Berita

ilustrasi/ist

TAUSIAH RAMADHAN

Ramadhan, Momentum Membakar Dosa

SENIN, 01 AGUSTUS 2011 | 12:58 WIB | LAPORAN:

TUHAN tidak membutuhkan penghambaan manusia. Sebab jika membutuhkan dari yang lain, tentu tidak layak lagi disebut sebagai Tuhan.

Penghambaan yang diwajibkan oleh-Nya kepada manusia ditujukkan untuk kebutuhan manusia itu sendiri. Maka sejatinya setiap ritual keagamaan tidak berhenti pada dimensi teologis-vertikal semata. Penghambaan kepada-Nya harus melintasi dimensi sosiologis- horisontal sehingga berdampak pada pengabdian terhadap sesama.

Begitu juga dengan ibadah puasa Ramadhan yang selalu dilakukan oleh setiap muslim di dunia. Secara teologis-vertikal, puasa diperintahkan Tuhan untuk
meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan seorang mukmin (QS. 2: 183).

meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan seorang mukmin (QS. 2: 183).

Karena efek iman dari puasa sangat privat di mata Tuhan, maka dalam berbagai hadits disebutkan bahwa ibadah puasa langsung diganjar oleh Tuhan saat itu juga. Hanya ibadah puasa yang tidak bisa diketahui oleh kasat mata penilaian manusia. Ibadah puasa tidak bisa dipertontonkan kepada orang lain. Begitu juga seseorang tidak bisa menilai orang lain sedang berpuasa atau tidak. Hal ini berbeda dengan ibadah lainnya seperti shalat, zakat, dan haji.

Secara bahasa, puasa berarti menahan (al imsak). Artinya menahan dari makan, minum, atau hubungan suami istri dari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari. Selain melatih kesabaran, menahan rasa lapar, haus, dan hasrat seksual ini bertujuan untuk meminimalisir dorongan biologis hewani manusia yang seringkali melampaui batas. Dorongan hewani ini membuat manusia rakus, serakah, korup, dan mengumbar hawa nafsu. Akibatnya, sifat insani manusia yang mulia dinodai oleh lumpur-lumpur dosa.

Untuk mengikis sifat hewani manusia ini, Tuhan menciptakan bulan Ramadhan
sebagai bentuk kasih sayang kepada para hamba. Ramadhan, secara bahasa,
merupakan bentuk derivatif dari ramadha-yarmadhu yang artinya membakar.

Pakar gramatika Bahasa Arab, Imam Al Raghib Al Isfahani menyebut Ramadhan sebagai momentum untuk membakar segala dosa dengan amal-amal yang baik (yarmadu al dzunub bi ‘amali al sholihat). Karena itu pula, Ramadhan seringkali disebut sebagai bulan pengampunan (syahr al maghfirah). [***]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya