Berita

Ekonom: 11 Tahun Banten Justru Terjebak dalam Empat Kesenjangan

KAMIS, 06 OKTOBER 2011 | 16:33 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Pada Selasa lalu (4/10), Provinsi Banten genap berusia 11 tahun. Tapi, dalam rentang waktu lebih dari satu dekade ini, di provinsi yang sebelumnya menjadi bagian dari Jawa Barat tersebut masih menyisakan sejumlah masalah, utamanya masalah kesenjangan.

"Justru 11 tahun Banten terjebak pada kesenjangan," kata pengamat ekonomi Dahnil Anzar kepada Rakyat Merdeka Online petang ini.

Menurutnya, setidaknya ada empat kesenjangan yang terjadi di provinsi yang saat ini dipimpin Ratu Atut tersebut. Pertama adalah kesenjangan makro ekonomi, dimana terdapat kesenjangan yang lebar antara potensi pertumbuhan ekonomi dengan aktual pertumbuhan ekonomi.


"Banten sebenarnya layak tumbuh di atas 7%. Tetapi fakta hanya mampu tumbuh moderat rata-rata di angka 5%. Bandingkan dengan Gorontalo dan Babel (Bangka Belitung) yang usianya sama dengan Banten mampu tumbuh di atas 7%," beber dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang, Banten ini.

Kedua yaitu kesenjangan antara makro ekonomi yakni Produk Domestik Regional Bruto dengan kesejahteraan sosial ekonomi. Dengan PDRB yang tinggi lebih dari Rp 150 triliun per tahun, ternyata permasalahan kesejahteraan sosial ekonomi tetap tidak mampu hadir.

"Banten menjadi daerah dengan tingkat pengangguran tertinggi di Indonesia mencapai 13,59%. Kemiskinan yang masih tinggi di selatan Banten dan pelayan publik seperti kesehatan dan pendidikan yang masih sangat buruk," imbuh Dahnil, Ketua PP Pemuda Muhammadiyah ini.

Ketiga, masih lanjut Dahnil, adalah kesenjangan antar kabupaten/kota yang semakin lebar. Kota Tangerang tumbuh mencapai 10% dan Tangerang Selatan 7%. Tetapi daerah selatan seperti Pandeglang dan Lebak serta Serang hanya tumbuh 3%.

"Keempat, kesenjangan kapasitas fiskal dengan kesejahteraan dan pelayananan publik. Dengan PAD (pendapatan asli daerah) lebih 2 triliun dan APBD Rp 3,7 triliun, merupakan kapasitas fiskal yang besar dan mandiri. Tetapi infrastruktur jalan 63% rusak, kesejahteraan absen, kemiskinan tetap ramai di Banten," demikian Dahnil. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Rupiah Undervalued: Cerita yang Terus Diulang

Senin, 27 April 2026 | 03:42

Truk Pengangkut Tembakau Terguling di Ruas Tol Jangli-Gayamsari

Senin, 27 April 2026 | 03:21

Pemerintahan Jokowi Berhasil Lakukan Kemiskinan Struktural

Senin, 27 April 2026 | 02:58

Menyorot Peran Indonesia dalam Stabilitas Asia Tenggara

Senin, 27 April 2026 | 02:35

Pakar Sebut Korporasi Kapitalis Penyebab Terjadinya Kemiskinan

Senin, 27 April 2026 | 02:12

Pemerintahan Jokowi Beri Jalan Lahirnya Fasisme

Senin, 27 April 2026 | 01:51

Bonus Rp1 Miliar untuk Pemain Persib Ternyata Berasal dari Maruarar Sirait

Senin, 27 April 2026 | 01:30

Strategi Memutus Rantai “Feederism” di Selat Malaka

Senin, 27 April 2026 | 01:12

Tiket Pesawat Tak Perlu Naik meski Harga Avtur Melonjak

Senin, 27 April 2026 | 00:45

Pelaku Penembakan di WHCD Dipastikan Beraksi Sendirian

Senin, 27 April 2026 | 00:42

Selengkapnya