Berita

ilustrasi

AKSI MUNIR

Kontras: Periksa Paspampres dan Polisi Pelaku Kekerasan

SENIN, 12 SEPTEMBER 2011 | 20:39 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) menyesalkan tindak kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian dan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspamres) terhadap rombongan aksi damai para Sahabat Munir, Rabu pekan lalu (7/9), di depan Istana Negara, Jakarta.

Koordinator Eksekutif Nasional Kontras, Haris Azhar menilai tindakan kekerasan tersebut jelas bertentangan dengan aturan perundang-undangan yang menjamin kebebasan berekspresi dan mengenai tata cara penanganan demonstrasi yang seharusnya diterapkan oleh Polisi maupun oleh Paspampres.

Aksi yang dilakukan oleh para perwakilan lembaga non pemerintah tersebut merupakan aksi damai. Sesuai dengan Protap No 8/2010 tentang tata cara lintas ganti dan cara ertindak dalam penanggulangan huru hara menunjukkan bahwa situasi tersebut merupakan tanggungjawab Satuan Dalmas Awal (Pasal 7) dan tidak menunjukkan adanya situasi yang meresahkan.


Meskipun peserta aksi saat itu mengarah ke dekat Istana dengan tanpa membuat kericuhan, jelas Haris, jikapun upaya tersebut harus dicegah oleh aparat, maka hal itu tidak dilakukan dengan menggunakan cara-cara kekerasan. Pencegahan dapat dilakukan dengan membuat barikade diantara petugas di lapangan untuk mencegah peserta aksi mendekati Istana. "Tindakan kekerasan oleh Polisi dan Paspampres merupakan tindakan yang berlebihan dan membahayakan," Koordinator Eksekutif Nasional Kontras, Haris Azhar

Untuk itu, Kontras mendesak Kapolri Jenderal Timur Pradopo untuk melakukan pemeriksaan atas tindak kekerasan yang dilakukan oleh anak buahnya di lapangan. Tak hanya itu, Kontras juga mendesak Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro agar memastikan berjalannya pemeriksaan terhadap anggota Paspampres yang saat itu bertugas dan teridentifikasi melakukan tindakan kekerasan.

"Meminta Komnas HAM dan Kompolnas untuk membuat laporan pemantauan atas peristiwa 7 September 2011 di depan Istana negara," demikian Haris.[dem]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Tambahan Dana BBM Subsidi Tembus Rp2 Triliun per Hari

Jumat, 10 April 2026 | 02:02

HIPKA Dorong Kepercayaan Pengusaha di Tengah Ketidakpastian Global

Jumat, 10 April 2026 | 01:26

Warga Dunia Khawatir Konflik Iran-Israel Kembali Pecah

Jumat, 10 April 2026 | 01:19

Perlu Hitungan Matang Jaga Ketahanan BBM

Jumat, 10 April 2026 | 01:04

Sandiaga Uno Raih Penghargaan Muzakki Teladan Berdampak

Jumat, 10 April 2026 | 00:31

Prabowo Cerdas Sikapi Wacana Impeachment

Jumat, 10 April 2026 | 00:18

Masa Depan Jakarta Ada di Kota Tua dan Kepulauan Seribu

Jumat, 10 April 2026 | 00:05

Gencatan Senjata Iran-Israel Bukan Akhir Konflik, Indonesia Wajib Waspada

Kamis, 09 April 2026 | 23:41

Badan Pelaksana Otoritas Danau Toba Butuh Pemimpin Baru

Kamis, 09 April 2026 | 23:24

MRT Adalah Game Changer Transformasi Kota Tua Jakarta

Kamis, 09 April 2026 | 23:03

Selengkapnya