Berita

aji surya/ist

SERBA SERBI NAIK ELBRUS (3)

Tahu Diri

Oleh: M. Aji Surya
SELASA, 16 AGUSTUS 2011 | 07:55 WIB

KETIKA tantangan besar ada di hadapan, berbagai masalah mungkin datang menerpa, rasa khawatir ada dalam hati, haruskah kita mengurungkan niat? Ataukah kita terjang saja dengan motto: Que Sera, Sera, Whatever Will Be, Will Be?

Menaklukkan salah satu gunung tertinggi di dunia, seperti Elbrus, pastilah tidak bisa main-main. Bukan pekerjaan sembarangan. Butuh orang yang spesial dan profesional. Tanpa ketrampilan, badan prima, mental baja, semangat pantang menyerah, kemampuan finansial yang memadai, maka sebuah kesia-siaan akan dihadapi.

Dari Emanuel camp (2580 mdpl), seorang pendaki harus merayap ke Moraine camp (3800 mdpl). Lima enam bukit dan tebing curam harus dilalui dengan durasi 6-8 jam. Setelah itu, di atas salju dan suhu di bawah minus, pendaki mesti naik tertatih-tarik dengan crampon dan stick-nya ke Lenz Rock (4600 mdpl) selama 7 jam. Pagi buta hari berikutnya, summit attack baru dilakukan di tengah kegelapan malam dan kemiringan yang curam (5642 mdpl). Begitu sampai puncak, harus segera turun untuk menyelamatkan diri dari amukan badai salju.


Bermalam di Lenz Rock juga perlu keahlian sendiri. Di bawah suhu yang bisa mencapai minus 10 derajat Celcius, pendaki harus mampu tidur di tenda yang dingin, beralaskan plastik saja. Di setiap malam, badai salju seringkali datang dengan suaranya yang  gemuruh. Hujan es (bukan salju) juga hal yang biasa. Mungkin, kesengsaraan di tempat ini nyaris mendekati neraka yang disediakan Tuhan di akhirat kelak. Wallahu a'lam. Tapi, bila Anda ingin sedikit merasakan, tidurlah di freezer kulkas!

Nah, orang awam seperti saya, semua itu mustahil mampu dilakukan. Makanya, sejak awal sayapun tahu diri dan hanya akan menemani Sabar Cs sampai Emanuel camp. Meskipun begitu, sungguh, semua perkiraan saya nyaris meleset.

Perjalanan dari kota kecil Pyatigorsk ke Emanuel camp, bukan jalan yang lurus, di atas toll road, serta bisa diselingi dengan bernyanyi "naik-naik ke puncak gunung". Inilah sebuah perjalanan paling mengerikan dalam hidup saya. Kala itu, rasanya saya sudah dekat sekali dengan kematian yang hanya memiliki dua alternatif: surga atau neraka! Dan saya merasa belum siap menghadapinya.

Perjalanan sepanjang 125 km tersebut dapat dibagi ke dalam empat etape besar. Pertama, perjalanan yang menembus kota dan pedesaan Pyatigorks sepanjang 20 km. Awalnya jalan masih mulus, namun begitu masuk kampung, maka kubangan-kubangan aspal ada di semua sisi sehingga pengendara mobil harus mampu berzig-zag. Semua ini berakhir di sebuah sungai kecil dimana kendaraan kita harus mampu "berenang" di atasnya.

Etape kedua adalah jalanan non-aspal berdebu di sela-sela gunung. Perjalanan sepanjang 50-an km ini boleh dibilang masih lumayan. Cukup lebar dan penumpang mobil bisa melihat pemandangan puluhan gunung sambil bersiul. Keindahan alam disini sangat eksotik dan menggetarkan jiwa. Kekuasaan Tuhan terasa sangat besar dan kita tidak ada apa-apanya.

Etape ketiga merupakan jalan bebatuan selebar 3 meter dan selalu berada di tepian gunung. Empat gunung harus didaki melalui jalan yang meliuk-liuk. Terlihat dari jauh, jalan menuju puncak gunung yang harus kita jalani lalu ketika kita sampai puncaknya terlihat lagi jalan di lembah curam hingga pucuk gunung yang lain. Rasanya, perjalanan itu tanpa ada ujungnya. Naik turun gunung pada kisaran ketinggian seribu meter berkali-kali membuat kepala makin pening.

