Berita

60 Ribu Pendatang Bakal Sesaki Ibukota

3 Juta Warga Jakarta Yang Mudik Bawa Sanak Saudara
RABU, 15 SEPTEMBER 2010 | 09:32 WIB

Pasca Lebaran, penduduk DKI Jakarta diprediksi melonjak sebanyak 60 ribu jiwa. 3 juta jiwa warga Jakarta yang mudik membawa sanak saudaranya ke Ibukota untuk mengadu nasib. Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengancam akan memulangkan kaum urban yang tidak punya kerjaan di Jakarta.

Sudah jadi tradisi arus balik pe­rayaan Idhul Fitri diikuti ledakan jumlah penduduk di Jakarta. Ma­syarakat Ibukota yang mudik saat Lebaran, datang ke Jakarta lagi dengan menyertakan sanak sau­da­r­anya, untuk ikut mengadu nasib di Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bo­wo, mencatat masyarakat Ja­karta yang mudik ke beberapa dae­rah di Jawa dan Sumatera ta­hun ini mencapai 3 juta jiwa.


Pasca Lebaran penduduk di Ja­karta dipastikan bakal makin pa­dat. Diprediksi 60 ribu jiwa kaum urban bakal masuk Ibukota untuk ikut mengadu nasib, mengais rezeki di Jakarta.

Jika diamati, sejak tiga tahun ter­akhir memang tren urbanisasi pasca Lebaran menurun. Namun, penurunan angka urbanisasi itu tak selamanya berarti baik.

Fauzi Bowo malah mem­per­kirakan beban Jakarta akan se­makin meningkat, karena dipicu ju­ga oleh pertumbuhan penduduk di empat wilayah penyanggah Ja­kar­ta yakni; Bogor, Depok, Ta­nge­rang, dan Bekasi (Bodetabek).

“Statistik menunjukkan, angka pertumbuhan penduduk di Bekasi, Tangerang, Bogor, dan De­pok jauh lebih tinggi diban­ding­kan dengan di Jakarta,” kata pria yang akrab disapa Bang Foke ini.

Umumnya, dijelaskan Foke, kaum urban yang ingin mencari nafkah di Jakarta memilih tidak langsung berdomisili di Jakarta, melainkan bermukim dulu di kediaman sanak saudaranya di wilayah Bodetabek.

Untuk itu, Foke mengancam akan memulangkan kaum urban yang datang ke Jakarta dengan mengang­gur alias belum punya pekerjaan.

Bang Kumis- sapaan buat Bang Foke, sudah menyiapkan rencana peningkatan pengawasan terha­dap para pendatang baru, salah sa­tunya dengan menggelar Ope­rasi Yustisi Kependudukan (OYK).

Foke mengungkapkan, Pem­prov DKI Jakarta berencana meng­gelar OYK serentak di lima wilayah Ibukota pada H+7 alias sepekan setelah Lebaran.

Sementara itu, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta, Franky Mangatas Pandjaitan, mempre­diksikan  kaum urban yang da­tang saat arus balik mencapai 60 ribuan jiwa.

“Prediksi ini berdasarkan tren pe­nurunan setiap tahunnya jum­lah pendatang baru,” kata Franky.

Untuk memantau pendatang baru saat arus balik yang di­pre­diksi mencapai puncaknya pada H+7 Lebaran, Franky menge­rah­kan aparat petugas Dinas Duk­capil untuk melakukan uji petik simpati kependudukan di ter­minal bus dan stasiun kereta api.

“Petugas akan mendata saja, tidak menangkap pendatang baru. Penangkapan pada arus balik tidak ada gunanya,” ujarnya.

Setelah itu, diikuti dengan OYK dilakukan serentak di lima wilayah DKI Jakarta.

“Tentu saja, tujuan operasi bukan untuk menakuti. Melain­kan hanya untuk mengingatkan pendatang baru agar segera me­lengkapi syarat administrasi kependudukan sesuai dengan aturan yang ada,” imbuhnya.

Dinas Dukcapil akan me­nga­wasi langsung daerah-daerah yang mengalami lonjakan jumlah pen­duduk tinggi. “Dengan be­gitu kita bisa tahu langsung, jika ter­jadi peningkatan jumlah warga se­cara sig­nifikan,” katanya.

Tak sampai di situ, Pemprov DKI Jakarta juga berupaya me­ngantisipasi ledakan penduduk. Deputi Gubernur DKI Bidang Pengendalian Kependudukan dan Pemukiman, Margani M Mustar, mengatakan Pemprov DKI Ja­karta akan memperketat pem­buat­an Kartu Tanda Pen­duduk (KTP).

“Kita buat syaratnya seketat mungkin. Selama masih me­me­nuhi persyaratan, pembuatan KTP masih diperbolehkan. Ke­bi­jakan ini bukan bermaksud me­larang para pendapatang mem­buat KTP lho,” katanya.

Sebenarnya, menurut Margani, persoalan urbanisasi bukan semata-mata tanggung jawab Pemprov DKI. Pemerintah pusat harus ikut andil untuk mengatasi per­soalan ini.

Operasi Yustisi Cuma Usir Asap, Tak Padamkan Api
Imam B Prasodjo, Sosiolog Universitas Indonesia

Pemerhati masalah sosial ini menilai fenomena lonjakan jumlah penduduk Ibukota selepas Lebaran adalah konsekuensi dari adanya ketimpangan pemba­ngunan antara pusat dan daerah.

