ilustrasi
ilustrasi
RMOL. Sungguh ironis. Upaya menumbangkan rezim otoriter Orde Baru 13 tahun lalu tak bisa mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat. Selama rentan waktu itu pula, tingkah elit politik malah mempertontonkan prilaku yang mengkhianati rakyat. Pemilu umum yang konon disebut-sebut demokratis malah melahirkan mafia-mafia baru yang lebih sadis di DPR. Mereka menyunat anggaran.
"Mereka tidak memikirkan rakyat sedikit pun. Mereka lebih membela siapa yang dapat memberikan fee untuk mereka dan partainya. Gedung DPR dipenuhi keserakahan," kata Badan Eksekutif Mahasiswa Batavia Raya, Rahman Key kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Kamis, 6/10).
Menurut Rahman, yang perlu dicamkan adalah bahwa mafia anggaran di DPR punya korelasi kuat dengan kementerian dan pengusaha. Modusnya, pengusaha memberikan uang terlebih dulu ke Kementerian atau DPR agar proyek pengadaan barang dan jasa di suatu instansi dimenangkan oleh suatu perusahaan. Tanpa adanya kerja sama seperti itu, mustahil praktek mafia anggaran bisa dilakukan. "Keserakahan anggota dewan terlihat nyata dalam setiap pembahasan dana stimulus DPID," sebutnya.
Populer
Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26
Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48
Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06
Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01
Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17
Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16
Senin, 22 Desember 2025 | 17:57
UPDATE
Kamis, 01 Januari 2026 | 08:15
Kamis, 01 Januari 2026 | 07:58
Kamis, 01 Januari 2026 | 07:40
Kamis, 01 Januari 2026 | 07:13
Kamis, 01 Januari 2026 | 07:02
Kamis, 01 Januari 2026 | 06:58
Kamis, 01 Januari 2026 | 06:22
Kamis, 01 Januari 2026 | 06:03
Kamis, 01 Januari 2026 | 05:45
Kamis, 01 Januari 2026 | 05:21