Berita

Valentino Rossi

Olahraga

Rider MotoGP Ngeri Balapan di Jepang

SENIN, 16 MEI 2011 | 06:30 WIB

RMOL. Para pembalap MotoGP, ter­masuk Valentino Rossi, khawatir de­ngan rencana penjadwalan ulang balapan di Jepang. Pasal­nya, isu bencana dan radiasi nuk­lir di negeri sakura itu belum ber­akhir.

Balapan MotoGP Jepang di sir­kuit Motegi yang menjadi seri ketiga pada kalender musim ini  se­harusnya berlangsung 24 April lalu. Pemegang hak komersial MotoGP, Dorna, terpaksa me­mu­tuskan menundanya pada 2 Oktober. Hal tersebut dikarena­kan bencana gempa bumi dan tsu­nami yang menghancurkan ne­gara itu pada  Maret lalu.

Rossi menegaskan para rider MotoGP juga takut jika harus mem­balap di Motegi. Mereka takut terkontaminasi radiasi nuk­lir. “Banyak rider datang ke saya dan mereka mengatakan takut ke Motegi. (Jorge) Lorenzo bilang tidak ingin ke sana, dan rider lain­nya juga tidak senang,” ujar Rossi seperti dilansir Autosport.


Walaupun mulai pulih, namun Rossi dan para pembalap lainnya tidak yakin masalah di Jepang ber­akhir. Bahkan, mereka tidak mau balapan, jika masalah radia­si nuklir di Fukushima, tidak ju­ga terselesaikan oleh pemerintah setempat.

“Bos MotoGP Carmelo Ez­pe­leta mengatakan kemarin, me­re­ka ingin tetap menggelar balapan MotoGP Jepang. Dikarenakan situasi di sana sudah tenang dan pemerintah mulai memperbaiki lintasan yang rusak akibat gempa itu,” kata Rossi.

“Saya pikir ini situasi sulit. Ma­salah yang sulit diperbaiki. Be­lum resmi, saya pikir kami akan memutuskan Juli menda­tang. Tapi, kami harus memutus­kan yang terbaik untuk setiap rider,” lanjut Rossi.

The Doctor menilai jika Dorna tetap memaksakan balapan di Jepang, namun situasi di sana tidak memungkinkan, maka ke­mungkinan besar para rider dan tim MotoGP akan melakukan boikot.   [RM]

Rossi takut terkena radiasi nuklir. “Saya sedikit takut ke Je­pang, tapi tidak tahu banyak mengenai kekuatan nuklir. Entah seperti apa resiko sebenarnya. Kami harus mengerti situasi­nya,” katanya. [RM]

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

UPDATE

PBB Harus Bertindak Usai TNI Gugur dalam Serangan Israel

Senin, 30 Maret 2026 | 16:08

Apel Perdana Pasca Lebaran, Sekjen DPD Minta Kinerja Pegawai Dipercepat

Senin, 30 Maret 2026 | 16:06

Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR: Ini Menyakitkan

Senin, 30 Maret 2026 | 16:04

Penerbangan Langsung Tiongkok-Korut Kembali Dibuka Setelah Vakum Enam Tahun

Senin, 30 Maret 2026 | 16:04

Cak Imin Kritik Cara Pandang Aparat dalam Kasus Amsal Sitepu

Senin, 30 Maret 2026 | 16:01

Pemprov DKI Segera Susun Aturan Turunan PP Tunas

Senin, 30 Maret 2026 | 15:53

Lebaran Selesai, Kemenkop Gaspol Operasionalisasi Kopdes Merah Putih

Senin, 30 Maret 2026 | 15:45

Komisi II Kulik Proker hingga Renstra KPU-Bawaslu-DKPP

Senin, 30 Maret 2026 | 15:40

Target Pengesahan RUU Hukum Acara Perdata Masih Abu-Abu

Senin, 30 Maret 2026 | 15:31

Wamenhaj RI Bahas Antisipasi Biaya dan Logistik Haji 2026 dengan Arab Saudi

Senin, 30 Maret 2026 | 15:29

Selengkapnya