Berita

megawati/ist

Menanti Surat Megawati Soekarnoputri untuk KPK

SENIN, 21 FEBRUARI 2011 | 07:38 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Dua politisi PDI Perjuangan yang terlilit kasus suap cek pelawat dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Max Moein dan Poltak Sitorus, meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menghadirkan Megawati Soekarnoputri sebagai saksi a de charge (yang meringankan).

Max Moein dan Poltak Sitorus menilai kesaksian Megawati penting untuk menjelaskan duduk perkara 10 lembar cek pelawat senilai Rp 500 juta yang mereka terima. Menurut mereka cek itu untuk pemenangan duet Megawati-Hasyim Muzadi pada Pilpres 2004, dan bukan sebagai suap untuk memenangkan Miranda Swaray Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior BI. Cek digunakan, antara lain, untuk membeli atribut kampanye Mega-Hasyim.

"Tidak ada hubungannya dengan Miranda. Itu untuk kampanye Mega-Hasyim," ujar Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Petrus Selestinus yang juga menjadi pengacara Max Moein dan Poltak.


Selain itu, masih menurut mereka, mendengarkan kesaksian Megawati juga penting untuk mengetahui pemilik dan asal cek pelawat, yang sampai saat ini belum diproses oleh KPK.

"Beliau (Megawati) pasti tahu," ucap Max Moein sekali waktu memastikan.

KPK kemudian memanggil Megawati untuk hadir sebagai saksi yang meringankan (Jumat, 18/2). Rencananya Ketua Umum PDI Perjuangan itu akan diperiksa penyidik KPK hari ini (Senin, 21/2).

Namun di hari yang sama (Jumat, 18/2), Megawati langsung memastikan tidak akan memenuhi panggilan KPK tersebut. Megawati beralasan tidak mengetahui soal pemilihan Deputi Gubernur Senior BI tahun 2004 sehingga tidak relevan memeriksanya sebagai saksi yang meringankan.

"Hari Senin kita (DPP PDI Perjuangan) akan mengantar surat (alasan ketidakhadiran Mega) ke KPK," kata Ketua DPP PDI Perjuangan, Trimedya Panjaitan (Jumat, 18/2).

Trimedya pun memastikan  bahwa yang akan mengirim surat Megawati ke KPK adalah dirinya, Tjahyo Kumolo dan Gayus Lumbuun.

Sementara itu, sikap KPK sudah jelas tidak akan mempermasalahkan ketidaksanggupan Megawati untuk hadir dan memberikan kesaksian. Sejak awal KPK tidak ngotot agar Megawati mau buka mulut terkait kasus suap cek pelawat yang melibatkan beberapa kader Partai Banteng Moncong Putih itu.

"Datang atau tidak terserah Bu Megawati. Sebagai saksi a de charge atau saksi yg meringankan yang diminta tersangka, dalam kaitannya dengan penyidikan kasus ini, KPK tidak berkepentingan dengan keterangan Bu Megawati," tegas Juru Bicara KPK Johan Budi SP (Sabtu, 19/2)

Tidak puas dengan ketidakhadiran Megawati, kubu Max dan Poltak meminta KPK berani menerapkan upaya paksa terhadap Megawati jika tidak datang, termasuk mengantisipasi kemungkinan Megawati dikenakan Pasal 21 UU tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi karena telah menghalang-halangi, atau menghambat proses penyidikan dalam kasus tindak pidana korupsi. Tapi KPK tak bergeming. Seruan Kubu Max dan Poltak tidak bisa dipenuhi KPK. KPK memastikan tidak akan memanggil paksa puteri Bung Karno itu.

"Gak ada (pemanggilan paksa), itu saksi ad decharge (saksi yang meringankan). KPK hanya melaksanakan kewajiban pasal 65 KUHAP," jelas Johan Budi SP.

Terlepas dari perdebatan hukum keperluan memanggil paksa Megawati, alangkah bijak kalau semua pihak menunggu terlebih dahulu apa isi surat resmi dari Megawati yang akan dikirim ke KPK hari ini. [yan]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

UPDATE

Komisi I DPR: Kisruh Rating IGRS di Steam Picu Kegaduhan

Rabu, 08 April 2026 | 19:50

JK Jangan jadi Martir Pemecah Belah Bangsa

Rabu, 08 April 2026 | 19:41

Narasi Pesimis di Tengah Gejolak Global Ganggu Stabilitas Nasional

Rabu, 08 April 2026 | 19:19

Ulama Dukung Wacana BNN Larang Vape

Rabu, 08 April 2026 | 19:18

KAMMI: Kerusakan Lingkungan Tidak Bisa Selesai di Ruang Diskusi

Rabu, 08 April 2026 | 19:05

WFH Momentum Perkuat Layanan Digital

Rabu, 08 April 2026 | 19:02

Motor Listrik Operasional SPPG Sudah Direncanakan Sejak 2025

Rabu, 08 April 2026 | 19:00

Harus Melayani, Kader PKB Jangan jadi Tamu 5 Tahunan

Rabu, 08 April 2026 | 18:51

JK Minta Jokowi Tunjukkan Ijazah Asli Buat Akhiri Polemik

Rabu, 08 April 2026 | 18:44

7 Menu Warteg Paling Dicari Orang Indonesia

Rabu, 08 April 2026 | 18:42

Selengkapnya