Berita

TERORISME

Lagi, Kekosongan Ideologi Jadi Faktor yang Dilupakan Pemerintah

SABTU, 30 APRIL 2011 | 15:12 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Pertumbuhan dan pertambahan sel yang sangat cepat dari kelompok radikal berbasis agama Islam bersumbu pada ideologi Negara Islam. Cita-cita Negara Islam itu yang menghubungkan satu kelompok dengan kelompok lain seperti Jamaah Islamiyah dan Negara Islam Indonesia maupun generasi teroris yang baru lahir akhir-akhir ini.

Di dalam ideologi negara Islam, menurut intelektual muda Nahdlatul Ulama Zuhairi Misrawi, terdapat klausul yang mengkhawatirkan yaitu bahwa klausul negara dalam situasi perang. Itulah yang digunakan kelompok radikal Islam untuk melawan rezim berkuasa.

"Ini persoalan paham keagamaan di dalam Islam. Ideologi negara Islam adalah ideologi Islam kontemporer baru muncul saat kelompok besar seperti ikhwanul muslimin dan revolusi Iran lahir. Padahal, tidak ada dalam Islam klasik yang membenarkan pandangan negara Islam," tegasnya dalam acara Polemik di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (30/4).


Untuk menangkal itu, sebenarnya Indonesia punya jawabannya yaitu Pancasila. Dalam Pancasila negara dibangun berdasarkan konsensus atau dalam Islam disebut Syuro.

"Menurut saya solusi yang terbaik, sekali lagi adalah kembali pada Pancasila dan ikuti sunnah politik para pendiri bangsa. Tidak perlu cari kitab lain," katanya.

Gangguan radikalisme agama akan semakin besar kalau ada pembiaran tanpa counter ideology dari negara.

"Selama tidak ada antitesa makanya terjadi massifikasi. Ini wilayah ideologi, harusnya ada counter," jelasnya.

Dalam kesempatan sama, Sosiolog Universitas Islam Bandung Prof. DR. Abdurachman, mengatakan, penangkalan terhadap ideologi negara Islam harus pula dilakukan dalam dunia pendidikan nasional.

Sementara di waktu yang berbeda, ekonom senior Dr. Rizal Ramli, mengatakan, radikalisme dipicu oleh kegagalan pemerintah di satu sisi, dan di sisi lain kekosongan ideologi setelah “ideologi nasionalisme” yang semestinya berujung pada pendekatan kesejahteraan yang digunakan untuk mendasari keputusan dan kebijakan politik negara malah dipalsukan oleh rezim penguasa. Nasionalisme hanya dijadikan barang pajangan untuk memantas-mantaskan penampilan rezim semata.

Nasionalisme hanya dijadikan wacana di awang-awang. Sementara pada realitanya, kebijakan pemerintah tidak berpihak pada semua rakyat, melainkan hanya pada sebagian kecil rakyat. Tidak berpihak pada kepentingan nasional, melainkan pada kepentingan kaum korporat dan konglomerat yang memanfaatkan kampanye globalisasi untuk menumpuk kekayaan di kalangan mereka.

Nasionalisme palsu ala pemerintahan SBY-Boediono gagal menambah lapangan pekerjaan yang dapat digunakan rakyat untuk menopang kehidupan diri dan keluarganya, juga gagal mengurangi jumlah penduduk miskin, sebaliknya justru berhasil memperlebar jarak antara kelompok berpunya dan kelompok tak berpunya yang jumlahnya adalah sebagian besar.[ald]


Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Cerita Zulhas, Numpang Helikopter TNI ke Bogor

Kamis, 17 September 2026 | 21:47

Hari Transportasi Nasional, Momentum Wujudkan Kedaulatan Energi Bersama Program B50

Kamis, 17 September 2026 | 21:17

Ulasan Buku: Sumbangan Filsafat dari Indonesia untuk Dunia yang Kehilangan Makna

Kamis, 17 September 2026 | 21:15

KPK Amankan Dokumen dan Bukti Elektronik dari Penggeledahan di Kementerian ATR/BPN

Kamis, 17 September 2026 | 20:53

Bahlil Pastikan BUK Pengganti SKK Migas Langsung di Bawah Presiden

Kamis, 17 September 2026 | 20:41

Haji Isam Borong 10 Miliar Saham Bayan Resources

Kamis, 17 September 2026 | 20:21

Prabowo Pimpin Sidang Dewan Energi Nasional, Dorong Persiapan Produksi E50

Kamis, 17 September 2026 | 20:04

Ekoteologi PTKIN Raih Penghargaan UI GreenMetric 2026

Kamis, 17 September 2026 | 19:44

Ratusan Karyawan PT HD Arjuna Tuntut Kembali Bekerja

Kamis, 17 September 2026 | 19:44

Bahlil Akui Kasus Korupsi Fahd A Rafiq Musibah bagi Golkar

Kamis, 17 September 2026 | 19:38

Selengkapnya