Berita

ANI VS ANI/ist

Mari Menimbang Ani Yudhoyono Vs Sri Mulyani

SABTU, 06 AGUSTUS 2011 | 11:33 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Terhitung lebih dari sekali Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan janji soal suksesi kepemimpinan Indonesia. Pertama, dia menghargai konstitusi dan berjanji tidak akan mencalonkan diri lagi sebagai Presiden pada 2014 sesuai perintah konstitusi. Yang lebih hebat janji itu diikuti komitmen tidak akan memajukan anggota keluarganya untuk bertarung di Pilpres 2014.

Terakhir, saat membuka Indonesia Young Leader Forum 2011 di Ballroom 2 Hotel Ritz Carlton Jakarta, yang digelar 9 Juni lalu, SBY menyatakan: "Nama saya SBY. Jabatan saya Presiden ke enam hasil Pemilu 2004 dan 2009. Dan saya bukan Capres 2014. Istri dan anak-anak saya juga tidak akan mencalonkan sebagai presiden 2014!"

Tapi semakin SBY mengumbar janji, tak kunjung reda kecurigaan sebagian publik dan elit politik bahwa politik Dinasti Cikeas akan diawetkan SBY. Dia mengizinkan anak bungsunya, Edhie Baskoro Yudhoyono, menjadi Sekjen DPP Partai Demokrat. Bukan tidak mungkin, SBY akan memuluskan anggota keluarganya ke arena 2014. Nama Ibu Negara, Ani Yudhoyono, paling kuat dipergunjingkan.


Memang, partai binaan SBY (Demokrat) sudah menegaskan, bahwa tahun 2009-2013 adalah tahun kerja. Mengenai pencalonan, baru akan dibicarakan pada akhir 2013. Anggota Dewan Pembina, Ahmad Mubarok juga menegaskan, saat ini Demokrat belum menempa seorang pun untuk dipersiapkan sebagai Capres 2014. Seleksi terhadap calon akan dilakukan dengan melihat kerja dan baktinya untuk negara yang dilakukan selama 2009-2013. Dalam pencalonan nanti, katanya, Demokrat juga tidak akan terpaku pada kader saja. Dan tidak mungkin SBY akan merestui istrinya untuk maju sebagai Capres 2014.

"Pak SBY selalu mengatakan, tidak etis seorang pejabat, setelah dirinya turun kemudian mencalonkan istri dan anaknya. Jadi, mana mungkin Pak SBY malah melakukan itu," kata Mubarok akhir 2010 silam.

Meski demikian, sudah terlanjur basah prediksi politik yang menyebutkan ada tiga nama dari lingkaran dalam SBY yang akan disokong penuh Demokrat maupun SBY sendiri sebagai calon presiden. Mereka adalah, Ani Yudhoyono, Ketua Umum Demokrat, Anas Urbaningrum dan terakhir adik ipar SBY (adik kandung Ani) Pramono Edhie Wibowo yang kini menjabat Kepala Staf Angkatan Darat.

Jurubicara Partai Demokrat, Ruhut Sitompul, di beberapa kesempatan sempat membocorkan wacana pencalonan Ani Yudhoyono sebagai calon terkuat untuk capres 2014. Memang Demokrat belum menetapkannya. Tapi, kata Ruhut berdasar poling Lembaga Survei Indonesia, perempuan bernama lengkap Kristiani Herawati itu adalah kandidat terkuat setelah Bapak SBY.

Kendati tidak masuk dalam struktur harian DPP Demokrat, status Ani yang sebagai Ibu Negara membantu kenaikan popularitas dan peluang menjadi capres dibandingkan kader Demokrat yang lain, termasuk Anas Urbaningrum sekalipun. Kondisi ini beda dengan Parpol umumnya, yang mewacanakan ketua umumnya sebagai figur capres. Amunisi yang dimiliki Ani bukan sembarangan. Bagaimanapun, dialah yang selalu menyertai Presiden SBY dalam rapat-rapat. Ani, jika dia mau, juga punya akses menyelipkan kampanye dirinya melalui kegiataan kenegaraan Ibu Negara di daerah-daerah.

Terlepas apakah pro-kontra Ani Yudhoyono menjadi calon presiden sekadar testing the voter, tapi putri tokoh militer Indonesia, Sarwo Edhie Wibowo, itu patut diperhitungkan. Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso bahkan mengakui Ani Yudhoyono memiliki trah untuk dicalonkan sebagai presiden pada pemilu 2014. Pengamat politik LIPI, Siti Zuhro punya perkiraan Ani-lah yang berpeluang besar bakal digadang Demokrat jadi Capres di tengah 'kemalu-maluan' Demokrat saat ini

Menarik jika Ani Yudhoyono dikaitkan dengan pencalonan mantan menteri keuangan era SBY, Sri Mulyani Indrawati oleh Partai Serikat Rakyat Independen. Pengamat politik Siti Zuhro menegaskan, kalau saja Sri Mulyani bisa menyelesaikan kendaraannya, partai atau apapun cara untuk bisa maju di Capres 2014, maka bukan tidak mungkin dia akan bersaing dengan Ani Yudhoyono.

Kemungkinan besar, pencalonan Sri Mulyani sebagai Presiden di Pilpres 2014 bakal terganjal oleh mantan bosnya sendiri, Susilo Bambang Yudhoyono. Walau SBY dilarang konstitusi mencalonkan diri lagi, tapi SBY dipastikan akan memajukan orang kepercayaannya sebagai capres. Hal itu diutarakan Jurubicara Demokrat, Ruhut Sitompul.

"Siapapun nama yang terucap dari mulut SBY, itu yang akan menang Pilpres 2014," kata Ruhut yakin.

Terus terang dia mengatakan, kalau Demokrat diajukan nama Sri Mulyani, jauh lebih baik bagi Demokrat mendukung Ani Yudhoyono.

"(Ani Yudhoyono) lebih jelas pengabdiannya buat bangsa. Tapi karena Bapak (SBY) tidak izinkan, saya engga berani ngomong deh. Sekali lagi, kalau perempuan ingin jadi presiden, jauh lebih baik Ibu Ani Yudhoyono daripada Sri Mulyani," jelasnya.

Pernyataan Ruhut itu seolah meremehkan "kampanye dini" Majelis Pertimbangan Partai Serikat Rakyat Independen, Arbi Sanit, yang mengklaim enam kelebihan Sri Mulyani.

Pertama, Sri Mulyani punya integritas tinggi dan termasuk menteri yang bisa berdebat panjang dengan presiden dalam rapat kabinet. Kedua, Sri Mulyani punya pengalaman berpolitik. Ketiga, Sri Mulyani bisa mengatasi masalah negara dan punya pengalaman sebagai negarawan. Empat, Sri Mulyani punya pengalaman menajerial mengelola pemerintahan. Lima, punya pengalaman internasional, mengelola lembaga nasional dan berhubungan dengan kalangan internasional, dan keenam, Sri Mulyani dianggap punya pengalaman memperbaharui kondisi negara.

Melihat realitas di atas, pantaslah bila kita menerka-nerka. Andai saja, Kristiani Herawati Yudhoyono dan Sri Mulyani Indrawati bertarung dalam pemilihan presiden 2014, siapakah yang akan Anda pilih?

Itulah tema poling Rakyat Merdeka Online kali ini. Perlu diingatkan, menggunakan metode one IP one vote, hasil poling ini hanyalah gambaran dari sementara pembaca setia yang berpartisipasi, bukan sikap masyarakat umum.

Jadi, selamat memilih.[ald]

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya