RMOL. Ketua Umum baru PSSI, DjoÂhar Arifin Husein, menjanjikan transparansi pada organisasi yang dipimpinnya. Bahkan akunÂtan publik kelas satu akan diundang untuk menjamin tranparansi dana.
“Ini bukan untuk mencari-cari kesalahan. Hanya untuk lebih baik di masa depan. Kami juga ingin mendapatkan kepercayaan penuh dari masyarakat dan pengÂusaha (sebagai sponsor). KeperÂcaÂyaan ini adalah modal agar bisa bekerja sama dengan pihak mana pun,†ujar Djohar didamÂpiÂngi tujuh Exco PSSI kemarin.
Hasil dari audit ini nantinya akan diumumkan ke publik. ApaÂkah enam bulan sekali atau seÂtahun sekali. Sehingga nantiÂnya masyarakat mengetahui keÂuaÂngan PSSI.
“Yang pasti kami akan meÂngundang akuntan yang biasa diÂundang klub-klub profeÂsioÂnal. Semuanya harus transpaÂran. Hasil audit akan diumumÂkan. Itu (audit) dilakukan enam bulan sekali atau setahun sekali, atau lebih,†jelas mantan pemain tim nasional tersebut.
Djohar melanjutkan, audit penÂting karena PSSI adalah miÂlik maÂsyarakat. Jadi, masyaÂraÂkat berhak tahu apa yang terjadi paÂda keuaÂngan PSSI.
“Kami ingin maÂsyaÂraÂkat juga merasa memiÂliki (PSSI). Kami ingin masyaraÂkat tahu, kami mulai dari sini. Tahu asetnÂya PSSI. Semua harus berÂtanggung jawab,†pungkas Djohar.
Disinggung soal nantinya diÂtemukan sesuatu yang janggal, ia menyebut bahwa itu bukanlah urusan mereka. “Kalau ada seÂsuaÂtu itu bukanlah urusan kami. TranÂsparan yang kami inginÂkan,†tegasnya.
Sementara itu, pengalaman pahit dialami wartawan sepakboÂla, Antonius Bramantoro sepuÂlang dari peliputan Kongres PSSI di Solo. Bramantoro menjadi korÂban pencurian di tengah perjalaÂnan dari Solo menggunakan KeÂreta Api (KA) Eksekutif Argo Dwipangga jurusan Solo-Jakarta.
Laptop wartawan TribunÂnews.com itu dicuri di tengah perÂjalanan menuju Ibu Kota JaÂkarta. Semula salah satu karyaÂwan swasta di bilangan Palmerah ini duduk di 1 A-B, gerbong 8 KA Eksekutif Argo Dwipangga ExÂtra. Barang bawaan pun ditaruh.
Sekitar pukul 06.00 WIB, saat hendak mengambil laptop dari sebuah tas, laptop yang dicari jusÂtru raib. Yang ada hanya seÂtumÂpuk kertas ukuran folio satu rim, lengkap dengan rapi plastik. “Pas mau ambil laptop di tas, tiba-tiba udah enggak ada,†kata BramanÂtoro di Jakarta, kemarin.
[rm]