Berita

ilustrasi

MAFIA ANGGARAN

Korban: Proyek Tidak Jalan, Fee Lenyap

JUMAT, 30 SEPTEMBER 2011 | 18:57 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Seorang korban permainan mafia anggaran di DPR yang sudah melaporkan kasusnya ke Pos Pengaduan Praktek Mafia Anggaran (Pos P2MA) menegaskan bahwa keberadaan mafia anggaran di DPR bukan baru-baru ini saja.

"Sejak dulu sudah ada mafia anggaran dan banyak broker yang berseliweran di DPR itu," kata Mr. X yang diwawancarai oleh Metro TV, sesaat lalu (Jumat malam, 30/9).

Dari pengakuannya, awal mula dirinya terperangkap sebagai korban mafia anggaran berawal dari pertemanan. Dari komunikasi dengan pihak ketiga itu dia dipertemukan dengan salah seorang anggota DPR yang dia akui lupa namanya.


Dia dijanjikan kucuran dana untuk proyek infrastruktur asalkan terlebih dulu memberi imbalan 7 persen dari seluruh dana yang akan dicairkan ke anggota Banggar DPR.

"Saya buat proposal yang diteken pimpinan daerah. Dana akan dikucurkan ke daerah dengan syarat 7 persen yang akan turun. Kita kirim Rp 3 miliar lewat rekening seseorang. Saya tak mau sebut siapa dia, karena hanya cerita soal pengalaman saya," ujarnya.

Tapi, setelah dia mengirim duit itu, dia merasa dikibuli karena ketika menghubungi telepon seluler si pemilik rekening tidak mendapat jawaban dan kemudian nomor itu tidak aktif.

"Ini kejadian di Banggar periode lalu. Proyek tidak jalan, fee lenyap," akunya.

Sebelumnya kepada Rakyat Merdeka Online, politisi senior Partai Golkar, Zainal Bintang, yang ikut mendirikan Pos Pengaduan Praktik Mafia Anggaran (Pos P2MA) mengaku sudah menerima lebih dari 20 pengaduan masyarakat yang merasa jadi korban mafia anggaran. Puluhan pengaduan itu diterimanya pada hari pertama Pos dibuka.

Pos yang didirikan Bintang bersama Wakil Ketua DPD, La Ode Ida, itu terletak di lantai delapan Gedung DPD, di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta.

"Sampai kemarin saya pulang, dalam satu dua jam sudah ada 20 pengaduan. Dan langsung ada korban yang datang ke kita.Pengaduannya rata-rata berbentuk tidak terealisasinya janji untuk mendapatkan proyek pembangunan di daerah baik infrastruktur jalan, kesehatan atau sarana pertanian," jelas Zainal Bintang kepada Rakyat Merdeka Online, Jumat siang (30/9).

Bintang mengungkapkan dari sementara hasil laporan yang diterimanya, didapat dugaan bahwa banyak sekali anggota DPR yang terlibat praktik mafia anggaran itu. Bahkan bisa dikatakan merekalah simpul pertama permafiaan anggaran. Mengapa dikatakan simpul pertama permainan mafia anggaran, karena merekalah yang memberikan janji-janji anggaran turun ke daerah bermodalkan akses-akses yang dimilikinya.

"Contohnya, ada anggota (DPR) pulang ke Dapil dan bertemu Bupati disana terus menjanjikan anggaran infrastruktur ke daerahnya. Pasti Bupati tertarik karena anggota itu otomatis punya akses di pusat. Kemudian Bupati yang sudah punya peliharaan (kontraktor), akan menyuruh kontraktor atau disebutnya bandar, membuat proposal untuk dibawa ke pusat," jelas Bintang.[ald]

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Pengusaha Tembakau Dicecar KPK soal Dugaan Gratifikasi Oknum Bea Cukai

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:41

Resmi Dilantik, 13 Pengurus DPD Peradi Profesional Siap Kawal Keadilan di Sulsel

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:13

Sekolah Tahfidz Al-Qur’an Puan Maharani Mulai Dibangun di Malang

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:10

Perbup Bogor soal Site Plan jadi Sorotan Usai Kasus HGB Summarecon Bergulir

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:49

BEI Tagih Penjelasan Emiten Haji Isam soal Gadai Saham ke Bank Mandiri

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:24

Rocky Gerung Dicurigai Sengaja Dipasang untuk Serang Gibran dari Dalam Kekuasaan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:42

Kasus TPPU Rita Widyasari Menyeret Bos Dealer VW-Audi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:28

Penyederhanaan BUMN: Pengaturan Outsourcing Lewat Anak Perusahaan Jadi Sorotan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:18

PDIP soal Ijazah Gibran: Anak dan Bapak Masalahnya Sama Saja

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:57

Pegawai Bea Cukai Dedi Congor Mangkir Lagi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:42

Selengkapnya