Berita

ilustrasi/ist

Tentang Idul Fitri yang Kehilangan Makna...

MINGGU, 28 AGUSTUS 2011 | 16:10 WIB | LAPORAN:

RMOL. Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Karenanya, setiap tahun sekitar 85,2 persen umat muslim di negeri yang kaya ragam budaya ini merayakan lebaran.

Namun, ada yang unik dari cara umat Islam menghiasi perayaan Lebaran tiap tahun.  Menjelang hari raya Idul Fitri bahkan jauh hari sejak Ramadhan dimulai, hampir semua umat muslim di Indonesia disibukkan oleh tradisi-tradisi yang sudah melekat bertahun-tahun ini. Sebut saja, tradisi berpakaian baru di Hari Lebaran. Banyak kalangan masyarakat kita rela merogoh kocek dalam-dalam untuk sekedar berpakaian baru di saat Lebaran. Mereka pun bersedia berdesak-desakan antri di pasar atau mal yang menjual berbagai keperluan di Hari nan fitri.

Barang yang berlabel "sale" pun jadi serbuan para pembeli menjelang lebaran ini. Selanjutnya, tradisi pulang ke kampung halaman atau mudik juga menambah ragam tradisi masyarakat muslim di Indonesia. Sekitar lima atau empat hari sebelum lebaran, macet tahunan turut mengiringi perjalanan mudik di negeri ini.


Setidaknya inilah sekelumit gambaran budaya yang berkembang di kalangan masyarakat muslim Indonesia setiap tahunnya, terutama menjelang lebaran. Budaya konsumtif sepertinya telah mengakar dan menjadi tradisi tahunan. Bahkan, hal ini cenderung menjadi budaya yang hura-hura dan jauh dari substansi dan makna "Idul Fitri" itu sendiri yang berarti "kembali pada fitrah, asalnya yang suci."

Mengenai konsumerisme itu sendiri, menurut Profesor Abdul Munir Mulkan, seorang guru besar di Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta, memiliki makna yang bermacam-macam bagi banyak pihak. Bagi kelas bawah misalnya, perilaku konsumtif itu terlebih sebagai unjuk rasa atau pamer. Meskipun hal itu sebagai pemborosan yang luar biasa. Namun budaya konsumtif ini memperoleh momentumnya menjelang lebaran ini. Budaya tersebut, menurut Prof. Mulkan sebetulnya tidak sesuai dengan Hadis Nabi Muhammad SAW yang menekankan agar umat Islam lebih mampu mengendalikan hawa nafsunya. Selain itu, membantu sesama terutama yang lemah, dan memperbaiki perilaku diri. "Bukan justru untuk memamerkan pakaian baru," cetusnya.

Tidak hanya itu, tradisi 'memberi' di kalangan masyarakat juga dinilai telah menyimpang. Misalnya di kalangan orang yang mampu, Mulkan melihat rasa kemanusiaan itu sudah berkurang.

"Seperti yang kita lihat, banyak tradisi sembako pada Hari yang Fitrah ini diberikan dengan cara diumumkan dan disebutkan berapa nilainya. Bahkan, sedekah atau zakat itu pun seringkali mengundang orang untuk berdesak-desakan," katanya.

Tidak jarang, cara seperti itu menimbulkan korban jiwa baik yang terluka maupun meninggal. Hal ini tekan Mulkan, jelas tidak mencerminkan muslim yang terhormat. Seyogyanya, zakat itu diantar kepada orang yang membutuhkan, bukan dengan cara mengantri dan berdesakan.

Di sisi lain, para pemimpin baik dari kalangan agama, politik dan negara juga kurang memberi teladan. Mulkan menambahkan, banyak tausiyah dari para pemimpin jorjoran peduli pada orang kecil. Tetapi disayangkan, bentuk peduli mereka justru untuk mengumpulkan suara.

Oleh karena itu, Mulkan berpandangan, langkah yang harus digerakkan ialah dengan "menafsir ulang" ajaran dan makna Idul Fitri itu sendiri. Idul Fitri ini sudah seharusnya dijadikan sebagai momentum untuk memberdayakan masyarakat agar lebih produktif. Bukan hanya memberi dalam bentuk zakat atau sembako saja tapi juga menjadi momentum untuk memecahkan masalah ekonomi dan sosial.

"Salah satu upaya untuk memberikan kesadaran itu menurut Mulkan, yaitu melalui gerakan di bidang pendidikan. Ulama-ulama harus berusaha memberikan kesadaran pada masyarakat, untuk menafsir ulang apa makna Hari yang Fitrah ini. Hari dimana umat Muslim saling memaafkan, peduli pada sesama, dan bertafakur diri," demikian Prof Mulkan. [wid]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya