Berita

Dita Indah Sari

On The Spot

Bekas Pembela Buruh Itu Kini Perempuan Banget

Dita Indah Sari, Staf Khusus Menakertrans
JUMAT, 08 JULI 2011 | 04:13 WIB

RMOL.Ini tentang sebuah nama: Dita Indah Sari. Sepak terjangnya memperjuangkan kaum buruh sudah dimulai sejak rezim Soeharto. Setelah memimpin aksi di Tandes, Surabaya, Juli 1996, dia ditangkap dan diadili. Dita akhirnya diganjar hukuman delapan tahun penjara. Organisasi yang dipimpinnya, Pusat Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI), juga dianggap sebagai organisasi terlarang.

DITA pernah mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Wa­ni­ta Malang dan LP Wanita Ta­ngerang. Dia kemudian dibe­baskan setelah mendapat amnesti dari Presiden BJ Habibie.

Seakan puas malang melintang di dunia perburuhan, Dita kemu­dian justru memilih memasuki lingkungan birokrasi yang selama ini dilawannya. Sejak akhir 2010, dia dipercaya menjadi staf khusus merangkap juru bicara Me­na­ker­trans Muhaimin Iskandar.

Apa alasan Dita memilih ber­gabung ke lingkungan birokrasi? Bagaimana kesibukannya kini setelah menjadi orang kantoran? Rakyat Merdeka kemudian mene­mui Dita di Gedung Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Se­latan, kemarin.

Boleh dibilang, tak sulit me­ne­mui wanita kelahiran Medan, 30 Desember 1972 ini. Melalui pe­san singkat, Dita berjanji bertemu se­telah salat zuhur di ruang ker­janya. Bergabung dengan staf khusus lainnya, ruang kerja Dita berada di lantai dua gedung utama Kemenakertrans. Ruanga kerjanya berdekatan dengan ruang kerja Menteri Imin.

Kehadiran Rakyat Merdeka di ruang kerjanya disambut jabat tangan hangat. Bisa dibilang, pe­nampilan Dita kini jauh lebih fe­minin dibandingkan ketika masih menjadi aktivis.

Mengenakan baju putih dipadu rok hitam, Dita Indah Sari kini ibarat orang kantoran. Aksesori di leher dan tangannya kian menon­jolkan sisi kewanitaannya. Sem­bari tersenyum, Dita mem­per­si­la­kan duduk di sebuah sofa em­puk. Satu set sofa berwarna co­kelat memang diletakkan di ba­gian tengah ruang kerjanya. Di ruang ini Dita tak sendirian. Dia berbagi ruangan dengan staf khu­sus lainnya. Hal itu bisa dilihat dari dua buah meja kerja yang be­rada di belakang sofa.

Seorang  pria berkacamata tam­pak serius bekerja di balik meja. Dia tetap sibuk dengan ke­giatannya seperti pertama kali Rakyat Merdeka tiba.

Wanita yang pernah menimba ilmu di Fakultas Hukum Uni­ver­si­tas Indonesia ini bercerita me­ngenai keputusannya bergabung dengan birokrasi. Sebelum men­jadi staf khusus Me­na­ker­trans, Dita sudah  beberapa kali dimin­tai bantuan Menteri Imin.

“Waktu itu nggak langsung bekerja sama, awalnya Cak Imin meminta beberapa bantuan. Saya dengan senang hati membantu. Dia meminta membantu mem­buat tulisan, berkomunikasi de­ngan beberapa instansi, mem­bantu memberikan gagasan, tapi posisinya masih belum terikat,” tuturnya.

Pada akhir 2010, Dita  ditawari Muhaimin Iskandar bergabung dengan Kemenakertrans. Setelah melalui proses pemikiran yang panjang, Dita akhirnya me­me­nu­hi keinginan Menteri Imin.

