Berita

Akhirnya, Komite Etik Beberkan Hasil Pemeriksaan

RABU, 05 OKTOBER 2011 | 15:44 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Komite Etik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggelar konferensi pers di kantor KPK, Kuningan, Jakarta, berkaitan kinerja selama dua bulan lebih. Konferensi pers dihadiri semua anggota komite etik.

Kerja Komite Etik adalah dalam rangka untuk menemukan apakah terjadi pelanggaran etika pimpinan KPK berkaitan informasi-informasi yang diantaranya disampaikan oleh tersangka korupsi, Muhammad Nazaruddin.

"Dua bulan lebih seminggu Komite Etik laksanakan tugas, ada 37 saksi dimintai keterangan, terdiri dari empat pimpinan, empat pegawai, 17 saksi internal dan 12 eksternal," kata Ketua Komite Etik, Abdullah Hehamahua, kepada wartawan, Kamis petang (Rabu petang, 5/10). Dari semua saksi itu termasuk juga tersangka kasus Wisma Atlet, Muhammad Nazaruddin.


Metode pemeriksaan dengan tanya jawab langsung, menggunakan barang bukti yang dimiliki KPK, dan setelah diperoleh hasilnya, maka Komite akan menentukan bersalah atau tidaknya terperiksa. Jika bersalah, maka terperiksa dipanggil lagi untuk lakukan pembelaan lagi dan baru setelah itu keluarlah putusan.

Sebelum putusan dibacakan oleh anggota Komite Etik, Marjono Reksodiputro, dibacakan dulu secara singkat penilaian umum Komite Etik oleh anggota lainnya, yaitu Sjachrudin Rasul.

Marjono mengatakan, apa yang merupakan tugas dari Komite Etik bukan sekadar menyelidiki pelanggaran kode etik tapi tuduhan telah terjadinya pelanggaran hukum pidana dalam organisasi KPK. Mereka yang dipermasalahkan dan sudah diperiksa Komite Etik adalah Muhamad Busyro Muqoddas, Muhammad Jasin, Haryono Umar, Chandra Hamzah, Ade Rahaja, Bambang Sapto Pratomosunu, Johan Budi dan Roni Samtama.

"Kami tak bisa secara cepat selesaikan tugasnya, yang pertama coba dilakukan meneliti berita yang disampaikan terhadap perilaku pimpinan maupun pegawai, kemudian kami juga lakukan wawancara dengan sejumlah saksi dan kemudian dengan mereka yang dinamakan terperiksa," kata Marjono.[ald]

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Pengusaha Tembakau Dicecar KPK soal Dugaan Gratifikasi Oknum Bea Cukai

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:41

Resmi Dilantik, 13 Pengurus DPD Peradi Profesional Siap Kawal Keadilan di Sulsel

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:13

Sekolah Tahfidz Al-Qur’an Puan Maharani Mulai Dibangun di Malang

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:10

Perbup Bogor soal Site Plan jadi Sorotan Usai Kasus HGB Summarecon Bergulir

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:49

BEI Tagih Penjelasan Emiten Haji Isam soal Gadai Saham ke Bank Mandiri

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:24

Rocky Gerung Dicurigai Sengaja Dipasang untuk Serang Gibran dari Dalam Kekuasaan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:42

Kasus TPPU Rita Widyasari Menyeret Bos Dealer VW-Audi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:28

Penyederhanaan BUMN: Pengaturan Outsourcing Lewat Anak Perusahaan Jadi Sorotan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:18

PDIP soal Ijazah Gibran: Anak dan Bapak Masalahnya Sama Saja

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:57

Pegawai Bea Cukai Dedi Congor Mangkir Lagi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:42

Selengkapnya