Berita

ilustrasi

MAFIA ANGGARAN

Pos P2MA: Anggota DPR Simpul Pertama Praktik Mafia Anggaran

JUMAT, 30 SEPTEMBER 2011 | 13:29 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Di hari pertamanya dibuka (Kamis, 29/9), Pos Pengaduan Praktik Mafia Anggaran (Pos P2MA) sudah menerima lebih dari 20 pengaduan masyarakat yang merasa jadi korban mafia anggaran. Pos yang didirikan oleh dua tokoh politik, Wakil Ketua DPD, La Ode Ida dan politisi senior Partai Golkar, Zainal Bintang, terletak di lantai delapan Gedung DPD, di komplek parlemen, Senayan, Jakarta.

"Sampai kemarin saya pulang, dalam satu dua jam sudah ada 20 pengaduan. Dan langsung ada korban yang datang ke kita.Pengaduannya rata-rata berbentuk tidak terealisasinya janji untuk mendapatkan proyek pembangunan di daerah baik infrastruktur jalan, kesehatan atau sarana pertanian," jelas Zainal Bintang kepada Rakyat Merdeka Online, Jumat siang (30/9).

Bintang mengungkapkan dari sementara hasil laporan yang diterimanya, didapat dugaan bahwa banyak sekali anggota DPR yang terlibat praktik mafia anggaran itu. Bahkan bisa dikatakan merekalah simpul pertama permafiaan anggaran.


"Anggota DPR itu tidak harus anggota Badan Anggaran. Bisa juga anggota DPR biasa yang pulang ke Dapil mereka," ujarnya.

Mengapa dikatakan simpul pertama permainan mafia anggaran, karena merekalah yang memberikan janji-janji anggaran turun ke daerah bermodalkan akses-akses yang dimilikinya.

"Contohnya, ada anggota (DPR) pulang ke Dapil dan bertemu Bupati disana terus menjanjikan anggaran infrastruktur ke daerahnya. Pasti Bupati tertarik karena anggota itu otomatis punya akses di pusat. Kemudian Bupati yang sudah punya peliharaan (kontraktor), akan menyuruh kontraktor atau disebutnya bandar, membuat proposal untuk dibawa ke pusat," jelas Bintang.

Alhasil, pengaduan yang datang kebanyakan berasal dari korban janji palsu anggota DPR dalam kaitannya dengan proyek pembangunan di daerah. Mereka mempertanyakan anggaran proyek yang tidak keluar hingga kini. Apalagi mereka semakin takut karena KPK sedang mempreteli praktik mafia itu di Banggar.

Praktik mafia anggaran semakin terkuak setelah kasus suap di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi terkait percepatan pencairan angggaran proyek. Dalam kasus itu empat pimpinan Banggar diperiksa KPK pekan lalu.[ald] 

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Pengusaha Tembakau Dicecar KPK soal Dugaan Gratifikasi Oknum Bea Cukai

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:41

Resmi Dilantik, 13 Pengurus DPD Peradi Profesional Siap Kawal Keadilan di Sulsel

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:13

Sekolah Tahfidz Al-Qur’an Puan Maharani Mulai Dibangun di Malang

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:10

Perbup Bogor soal Site Plan jadi Sorotan Usai Kasus HGB Summarecon Bergulir

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:49

BEI Tagih Penjelasan Emiten Haji Isam soal Gadai Saham ke Bank Mandiri

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:24

Rocky Gerung Dicurigai Sengaja Dipasang untuk Serang Gibran dari Dalam Kekuasaan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:42

Kasus TPPU Rita Widyasari Menyeret Bos Dealer VW-Audi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:28

Penyederhanaan BUMN: Pengaturan Outsourcing Lewat Anak Perusahaan Jadi Sorotan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:18

PDIP soal Ijazah Gibran: Anak dan Bapak Masalahnya Sama Saja

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:57

Pegawai Bea Cukai Dedi Congor Mangkir Lagi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:42

Selengkapnya