Berita

ilustrasi

MAFIA ANGGARAN

Politisi Senior Golkar: Banggar Kapal Keruk, Isinya Harus Dirombak!

JUMAT, 30 SEPTEMBER 2011 | 16:22 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Presiden SBY sebagai pimpinan eksekutif dan para pimpinan parpol sebagai faktor penting di parlemen diminta membersihkan "rumah"nya dari praktik mafia anggaran. Desakan terutama kepada partai politik yang sudah menjadi "monster" bagi APBN.

Demikian disampaikan deklarator Pos Pengaduan Praktek Mafia Anggaran (Pos P2MA), Zainal Bintang, saat diwawancara Rakyat Merdeka Online, Jumat (30/9). Tapi menurutnya, dalam kasus mafia anggaran itu, Badan Anggaran tidak perlu dibubarkan tapi dikoreksi sistemnya karena Banggar sangat berperan dalam praktik itu.

"Badan Anggaran itu bagai kapal keruk dari APBD sampai APBN," katanya.


Bintang yang juga politisi senior Partai Golkar ini mengaku langkahnya mendirikan pos itu bersama Wakil Ketua DPR, La Ode Ida, sekaligus sebagai otokritik pada Partai Golkar.

"Saya ingin lakukan otokritik pada partai saya Golkar. Harus berani. Salah tidak salah, Golkar harus menjadi pelopor di tengah partai politik lainnya. Salah satu caranya dengan mengganti semua anggota Banggar dari Golkar supaya partai yang lain mau ikut," ujarnya.

Dampak dari pergantian itu, lanjut wartawan senior ini, adalah menurunkan tingkat ketegangan antara KPK dengan Banggar. Selain itu, kalau terjadi pergantian maka semua komitmen busuk antara pemain-pemain di mafia anggaran akan hancur.

"Saya minta penghancuran komitmen busuk," singkatnya.

Tapi bukan berarti semua tindakan anggota yang terlibat mafia anggaran bisa diampuni begitu saja setelah mereka diganti. Kader parpol yang bermasalah harus ditindak partainya secara internal, atau diadukan ke penegak hukum, dan bisa juga ke Badan Kehormatan DPR jika ada pelanggaran etika.

"Pos yang kami dirikan ini memang bukan badan penyidik, tapi data yang kami pegang bisa dipertanggungjawabkan. Pertama, kami akan kroscek laporan-laporan dari masyarakat. Kita juga punya tim penasihat hukum," terangnya.

Jika Pos P2MA mempunyai data laporan yang punya bobot hukum tinggi, maka akan diserahkan ke penegak hukum. Tapi kalau implikasinya hanya etika, maka mereka akan serahkan ke badan hukum. Selebihnya, akan diserahkan kepada pers.

"Yang kami lakukan adalah stimulus, bangun keberanian masyarakat untuk melapor, supaya aparat hukum resmi terbangun untuk menegakkan hukum," tandasnya.[ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

KPK Periksa Sejumlah Pejabat BPK di Kasus Suap Audit Pemkab Muara Enim

Senin, 14 September 2026 | 14:27

Pembukaan Rekening Massal Bikin Fiskal Pemerintah Makin Tertekan

Senin, 14 September 2026 | 14:26

Menteri Haji Minta Jemaah Bersiap, Biaya Haji Ditargetkan Tuntas Sepekan

Senin, 14 September 2026 | 14:16

Pembunuh Wanita Muda di Kamar Hotel di Tanah Abang Dibekuk

Senin, 14 September 2026 | 14:12

Megaproyek Northern Metropolis Ambisi Hong Kong Cetak Pusat Ekonomi Baru

Senin, 14 September 2026 | 14:09

Dolar AS Jadi Aset Paling Aman Setahun ke Depan

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mantan Aspri Ridwan Kamil Dipanggil KPK

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mobil Listrik China Mulai Jadi Favorit, JAECOO dan BYD Adu Penjualan

Senin, 14 September 2026 | 13:56

Kemenhaj Kawal Keberangkatan 282 Jemaah Umrah PT AAT Mulai 15 September

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Kenaikan Harga Cabai Tak Picu Inflasi di Jakarta

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Selengkapnya