menurut Mahasiswa Pasca Sarjana Komunikasi Politik Mercu Buana ini, rakyat Banten harus diacungi jempol karena telah memperlihatkan kedewasaan dalam berpolitik. Tidak seperti di beberapa Pilkada di daerah lain yang banyak konflik, Pilkada Banten tidak pernah sekalipun terjadi konflik horizontal.


"Ini sangat kontradiktif dengan stigma jawara yang selama ini didengung-dengungkan masyarakat. Ternyata masyarakat Banten jauh lebih dewasa dibanding daerah lain. Bahkan golongan Jawara menunjukkan sikap-sikap santun, menghargai perbedaan, serta berpartisipasi aktif membantu pihak kepolisian dalam menjaga keamanan," ujarnya.

Selain itu, katanya, fatsun partai juga benar-benar diikuti oleh para petinggi partai. Seperti adik Wahidin Halim tetap mendukung Atut-Rano karena dia adalah Ketua Golkar Kota Tangerang. Keluarga Jayabaya bisa menghargai perbedaan di antara mereka meski berbeda jagoan dimana Iti Jayabaya mendukug WH-Irna karena posisinya sebagai Ketua Demokrat Lebak, sementara anggota keluarga besar yang lain mendukung Atut-Rano.

"Keharmonisan seperti ini sangat sulit kita temukan di daerah lain saya kira," ujar Drajat bangga.

Drajat tidak membantah bahwa masih terdapat beberapa kekurangan disana-sini, serta terjadinya beberapa pelanggaran dalam pelaksanaan Pilkada Banten.

"Saya dengar ada pelanggaran dari kubu Jazuli yang terkenal dengan istilah mie instan PKS, air mineral PKS. Wahidin juga terbelit kasus kecurangan yang begitu banyak, termasuk juga melakukan black campaign yang sangat sering. Kubu Atut-Rano juga dilaporkan melakukan money politics," jelasnya.

Hanya saja, ujar Drajat, semua pelanggaran tersebut masih dalam batas-batas yang biasa dalam sebuah pesta demokrasi. Tidak ada yang bersifat terstuktur, sistemik, dan massif.[ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

PLN Perluas SPKLU Signature Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik

Minggu, 13 September 2026 | 08:21

Pemerintah Didesak Tetapkan Status Darurat Kesehatan Imbas Karhutla

Minggu, 13 September 2026 | 08:01

AntreEV Permudah Antrean SPKLU Lewat PLN Mobile

Minggu, 13 September 2026 | 07:40

Tak Ada Kerusakan Akibat Gempa di Perairan Kepulauan Seribu

Minggu, 13 September 2026 | 07:03

Bisa Pengaruhi Investor, Penegak Hukum Ditantang Adil di Kasus Transfer Pricing

Minggu, 13 September 2026 | 06:51

Inovasi Jebolan Program Pertamuda Pertamina Bantu Nelayan Peroleh Cuan

Minggu, 13 September 2026 | 06:21

Ketika Hukum Terlihat Sedang Mencari Pasal, Bukan Kebenaran

Minggu, 13 September 2026 | 05:47

Nilai Adat Harus Dipegang Teguh dan Diwariskan ke Setiap Generasi

Minggu, 13 September 2026 | 05:16

Budi Daya Lobster Modeling Batam Tembus Pasar Ekspor, Daerah Lain Siap Menyusul

Minggu, 13 September 2026 | 04:43

Strategi Pengusaha Indonesia Hadapi CBAM EU dan IEU-CEPA

Minggu, 13 September 2026 | 04:14

Selengkapnya