Berita

ilustrasi

RESHUFFLE KIB II

SBY Disamakan dengan President Taxi dan Tak Akan Berani Mencopot Menteri

RABU, 28 SEPTEMBER 2011 | 13:34 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Alasan untuk melakukan reshuffle kabinet sangat kuat dari dua sisi, yakni kepercayaan publik dan kegagalan kabinet. Masalahnya adalah bagaimana reshuffle itu dilakukan agar fungsi kabinet nyata terpenuhi.

Anggota Majelis Pertimbangan Partai Serikat Rakyat Independen (SRI), Arbi Sanit, menyatakan, kepercayaan publik pada pemerintah dirusak oleh partai politik. Arbi menunjuk kenyataan para menteri yang tersangkut kasus korupsi berasal dari partai politik. Kedua, penilaian publik melalui poling menunjukkan kepercayaan pada partai sudah sangat rendah.

"Kesimpulannya, mesti dihindarkan orang partai dalam kabinet. Kalau ada implikasi pada koalisi, itu adalah resiko yang harus diambil presiden. Tantangan itu akan membuktikan presiden punya akal mengatasi masalah," kata pria yang pernah dikenal publik sebagai pakar politik ini kepada Rakyat Merdeka Online, Rabu (28/9).


Menurutnya, SBY harus belajar dari keberanian mantan Presiden, Abdurrahman Wahid, saat mengambil resiko besar merombak kabinet.

"Pada zaman dia (almarhum Gus Dur) sistem masih sangat rapuh. Gus Dur cuma ditopang sistem semi-presidensial. Gus Dur saja yang lemah kedudukannya berani (reshuffle) walau masih semi-presidensial," tambah akademisi UI ini.

Arbi Sanit melanjutkan, Presiden SBY harus berani menegaskan kepada menteri-menterinya bahwa tingkah laku mereka sudah menjatuhkan wibawa pemerintah. Presiden tidak dihargai dan dihormati lagi oleh masyarakat karena menterinya tidak becus.

"Lihat saja menteri perdagangan dan industri ribut soal ekspor rotan. Lihat saja soal saham Newmont, apa kerja Menko Perekonomian. Itulah para menteri dan menko itu yang tidak becus. Masih ingat kan, 50 persen perintah Presiden tidak dilakukan menteri. Menteri-menteri itu cuma mereka bersembunyi di punggung presiden. Itulah ciri politisi Indonesia yang pengecut," urainya.
 
Tapi, Arbi ingatkan, sebelum Presiden memecat menteri-menterinya terutama yang berasal dari parpol, dia mesti memastikan kekuatan parpol tidak lagi menciptakan instabilitas. Sekarang bola sepenuhnya berada di tangan Presiden untuk menyelamatkan pemerintahan yang tersisa tiga tahun.

Namun, ketika ditanya prediksinya berapa besar kemungkinan SBY berani melakukan hal tersebut, Arbi Sanit sudah terlanjur pesimis. 

"Anda sudah menebak maksud saya, ini (SBY) kan presiden taksi bukan Presiden RI. Kalau presiden taksi itu bisa tawar menawar, bahkan penumpang saja bisa diturunin tengah jalan. Saya yakin tidak akan terjadi zaken kabinet (kabinet profesional)," ucapnya.[ald]

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Pengusaha Tembakau Dicecar KPK soal Dugaan Gratifikasi Oknum Bea Cukai

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:41

Resmi Dilantik, 13 Pengurus DPD Peradi Profesional Siap Kawal Keadilan di Sulsel

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:13

Sekolah Tahfidz Al-Qur’an Puan Maharani Mulai Dibangun di Malang

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:10

Perbup Bogor soal Site Plan jadi Sorotan Usai Kasus HGB Summarecon Bergulir

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:49

BEI Tagih Penjelasan Emiten Haji Isam soal Gadai Saham ke Bank Mandiri

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:24

Rocky Gerung Dicurigai Sengaja Dipasang untuk Serang Gibran dari Dalam Kekuasaan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:42

Kasus TPPU Rita Widyasari Menyeret Bos Dealer VW-Audi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:28

Penyederhanaan BUMN: Pengaturan Outsourcing Lewat Anak Perusahaan Jadi Sorotan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:18

PDIP soal Ijazah Gibran: Anak dan Bapak Masalahnya Sama Saja

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:57

Pegawai Bea Cukai Dedi Congor Mangkir Lagi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:42

Selengkapnya