“Selama ini saya selalu di luar sistem, selalu oposisi. Tapi, saya juga berpikir bagaimana saya bisa berkontribusi pemikiran yang lebih efektif. Cak Imin sendiri orangnya terbuka pada ide baru dan ingin melakukan terobosan yang signifikan atas suatu m­a­sa­lah, jadi saya bersedia,” ujarnya.

Dita mengatakan, ada dua hal dasar yang mendorong dirinya menjadi bagian Kemenakertrans. Pertama, persoalan perburuhan dan ketenagakerjaan merupakan bid­ang yang sudah digelutinya sejak tahun 1992.

“Jadi saya bukan orang baru di bidang ini, juga bukan orang awam dan tidak tahu apa-apa. Su­dah 18 tahun saya berkecimpung di bidang ini, jadi tahu per­ma­sa­lahannya. Itu dasar pertama. De­ngan ilmu dan pengalaman yang saya miliki, saya ingin me­m­be­ri­kan usulan, dukungan, solusi ka­rena masalah ketenagakerjaan me­mang kompleks,” jelasnya.

Kedua, Dita memandang ber­ba­gi peran itu penting. Tentunya akan lebih mudah bagi rekan-rekannya yang masih berjuang di luar kalau memiliki perwakilan di dalam birokrasi. “Teman-teman aktivis akan sedikit lebih mudah menyampaikan pikirannya, lebih mudah berkomunikasi, lebih memudah memahami persoalan.

Arena boleh berbeda tapi kan visinya tetap sama. Perjungannya te­tap sama. Saya pikir kenapa tidak berbagi peran. Kenapa harus menguasai satu lini, kalau bisa menguasai lini yang lain.”

Dita mengaku, sebelumnya tidak memiliki kedekatan khusus dengan Menteri Imin. Namun, dia  sudah mengenal Menteri Imin sejak menjadi aktivis. “Ada hubungan tapi nggak terlalu de­kat, karena saya kan dari tradisi ge­rakan mahasiswa kiri, sedang­kan Cak Imin dari kanan se­hing­ga tidak pernah betul-betul ber­sen­tuhan. Kedua angkatannya juga beda, Cak Imin angkatan 86 saya angkatan 91. Jadi, dia seniorlah.”

Sekalipun kerap mengkritik Me­nakertrans,  semasa menjadi ak­tivis Dita selalu membina hu­bu­ngan baik dengan menteri pen­dahulu Cak Imin. Baginya, hu­bungan baik itu penting, karena se­bagai praktisi buruh dirinya kerap menyam­pai­kan berbagai gagasan.

“Sebetulnya semua orang yang menjadi Menakertrans selalu pu­nya hubungan baik dengan saya, mulai Pak Al-Hilal Hamdi, Pak Jacob Nuwa Wea, Pak Er­man Su­parno. Biar sering dikri­tisi bukan berarti kita tidak boleh ber­hu­bu­ngan baik,” Dita menjelaskan.

Pilihan bergabung dengan bi­rok­rasi tak membuat Dita kha­watir ruang geraknya menjadi ter­batas. Menurutnya, hal itu hanya persoalan cara penyampaiannya saja. “Kalau dulu pakai gedor pin­­tu, sekarang dengan bicara, lobi, berdebat, menggunakan ker­tas kerja, berhadapan dengan me­dia. Nggak mungkin saya ber­ha­dap dengan birokrasi, dengan cara ketika saya masih menjadi aktivis. Saya harus realistis ber­gerak di lapangan mana.”

Bebas, Asal Tak Menabrak...

Selama hampir satu tahun ber­gabung menjadi bawahan Men­teri Imin, Dita merasa tidak per­nah dibatasi dalam menyam­pai­kan gagasan. Dia mengatakan, Menteri Imin memberikan kebe­ba­san yang cukup luas selama gagasan itu positif. “Yang penting tidak menabrak aturan, tidak aneh-aneh, beliau mempersilakan.”

Banyak orang yang khawatir Dita terseret sistem sehingga me­ngubah Dita tak lagi proburuh. Ten­tang hal itu, Dita menjamin ti­dak ada yang berubah dari di­ri­nya. Delapan belas tahun menjadi aktivis buruh bukanlah waktu yang singkat. Selama itu karak­ter­nya ditempa berbagai peristiwa.

“Apa yang saya alami selama menjadi aktivis, telah mem­ben­tuk karakter saya. Fondasi ter­se­but sudah sangat kokoh, sehingga saya tidak mudah terpengaruh. Saya tidak akan mengkhianati apa yang telah saya jalani. Saya ogah disetir penguasa, tetap mem­bela buruh dengan mem­per­juangkan nasibnya. Tapi kalau ada yang skeptis, ya lihat saja nan­ti. Saya akan buktikan,” ujarnya.

Dita menuturkan, bukan tidak sedikit rekan-rekan aktivis yang mendukungnya ketika memilih bergabung ke dalam pemerintah. Sekalipun begitu, tidak sedikit juga yang menentang dan mencibirnya.

“Yang tidak mendukung me­nga­takan saya propemerintah dan neolib. Yang mendukung me­nga­ta­kan bahwa perlu teman di da­lam agar mereka gampang di­fa­si­litasi. Namanya demokrasi, se­tiap orang punya pandangan berbeda.”

Dita berharap, pihak-pihak yang tidak mendukungnya men­jadi birokrat tidak sekedar meng­kritisi dan mencurigai. Alangkah baiknya, lanjutnya, jika hal itu di­sam­paikan dalam bentuk ma­su­kan, saran dan gagasan kepada dirinya.

Dia menyatakan, waktu yang akan membuktikan. ‘’Saya bisa ngomong apa saja, nanti kan orang bisa menilai. Teman-teman juga banyak datang ke sini me­ngadukan masalah, mereka bisa menilai. Apakah saya cukup me­nerima mereka dengan baik atau tidak, menyelesaikan masa­lah dengan baik atau tidak, saya tetap mau tahu dengan kesulitan-kesu­litan mereka atau tidak. Biar wak­tu yang akan membuktikan, apa­kah idealisme itu luntur atau tidak.”

Bekas Ketua Umum Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD) ini me­ngaku masih membina hu­bu­ngan baik dengan re­kan-re­kannya se­masa menjadi aktivis. Dengan ke­ha­di­ran­nya di Ke­me­naker­trans, se­makin mem­per­mu­dah rekan-re­kan aktivis mengu­rus berbagai hal.

“Mereka tinggal telpon lalu janjian, semuanya jadi lebih mudah. Kita lihat juga dari aspek itu, ke­beradaan saya disini mem­per­mudah me­reka, bukan mem­persulit.” [rm]


Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

UPDATE

Olah TKP Freeport

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:16

Rismon Rela Dianggap Pengkhianat daripada Menyembunyikan Kebenaran

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:14

Bandung Dalam Diplomasi Konfrontasi dan Kemunafikan Diplomasi

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:05

Roy Suryo Tegaskan Permintaan Maaf Rismon ke Jokowi Bersifat Pribadi

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:00

KPK Panggil Pengusaha James Mondong dalam Kasus Suap Impor di Bea Cukai

Jumat, 13 Maret 2026 | 13:54

Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras

Jumat, 13 Maret 2026 | 13:47

EMAS Rampungkan Fase Konstruksi, Fokus Kejar Target Produksi

Jumat, 13 Maret 2026 | 13:40

DPR Jangan Pilih Lagi Anggota KPU yang Tak Profesional!

Jumat, 13 Maret 2026 | 13:29

Kapolri dan Panglima TNI Pantau Pelabuhan Merak Via Helikopter

Jumat, 13 Maret 2026 | 13:23

Trump Yakin Pemimpin Baru Iran Masih Hidup tapi Terluka Parah

Jumat, 13 Maret 2026 | 13:17

Selengkapnya