“Selama ini pembangunan ha­nya terkonsentrasi di kota. Di de­sa miskin pembangunan, sektor pertanian tidak berkembang, pe­nguasaan tanah tidak terdis­tri­busi dengan baik, lapangan kerja tidak memadai, makanya Jakarta men­jadi harapan utama bagi mereka,” kata Imam kepada Rakyat Merdeka.

Padahal, menurut Imam, struk­tur usia penduduk produktif ke­banyakan ada di desa. Sa­yang­nya, potensi itu tidak didukung oleh pendidikan.

Untuk menekan angka ur­ba­nisasi, potensi perdesaan harus dio­ptimalkan. “Tapi sayangnya, Pemdanya nggak cerdas melihat itu, jadi penduduknya banyak yang lari ke kota deh,” imbuhnya.

Imam mengkritik, langkah Pemprov DKI Jakarta yang hanya menggelar OYK untuk me­ngen­dalikan ledakan jumlah penduduk pasca Lebaran.

Dia bilang, ibarat mengenda­li­kan kebakaran, OYK cuma sang­gup mengusir asapnya, tapi tak sanggup memadamkan apinya. 

“Operasi yustisi merupakan permainan anggaran DKI Jakarta, untuk penghidupan Satpol PP, mereka juga tahu itu nggak efek­tif, anggap saja uang THR pasca le­baran,” katanya sembari tertawa.

Imam berharap, Pemprov DKI Jakarta mampu melakukan ker­ja­sama ekonomi dengan daerah. Ten­tunya langkah itu juga harus didukung oleh pemerintah pusat dengan jalan melakukan peme­rataan pembangunan.

“Misalnya, pasar induk tak usah lagi di Kramat Djati, tem­pat­kan saja di daerah. Tempat pe­motongan hewan kasih saja di Ci­legon, kan jalan Jakarta-Cilegon sudah bagus. Jadi semuanya tidak numplek di Jakarta,” tandasnya. 

Sementara itu, pengamat per­kotaan, Yayat Supriatna me­nam­bahkan, ledakan jumlah pen­du­duk di Jakarta tentunya akan banyak menimbulkan persoalan di Ibukota. Jakarta akan semakin padat dan terjadi degradasi ling­ku­ngan yang sangat parah. Yang paling berbahaya, menurut Yayat, adalah terkait pemenuhan ke­bu­tuh­an air minum bagi warga Jakarta.

Karena selama ini, Pemprov baru sanggup memenuhi layanan air minum sekitar 60 persen, sisanya belum ter-cover. “Angka 60 persen itu pun dengan tingkat kebocoran yang hampir mencapai 50 persen,” katanya.

Dengan makin bertambahnya penduduk kota dan tak diikuti dengan pemenuhan berbagai kebutuhannya termasuk air minum, maka kemungkinan besar akan terjadi eksploitasi besar-besaran air tanah.

“Hal ini akan menyebabkan am­blasnya permukaan tanah di Ja­karta. Di samping perma­sa­lahan klasik di Jakarta seperti banjir dan macet tidak akan ter­selesaikan,” tambahnya.

Karena itu, sambung Yayat, perlu langkah inovatif untuk keluar dari permasalahan rumit Ibukota. Salah satunya wacana pemindahan Ibukota, harus segera direalisasikan. Karena, saat ini saja Jakarta sudah over capacity.

Perda Ada, Tinggal Ketegasan Foke-nya   
AM Fatwa, Anggota DPD Asal DKI Jakarta

Menanggapi lonjakan pen­duduk pasca Lebaran Se­nator Ibukota ini dengan en­tang me­nga­takan itu adalah tu­gas dan tan­tangan bagi Gu­bernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.

“Peraturan Daerah untuk mengendalikan penduduk Jakarta sudah ada, tinggal ba­gai­mana langkah tegas dari Gu­bernur Fauzi Bowo dalam men­jalankan operasi yustisi,” kata­nya kepada Rakyat Merdeka.

Dipaparkan Fatwa, setiap tahunnya penduduk Jakarta selalu bertambah, jika terus di­diamkan dan tak ada tin­dakan tegas, Jakarta bakal sum­pek, tak ada la­gi ke­nya­manan di Ibukota.

Fatwa mengakui, memang Ja­karta masih menjadi magnet kuat bagi penduduk daerah, na­mun lonjakan penduduk di Ja­karta juga harus tetap dikendalikan.

Karena padatnya penduduk Ibu­­kota nantinya bakal ber­pe­ngaruh dengan tingkat kese­jah­­teraan. Memang masalah ke­­mis­­kinan tak bisa diha­pus­kan, tapi paling tidak secara ber­tahap bisa ditekan.

“Kemiskinan juga nggak bo­leh dipertontonkan apalagi dide­­mons­trasikan. Bagaimana ceri­ta­­nya, para pengemis ada yang mempunyai penghasilan Rp 300 ribu per hari. Jadi, OYK di sam­ping untuk mengatasi ledakan penduduk, juga harus me­ner­tibkan pengemis,” tambahnya.

Selama ini, menurut Fatwa, belum ada tindakan konkret dari Pemprov untuk menanggulangi persoalan kemiskinan di Ibukota. “Padahal orang miskin bisa sejahtera, kalau tertib hidupnya.”

Terkait pengetatan pembuat­an KTP DKI Jakarta, Fatwa menilai keterlaluan jika masih saja ada oknum pemerintah daerah yang memanfaatkan momentum lon­jakan penduduk untuk men­cari uang tambahan. “Untuk itu harus ada reformasi birokrasi se­cara khusus di jajaran Pemprov DKI Jakarta,” pungkasnya.  [RM]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya