Berita

Adhie M Massardi

WikiLeaks, Tsunami, Korupsi

Oleh Adhie M. Massardi
RABU, 16 MARET 2011 | 07:23 WIB

WIKILEAKS, tsunami, korupsi. Iniah tiga kata yang sekarang paling banyak diucapkan rakyat Indonesia. Sebab dengan memilih salah satu saja dari tiga kata itu, kita bisa masuk dalam percakapan panjang dan berliku-liku. Tapi ujung-ujungnya tetap ke situ-situ juga: Pusat Kekuasaan.

Yang menarik, meskipun rakyat Indonesia belum memasuki era “Galaksi Internet”, WikiLeaks menjadi topik pembicaraan paling ramai. Bukan hanya di di kafe-kafe, tapi juga di warung-warung kopi pinggir jalan, di ruang-ruang tunggu, bahkan di pos-pos ronda di kampung-kampung.

Satu lagi yang menaik dari WikiLeaks. Situs yang dikelola Julian Assange serta aktivis gerakan perubahan RRChina bernama Wang Dan (salah satu tokoh demonstrasi Tienanmen, 1989) ini, dipopulerkan oleh dua koran terkemuka Australia: The Age dan The Sydney Morning Herald. Padahal masyakat kita kan bukan masyarakat berbahasa Inggris.

Apa yang diungkap situs pembuka rahasia kelam rezim-rezim dzolim di muka bumi ini, yang bagian kedzoliman penguasa Indonesia dipublikasikan dua koran Negeri Kanguru, dan dipancarluaskan oleh hampir semua media massa yang ada di republik ini, ternyata tidak menimbulkan kontroversi di tingkat akar rumput.

Karena yang gegeran, yang kebakaran jenggot, yang merasa terhina, terpukul dan masygul adalah (hanya) orang-orang yang berada di pusat kekuasaan, kita menjadi mudah mencerna dan menyimpulkan kualitas dan akurasi hasil sadapan WikiLeaks dari laporan hasil pemantauan para diplomat Amerika Serikat ke bos mereka di Washington DC sana.

Bagi para aktivis mahasiswa, aktivis prodemokrasi, aktivis pergerakan, aktivis gerakan antikorupsi, serta para pemuka agama, tokoh masyarakat, dan para politisi yang kritis terhadap penguasa, apa yang diungkap WikiLeaks yang kemudian disiarkan dua koran bergengsi Australia itu, nyaris tak ada yang baru. Semuanya merupakan fakta, yang menjadi pemandangan sehari-hari, sampai hari ini.

Tak ada yang aneh dan baru soal penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power), intervensi penguasa terhadap lembaga-lembaga hukum, memakai institusi negara untuk meredam lawan-lawan politik, mafia hukum, mafia ekonomi, penguasa menjadi broker politik yang melahirkan korupsi terlindungi, demokrasi kriminal yang melahirkan para kriminal...

Karena itu, produk “media investigasi baru” WikiLeaks, bagi kebanyakan rakyat Indonesia, kelasnya tak lebih dari sekadar “pengorfirmasi” apa yang kita dengar, kita lihat, dan kita rasakan selama ini. Jadi berbeda dengan di masa lalu, di masa Orba, berita dari “luar” sering merupakan berita baru yang di dalam negeri ditutup-tutupi.

Kalau toh ada fungsi lain, WikiLeaks lebih tepat diibaratkan defibilator (defibrillator), alat kejut jantung dengan listrik tegangan tinggi, untuk merangsang agar jantung bisa berdenyut kembali.

Benar, sekarang Republik Indonesia memang seperti negeri yang jantungnya sedang berhenti berdenyut akibat berbagai komplikasi (korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, inkopetensi, demoralisasi). Sehingga sistem syaraf untuk menggerakan seluruh tubuh negara tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Organisasi nonpolitik seperti PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia), adalah miniatur Indonesia yang sedang dijangkiti anomali dan demoralisasi di semua lini, sehingga mekanismenya juga tidak berjalan. Maka PSSI juga perlu defibilator (statuta FIFA) untuk merangsang agar jantungnya bisa berdenyut lagi.

Mudah dibayangkan, apa yang terjadi jika penggunaan defibilator tak juga membuat jantung Indonesia berdenyut kembali. [**]


Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Blusukan Jokowi Sulit Naikkan Suara PSI, Apalagi Goyang PDIP

Senin, 01 Juni 2026 | 04:00

UPDATE

13 Langkah Komprehensif Kuatkan Rupiah

Rabu, 03 Juni 2026 | 06:11

Dua Guru Magelang Didakwa Korupsi Modus Pungli Peserta PPG

Rabu, 03 Juni 2026 | 06:00

Bukan Dapur Asal Ngebul

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:26

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

Putusan MK soal Keterwakilan Kuota Perempuan Berikan Keadilan Gender

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:14

Syafrin Liputo Dituntut Bawa Jaksel Lebih Maju, Inklusif, dan Sejahtera

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:01

2.081 Polisi Kawal Ketat Piala AFF U-19 2026

Rabu, 03 Juni 2026 | 04:22

Korban Kebakaran Kemayoran

Rabu, 03 Juni 2026 | 04:19

Multipolaritas Harus Jadi Jalan Kerja Sama, Bukan Konfrontasi

Rabu, 03 Juni 2026 | 04:09

KDM Sikat PKL Usai 30 Tahun Berkuasa di Bandung

Rabu, 03 Juni 2026 | 03:45

Selengkapnya