Dan, etape mengerikan adalah 20 km terakhir. Jalur ini saya namakan "shiratal mustaqim". Kalau kita bisa melewatinya maka kita akan masuk surga, tapi kalau gagal dijamin kecemplung neraka! Bagaimana tidak, dengan lebar kisaran dua meter, jalan itu berbatu-batu dan banyak reruntuhan bukit. Di samping kiri selalu terdapat jurang sedalam 500-700 meter siap menelan kita bila kita lengah. Sedang di kanan terbentang tinggi tebing  bebatuan yang setiap saat bisa longsor dan mengantarkan kita ke jurang paling dalam.

Perjalan terakhir ini sungguh terasa panjang. Merayapi pinggiran tiga gunung, sisi tebing dan diatas tepian jurang dengan kemungkinan terguling 50 persen. Ketika jalan, mobil akan meloncat-loncat seperti saat naik kuda akibat ban yang menerjang aneka bebatuan. Suasana ajrut-ajrutan itulah yang saya kira paling mengerikan. Sekali terpeleset, sangat bisa dipastikan mobil akan hancur luluh lantak ketika tiba di dasar jurang. Dan, malaikat dengan catatan amal sudah menunggu di ujung bawah.

Masalah paling repot adalah ketika harus berpapasan dengan mobil lain. Salah satu harus mengalah, khususnya yang dalam posisi turun. Nah, paling apes adalah ketika mobil kita harus mundur untuk memberikan jalan bagi yang mau naik sambil mencari  ruangan yang relatif lebar untuk parkir. Saya benar-benar memejamkan mata. Ketika berjalan lurus saja begitu ketakutan, apalagi saat jalan mundur. Ajrut-ajrutan jalan mundur pastilah lebih bersiko daripada melompat-lompat ke depan. Terasa engsel dengkul ini nyaris copot. Minta ampun.

Dan, seri etape terakhir ditutup dengan menyebarangi sungai selebar 200-an meter yang penuh dengan bebatuan dan air yang relatif cukup deras. Mobil terasa terlempar keatas lalu terbanting ke bawah. Miring ke kiri lalu tiba-tiba menungging. Adakalanya selip dan harus mundur lagi. Begitu tiba di seberang, sampailah kita di Emanuel Camp yang dituju.

Oh sungguh, saya bersumpah tidak akan mengulangi lagi perjalanan ke Elbrus, meskipun hanya sampai Emanuel Glade. Inilah perjalanan yang tidak tertata dan memberikan pengalaman yang menyesakkan dada. Saya memang bukan seorang profesional pendaki gunung. Saya juga bukan orang yang pernah naik gunung. Saya juga tidak memiliki adrenalin untuk naik gunung. Saya tidak punya apa-apa.

Keputusan untuk tidak naik gunung lagi merupakan sesuatu yang tepat. Menghadapi tantangan memerlukan persiapan yang terukur. Perlu skill yang memadai. Perlu badan yang prima serta mental baja. Tidak bisa sekedar awur-awuran alias ngasal. Sekedar berani dan pukul dulu urusan belakangan. Atau memakai motto: kumaha engke wae.

Mereka yang suka dengan pekerjaan yang tidak terencana dan asal-asalan dipastikan hasilnya tidak maksimal. Apalagi rencana buruk dan pelaksanannya amburadul. Hanya bencanalah yang akhirnya diketam. Semua itu sudah hukum alam dan tidak seorang pun mampu merubahnya. Bahkan, suku Baduy pada zaman jahiliyah pun sudah mengenal kalimat bijak: halakamruun man lam ya’rif qodroh--maka celakalah orang-orang yang tidak tahu kemampuan dirinya sendiri.

Penulis adalah diplomat Indonesia pada KBRI Moskow yang bisa dihubungi di: ajimoscovic@gmail.com

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya