RMOL. Pebulutangkis Taufik Hidayat rupanya tidak mampu menutupi kekecewaan atas prestasi buruk yang ditunjukkan para pemain muda Indonesia. Bekas pemain Pelatnas itu menjadi wakil Indonesia satu-satunya di tunggal putra yang tersisa pada Djarum Indonesia Open Super Series 2011 di Istora, Senayan, Jakarta.
Kecemasan dan kegeraman Taufik di even bergengsi tersebut cukup beralasan. Karena, lima pemain muda Indonesia; Simon Santoso, Dionysius H Rumbaka, Alamsyah YuÂnus, Tommy SuÂgiarto langsung tumÂbang di babak pertama. BahÂkan, Sony Dwi KunÂcoro diperÂmalukan setelah gagal di babak kualifikasi.
Kini, Taufik yang menempati unggulan ketiga harus berjuang sendirian setelah mengalahkan pemain China, Bao Chunlai 21-19, 25-23 di babak kedua dalam waktu 49 menit.
Menurutnya, kemenangan atas Bao Chunlai membuktikan bahÂwa pemain tua tidak seharusnya mundur dari arena kalau pemain muda belum mampu mengungÂguli peÂmaÂin senior.
“Akhir-akhir ini banyak deÂsakan di masyarakat yang meÂminta pemain-pemain tua munÂdur untuk memberikan kesemÂpatan kepada yang lebih muda. Saya sebetulnya ingin memberi kesemÂpatan itu, namun prestasi pemain mudanya mana?†kata Taufik yang kini berusia 29 tahun.
Menghadapi Bao Chunlai Taufik tampil terseok-seok di awal gim pertama maupun gim kedua. Namun ketenangan, kesaÂbaran, dan kematangan membuat Taufik mampu mengungguli Bao Chunlai pada poin-poin kritis.
“Saya hanya ingin membukÂtikan bahwa saat ini saya masih yang terbaik dan belum dapat diÂkalahkan oleh para pemain muÂda. Jadi janganlah repot-repot meÂnyuruh saya mundur untuk memÂberi kesempatan kepada yang muda,†kata peraih emas Olimpiade Athena 2004 itu.
Taufik mengaku akan mundur dengan senang hati jika ada peÂmain muda yang mampu mengÂgeÂÂser posisinya. “Silakan kaÂlahÂkan saya, maka saya akan munÂdur dengan senang hati. Saat ini saya bermain hanya untuk keÂseÂnangan diri saya dan kemajuan buÂlutangkis Indonesia,†tandasnya.
Langkah Taufik untuk meraih gelar ketujuh di turnamen DjaÂrum Indonesia Open Super SeriÂes ini cukup berat. Selanjutnya, dia akan menghadapi Peter Gade (DenÂmark) yang menyingkirkan pemain Korea Selatan, Shon Wan Ho 21-15, 21-19.
Di tunggal putri, Adrianti FirÂdasari juga menjadi satu-satunya wakil ‘Merah Putih’ yang menÂjajaki perempat final. Firda mamÂpu menyelamatkan muda InÂdonesia setelah mengalahkan pemain Taiwan, Tzu Ying Tai 19-21, 21-14, 21-14.
“Saya bersyukur bisa menang dan lolos ke perempat final. ApaÂlagi kita main di rumah sendiri. Yang jelas saya cukup bangga kaÂrena harus berangkat dari kuaÂlifikasi,†kata Firda.
Di sektor ganda campuran, Indonesia menempatkan dua waÂkilnya ke babak perempatÂfinal melalui pasangan Tontowi AhÂmad/Liliyana ‘Butet’ Natsir dan Frans Kurniawan/Pia Zebadiah.
Tantowi/Butet menang atas pasangan Jepang, Shoji Sato/Shizuka Matsuo 21-8, 21-12 daÂlam waktu 23 menit. SelanjutÂnya, mereka akan ditantang paÂsaÂngan China, Yu Yang/He HanÂbin yang mengalahkan pasangan Jepang lainnya, Ikeda Shintaro/Shiota Reiko 26-24, 16-21, 21-12.
Sedangkan, tiket perempatÂfinal Frans/Pia diraih setelah meÂngalahkan rekannya sesama InÂdonesia Muhammad Rijal/DebÂby Susanto 21-14, 19-21, 21-15.
Sementara di ganda putra, pasangan Mohammad Ahsan/Bona Septano dan Angga PrataÂma/Ryan Agung Saputra juga mengamankan tiket perempat final. Ahsan/Bona menang 21-19, 16-21, 21-12 dari pasangan Taiwan, Chieh Min Fang/Sheng Mu Lee, sementara Angga/Ryan mengalahkan unggulan kedua asal Jepang, Jae Sung Jung/Yong Dae Lee 21-17, 21-17.
[rm]