Berita

presiden sby/ist

RUU BPJS Macet, SBY Lempar ke Boediono

KAMIS, 21 JULI 2011 | 17:19 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kembali mengadakan pertemuan dengan pimpinan DPR di Kantor Presiden, Jakarta,. Kamis (21/7). Pertemuan itu membahas RUU-RUU yang tidak kunjung usai pengkajiannya antara pemerintah dengan DPR, termasuk RUU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.

"Dalam keadaan tertentu, untuk niat dan tujuan yang baik, sesuai embanan tugas, baik pemerintah maupun DPR RI, pimpinan puncak baik kabinet maupun dewan melaksanakan pertemuan konsultasi," ujar SBY usai pertemuan itu, sesaat lalu.

Dia menjelaskan, dalam dua kali pertemuannya dengan pimpinan DPR (kemarin dan hari ini) isu utama yang dibahas seputar mencari solusi dan opsi terbaik dalam penyelesaian pembahasan RUU.


"Baik secara khusus RUU BPJS dan RUU OJK maupun RUU yang lain. DPR dan Presiden membahas secara bersama RUU, dalam konteks ada permasalahan khusus dalam pembahasan itu. Kami memiliki kewajiban dalam mencari solusi dan opsi terbaik," kata Presiden lagi.

Menyangkut RUU yang memerlukan perhatian khusus yaitu BPJS dan OJK, DPR dan pemerintah menyadari target yang harus diselesaikan tahun ini. Menurut SBY, masih ada pekerjaan yang diselesaikan bersama pemerintah dan DPR.

"Artinya sisa waktu 2011 ini harus dibangun mekanisme kerja yang efektif. Setelah dewan menyelesaikan masa reses, akan melakukan konsolidasi lebih utuh dan percepatan dengan time line yang disepakati," terangnya.

Dan khusus penyelesaian RUU BPJS dan OJK, SBY menginstruksikan Wakil Presiden Boediono untuk menanganinya.

"Khusus penyelesaian RUU BPJS dan OJK, dari pihak pemerintah saya sudah tugaskan Wapres untuk pimpin langsung menteri-menteri agar lebih efektif lagi pembahasam dua RUU itu dengan DPR," terang SBY.

SBY dan DPR menyadari, ada beberapa isu, khusus dalam pembahasan RUU BPJS yang masih menuai polemik. Misalnya, peleburan empat BUMN (Jamsostek, Taspen, Asabri dan Askes) yang mesti ditata dengan transformasi yang realistik sehingga tak ada masalah serius nantinya.

"Karena yang namanya melebur jadi satu sering ada masalah kultural, kebijakan, kesalahpahaman anggota. Kita tidak ingin ketika RUU itu disahkan masih menyisakan masalah," ujar SBY.[ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Selain Anak Buah Nusron, KPK Benarkan Tangkap Fahd A Rafiq

Selasa, 15 September 2026 | 00:25

Laut Bukan Tempat untuk Mati

Selasa, 15 September 2026 | 00:01

APKARINDO Perjuangkan Ksejahteraan Petani hingga Kejayaan Karet Rakyat

Senin, 14 September 2026 | 23:42

Anak Buah Nusron Kena OTT KPK Terkait Pengurusan HGB Summarecon

Senin, 14 September 2026 | 23:22

DPR Soroti Usia Kapal dan Kepatuhan Aturan Impor dalam Tragedi Virgo Transport 8

Senin, 14 September 2026 | 23:02

Pemerintah Bahu Membahu Cegah Karhutla Masuk Zona Inti IKN

Senin, 14 September 2026 | 23:01

Pemilik Laundry Sukses Kembangkan Usaha dari Mekaar jadi BRILink Agen

Senin, 14 September 2026 | 22:38

OTT KPK Makin Mengerucut, Fahd A Rafiq hingga Bos Summarecon Dikabarkan Terjaring

Senin, 14 September 2026 | 22:37

Ketua KPK Benarkan OTT Pejabat ATR/BPN, Daftar Nama Belum Diungkap

Senin, 14 September 2026 | 21:59

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

Selengkapnya