Berita

ilustras/ist

Bisnis

Obat GBS Belum Ada di Indonesia

JUMAT, 05 AGUSTUS 2011 | 00:28 WIB

RMOL.Guillain Barre Syndrome atau biasa disingkat  GBS ada­lah penyakit yang bisa me­nyerang sistem syaraf inti dan syaraf tepi sehingga dapat mengakibatkan kelumpuhan. Penyakit ini me­mang jarang sekali terjadi.

“Yang jadi masalahnya hing­ga saat ini kita belum punya obat­nya. Obatnya harus di­im­por dan harganya sangat m­a­hal,” cetus  Menkes  Endang Ra­hayu Se­dyaningsih di Ja­kar­ta, belum lama ini.

Berdasarkan literatur, untuk setiap tahunnya penyakit GBS ha­nya ada satu sampai dua kasus di antara 100 ribu orang di se­lu­ruh dunia. Di Indonesia sen­diri, ka­sus GBS terakhir yang pernah di­la­porkan lebih dari 10 tahun lalu.

Penyakit ini sebenarnya su­dah ditengarai atau diketahui pada tahun 1859. Tapi, pada tahun 1916 itu dideskripsikan dengan jelas oleh ilmuan Peran­cis yang terdiri dari Jean-Alexan­der BarrÈ dan George Charles Guillian. Karena itu, nama GBS berasal dari nama mereka.

Di Indonesia, kata Endang, be­lum ditemukan data yang kon­kret mengenai penyakit ini. Tapi, misalnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) dita­nyakan, kasusnya cukup jarang. Dalam satu tahun belum tentu ada kasusnya. Penyakit ini bia­sanya menyerang usia dewasa.

Endang mengakui, penge­tahuan masyarakat terhadap GBS masih sangat kurang. Imbasnya, penyakit GBS di­sangka penyakit lemah layu atau cikungunya. Padahal, jika terlambat pe­na­nga­nan­nya, pa­siennya dalam h­itu­ngan jam bisa meninggal dunia.

Sejauh ini, beberapa pene­litian yang dilakukan belum dapat menemukan secara tepat enzim, hormon, atau syaraf apa yang menyebabkan munculnya se­kumpulan penyakit syaraf (poly­neuritis) ini.

Para pakar baru menemukan, GBS bekerja dengan sistem ke­kebalan tubuh. Pada sel tubuh yang normal, sistem kekebalan tu­buh akan memberikan per­la­wa­nan terhadap organisme asing yang masuk dan me­nye­rang tubuh.

Sekalipun begitu, pada GBS sistem kekebalan tubuh mulai menyerang sel (khususnya mye­lin dari axon) pada susunan syaraf tepi.  Hal ini menye­babkan fungsi myelin dari axon secara bertahap rusak dan luka.

Alhasil, syaraf pada susunan syaraf tepi berhenti meneruskan perintah. Dan yang terlihat adalah otot-otot yang berada di bawah pengaruh susunan syaraf tepi kehilangan kemampuannya meng­ikuti perintah otak dan sebaliknya otak pun hanya men­dapat sedikit tanda dari tubuh.

Inilah yang menyebabkan pen­derita mengalami ke­lum­puhan total. GBS bukan pe­nyakit ketu­runan, tidak me­nu­lar, bukan juga karena faktor lingkungan ataupun makanan yang kurang sehat.

Satu-satunya bukti ilmiah yang didapat oleh para ilmuan adalah bukti bahwa penderita GBS sistem kekebalan tubuh secara mandiri menyerang tu­buh. Karena itu, GBS dikenal juga dengan auto-immune disease.

Penyakit ini mirip seperti penyakit lupus. Jadi, antibodi kita menggerogoti tubuh kita sendiri. Ini khasnya adalah mengganggu syaraf perifer, bukan otak tapi syaraf-syaraf di pinggir. Yang membahayakan apabila GBS mengenai otot-otot pernafasan sehingga pen­deritanya akan kesulitan be­r­na­fas lalu dibantu alat bantu per­na­fasan atau ventilator.” [rm]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

AS Gempur ISIS di Suriah

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:14

Aksi Kemanusiaan PDIP di Sumatera Turunkan Tim Kesehatan Hingga Ambulans

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:10

Statistik Kebahagiaan di Jiwa yang Rapuh

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:52

AS Perintahkan Warganya Segera Tinggalkan Venezuela

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:01

Iran Ancam Balas Serangan AS di Tengah Gelombang Protes

Minggu, 11 Januari 2026 | 16:37

Turki Siap Dukung Proyek 3 Juta Rumah dan Pengembangan IKN

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:53

Rakernas PDIP Harus Berhitung Ancaman Baru di Jawa Tengah

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:22

Rossan Roeslani dan Ferry Juliantono Terpilih Jadi Pimpinan MES

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:15

Pertamina Pasok BBM dan LPG Gratis untuk Bantu Korban Banjir Sumatera

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:50

Pesan Megawati untuk Gen Z Tekankan Jaga Alam

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:39

Selengkapnya