ilustras/ist
ilustras/ist
RMOL.Guillain Barre Syndrome atau biasa disingkat GBS adaÂlah penyakit yang bisa meÂnyerang sistem syaraf inti dan syaraf tepi sehingga dapat mengakibatkan kelumpuhan. Penyakit ini meÂmang jarang sekali terjadi.
“Yang jadi masalahnya hingÂga saat ini kita belum punya obatÂnya. Obatnya harus diÂimÂpor dan harganya sangat mÂaÂhal,†cetus Menkes Endang RaÂhayu SeÂdyaningsih di JaÂkarÂta, belum lama ini.
Berdasarkan literatur, untuk setiap tahunnya penyakit GBS haÂnya ada satu sampai dua kasus di antara 100 ribu orang di seÂluÂruh dunia. Di Indonesia senÂdiri, kaÂsus GBS terakhir yang pernah diÂlaÂporkan lebih dari 10 tahun lalu.
Penyakit ini sebenarnya suÂdah ditengarai atau diketahui pada tahun 1859. Tapi, pada tahun 1916 itu dideskripsikan dengan jelas oleh ilmuan PeranÂcis yang terdiri dari Jean-AlexanÂder BarrÈ dan George Charles Guillian. Karena itu, nama GBS berasal dari nama mereka.
Di Indonesia, kata Endang, beÂlum ditemukan data yang konÂkret mengenai penyakit ini. Tapi, misalnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) ditaÂnyakan, kasusnya cukup jarang. Dalam satu tahun belum tentu ada kasusnya. Penyakit ini biaÂsanya menyerang usia dewasa.
Endang mengakui, pengeÂtahuan masyarakat terhadap GBS masih sangat kurang. Imbasnya, penyakit GBS diÂsangka penyakit lemah layu atau cikungunya. Padahal, jika terlambat peÂnaÂngaÂnanÂnya, paÂsiennya dalam hÂituÂngan jam bisa meninggal dunia.
Sejauh ini, beberapa peneÂlitian yang dilakukan belum dapat menemukan secara tepat enzim, hormon, atau syaraf apa yang menyebabkan munculnya seÂkumpulan penyakit syaraf (polyÂneuritis) ini.
Para pakar baru menemukan, GBS bekerja dengan sistem keÂkebalan tubuh. Pada sel tubuh yang normal, sistem kekebalan tuÂbuh akan memberikan perÂlaÂwaÂnan terhadap organisme asing yang masuk dan meÂnyeÂrang tubuh.
Sekalipun begitu, pada GBS sistem kekebalan tubuh mulai menyerang sel (khususnya myeÂlin dari axon) pada susunan syaraf tepi. Hal ini menyeÂbabkan fungsi myelin dari axon secara bertahap rusak dan luka.
Alhasil, syaraf pada susunan syaraf tepi berhenti meneruskan perintah. Dan yang terlihat adalah otot-otot yang berada di bawah pengaruh susunan syaraf tepi kehilangan kemampuannya mengÂikuti perintah otak dan sebaliknya otak pun hanya menÂdapat sedikit tanda dari tubuh.
Inilah yang menyebabkan penÂderita mengalami keÂlumÂpuhan total. GBS bukan peÂnyakit ketuÂrunan, tidak meÂnuÂlar, bukan juga karena faktor lingkungan ataupun makanan yang kurang sehat.
Satu-satunya bukti ilmiah yang didapat oleh para ilmuan adalah bukti bahwa penderita GBS sistem kekebalan tubuh secara mandiri menyerang tuÂbuh. Karena itu, GBS dikenal juga dengan auto-immune disease.
Penyakit ini mirip seperti penyakit lupus. Jadi, antibodi kita menggerogoti tubuh kita sendiri. Ini khasnya adalah mengganggu syaraf perifer, bukan otak tapi syaraf-syaraf di pinggir. Yang membahayakan apabila GBS mengenai otot-otot pernafasan sehingga penÂderitanya akan kesulitan beÂrÂnaÂfas lalu dibantu alat bantu perÂnaÂfasan atau ventilator.†[rm]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Minggu, 11 Januari 2026 | 18:14
Minggu, 11 Januari 2026 | 18:10
Minggu, 11 Januari 2026 | 17:52
Minggu, 11 Januari 2026 | 17:01
Minggu, 11 Januari 2026 | 16:37
Minggu, 11 Januari 2026 | 15:53
Minggu, 11 Januari 2026 | 15:22
Minggu, 11 Januari 2026 | 15:15
Minggu, 11 Januari 2026 | 14:50
Minggu, 11 Januari 2026 | 14:39